Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2026

dalam kayu : terlihat jauh

 bagian 3 "ib, boleh tolong nyalakan mesin air?" selasa ke sekian, jadwal ku piket masak. sebenarnya, seluruh anggota kelompok ku sangat bertanggung jawab. dan biasanya mereka akan sangat bersemangat jika sudah jadwalnya masak. tapi hari ini, beberapa dari mereka sedang mengurus keperluan di balai desa untuk acara kami akhir pekan ini. jadi aku ditinggal bertugas sendirian. tidak lama. tapi lumayan. ketika ia berjalan terhuyung dengan handuk coklat kesayangannya menuju pintu kamar mandi di belakang, aku memintanya menyalakan mesin air agar kamar mandi disebelah sana juga menyala. pengalaman dari beberapa kali aku mandi, airnya selalu habis di tengah jalan. "tumben, sendirian" ia menghentikan langkahnya. melirikku sebentar. wajahku sudah tidak karuan, berkeringat. bau bawang, dan seluruh kesibukan ku di dapur. cukup berantakan, dan aku merasa jelek sekali. "engga kok, ini udah selesai" ia mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar kecil itu. sejak ...

tanabata : hujan pukul duabelas

Sepi menerpa Selimuti kabut jiwa Menjelma dirimu Dalam untaian kata rindu Semoga jarak yang terbentang ini Segera mereda Merubah rindu yang meradang ini Jadi kabar bahagia pukul setengah sembilan malam. tubuhku sudah lelah. "masih di kantor, mas. baru selesai meeting" sebuah direct massage ku kirim singkat pada seniorku. ada agenda ngopi lagi malam ini, tapi barangkali aku akan sedikit terlambat sebab meeting baru saja dirampungkan dan aku belum menuju lokasi.  "tunggu disitu" balasan yang tak lama kemudian ku terima. awalnya aku akan berangkat sendiri, tapi ia menawarkan diri untuk menjemputku dan datang bersama, maka aku tidak menolaknya sebab ku pikir pertemuan malam ini memang sebaiknya begitu saja. malam itu langit gelap sekali, sejak sore sudah berangin menunjukkan memang akan turun hujan. aku menyelesaikan shift magangku lebih lambat hari ini sebab ada rapat yang sedikit molor dari jadwalnya. sudah biasa begitu kalau di hari senin. kurang dari duapuluh menit...

tanabata : tulip kuning di bulan november

 Kasih sayangmu membekas Redam kini sudah pijar istimewa Entah apa maksud dunia Tentang ujung cerita Kita tak bersama Semoga rindu ini menghilang Konon katanya waktu sembuhkan Akan adakah lagi yang sepertimu Lagu tulus kesekian yang diputar di coffeeshop ini. Aku tidak jenuh karena lagunya, barangkali memang liriknya saja seperti orang sedang jatuh suka. Aku bukan tidak suka penyanyinya, