Postingan

tanabata : mulai buram

menuju akhir periode, aku tidak banyak punya kesibukan di kampus selain mengurusi beberapa keperluan pengawasan untuk agenda besar tahunan uiversitas. beberapa info untuk diskusi sempat ku tolak sebab merasa tidak enak badan, beberapa hari lalu aku baru saja menuntaskan rangkaian puncak latihan kepemimpinan. aku sudah sampai di tahap tingkat lanjut. dan aku merasa butuh istirahat sejenak. . sebenarnya hanya alasan saja, tapi ya bagaimanalah. aku pikir aku butuh beberapa hari untuk hibernasi. setelah hujan tengah malam waktu itu, aku sulit mendapat kabar seniorku. beberapa mas mbak yang masih berkabar mengatakan bahwa memang dia akhir-akhir ini tidak bisa ditemui bahkan sulit sekali di hubungi. aku tidak khawatir sebab seniorku yang satu itu memang punya pola sosialisasi nya sendiri. sore itu, aku berjalan sendirian. memutari danau kecil kampus dengan pakaian bangun tidur. wajahku hanya berpoles perona bibir sedikit, itupun nyaris tak terlihat. aku berniat bersantai sendirian menjelang ...

dalam kayu : terlihat jauh

 bagian 3 "ib, boleh tolong nyalakan mesin air?" selasa ke sekian, jadwal ku piket masak. sebenarnya, seluruh anggota kelompok ku sangat bertanggung jawab. dan biasanya mereka akan sangat bersemangat jika sudah jadwalnya masak. tapi hari ini, beberapa dari mereka sedang mengurus keperluan di balai desa untuk acara kami akhir pekan ini. jadi aku ditinggal bertugas sendirian. tidak lama. tapi lumayan. ketika ia berjalan terhuyung dengan handuk coklat kesayangannya menuju pintu kamar mandi di belakang, aku memintanya menyalakan mesin air agar kamar mandi disebelah sana juga menyala. pengalaman dari beberapa kali aku mandi, airnya selalu habis di tengah jalan. "tumben, sendirian" ia menghentikan langkahnya. melirikku sebentar. wajahku sudah tidak karuan, berkeringat. bau bawang, dan seluruh kesibukan ku di dapur. cukup berantakan, dan aku merasa jelek sekali. "engga kok, ini udah selesai" ia mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar kecil itu. sejak ...

tanabata : hujan pukul duabelas

Sepi menerpa Selimuti kabut jiwa Menjelma dirimu Dalam untaian kata rindu Semoga jarak yang terbentang ini Segera mereda Merubah rindu yang meradang ini Jadi kabar bahagia pukul setengah sembilan malam. tubuhku sudah lelah. "masih di kantor, mas. baru selesai meeting" sebuah direct massage ku kirim singkat pada seniorku. ada agenda ngopi lagi malam ini, tapi barangkali aku akan sedikit terlambat sebab meeting baru saja dirampungkan dan aku belum menuju lokasi.  "tunggu disitu" balasan yang tak lama kemudian ku terima. awalnya aku akan berangkat sendiri, tapi ia menawarkan diri untuk menjemputku dan datang bersama, maka aku tidak menolaknya sebab ku pikir pertemuan malam ini memang sebaiknya begitu saja. malam itu langit gelap sekali, sejak sore sudah berangin menunjukkan memang akan turun hujan. aku menyelesaikan shift magangku lebih lambat hari ini sebab ada rapat yang sedikit molor dari jadwalnya. sudah biasa begitu kalau di hari senin. kurang dari duapuluh menit...

tanabata : tulip kuning di bulan november

 Kasih sayangmu membekas Redam kini sudah pijar istimewa Entah apa maksud dunia Tentang ujung cerita Kita tak bersama Semoga rindu ini menghilang Konon katanya waktu sembuhkan Akan adakah lagi yang sepertimu Lagu tulus kesekian yang diputar di coffeeshop ini. Aku tidak jenuh karena lagunya, barangkali memang liriknya saja seperti orang sedang jatuh suka. Aku bukan tidak suka penyanyinya, bahkan jujur semua lagunya menyenangkan, namun di situasiku saat ini, canggung sekali diputar lagu semanis ini. "bagaimana kabarmu, faa?" Sebuah jamuan kopi tengah malam akhirnya terlaksana setelah manusia aneh itu sulit sekali dihubungi oleh seniorku. sebuah janji temu yang menjadi wacana beberapa bulan lalu sebelum dinyatakan menjadi demisioner. jujur pertemuan yang cukup canggung mengingat terakhir bertemu dengannya, aku sedang tidak dalam kondisi baik. ah kapan-kapan ku ceritakan padamu bahwa manusia aneh itu sempat memapah tubuh kecilku menuju klinik sebab kaki ku terluka dan kesulitan b...

dalam kayu : secangkir, jatuh hati

 Bagian 2 . I was just guessing at numbers and figures Pulling the puzzles apart Questions of science, science and progress Do not speak as loud as my heart . Aku sudah menutup hatiku rapat-rapat ketika pertama kali kakiku mulai melangkah untuk melanjutkan perjalanan semester ini sebagai mahasiswa kkn. Aku hanya ingin cepat mengakhirinya, dulu ku pikir seperti itu lebih baik. Sampai sebuah momen, ketika aku memberi kabar pada saudari kesayanganku, kakak angkat yang ku anggap seperti kandung kecintaanku, mereka bilang - kkn akan merubah sebagian dari pandanganku kedepannya. Maka jatuh cintalah disana, bersama warga desanya, bersama orang-orangnya, bersama semua momen dan semua yang kamu temukan disana. "Setidaknya, udah cape-cape kkn, kamu harus cinlok, faa..." ucap salah satunya pada sebuah momen ketika aku minggat dari posko. aku hanya tertawa, mana mungkin. aku tidak akan berfikir sejauh itu, atau kalaupun terlalu juah, maka lebih baik aku menyingkirkan rasa malu ku dan lar...

tanabata : bintang paling biru

Bagaimana cara merampungkan sebuah naskah? Aku juga bingung, tidak tau caranya. Sebab sejauh yang pernah ku tulis, sebanyak yang pernah ku baca, tidak pernah ada naskah yang benar-benar menyentuh akhirnya. Tidak ada yang pernah benar-benar menyentuh endingnya dengan baik, sebab akan selalu ada tambahan part, bagian, bab, dan potongan scene yang terakhir, terakhir, terakhir, terkahir lagi, terakhir lagi, lagi, dan yang terakhir, paling terkahir, kemudian terakhir. Barangkali ada sebuah part kecil yang lupa ku bagikan padamu, tentang bagaimana sebuah percakapan ringan tapi terasa begitu berat ketika kau mencoba mengingatnya. tentang bagaimana seseorang berusaha masuk kedalam hidupmu, perlahan, tidak mendobrak pintu, tidak berisik, tapi ketika kau buka pintunya orang itu tetap disana, tidak masuk, hanya membawa sebuah buket bunga. Kau boleh pilih bunga apa saja termasuk mawar, lily, ataupun tulip kuning kesukaanmu. Orang itu datang seolah memberi ruang agar kau mengisi bagian yang rumpang...

dalam kayu : raib, namanya

 Bagian 1 Loving can hurt, loving can hurt sometimes But it's the only thing that I know When it gets hard, you know it can get hard sometimes It is the only thing makes us feel alive . Sebuah amanah besar menjadi bagian dari masyarakat desa selama beberapa bulan untuk menyandang tugas sebagai mahasiswa yang mengabdi. Semester yang melelahkan menurutku. Agak sedikit menyesal sebab surat permohonan internshipku tidak segera mendapat balasan sehingga aku terpaksa harus mendaftar sebagai peserta terakhir di desa ini. Menyebalkan . Beberapa hari berlalu, yang ku syukuri hanyalah udara dan air sejuknya saja. Sebab, sosial energiku mudah sekali habis jika terlalu sering bertemu orang-orang. Melelahkan . Barangkali, kisah kali ini hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan sebuah kapal yang belum jelas ingin kemana bersanggah. Terus berlayar tanpa seorang navigator sebab inginnya hanya menuruti kemana arah angin bertiup. Aku mengikuti tiap hembusan itu, pelan dan sejuk. Meski sesekali kha...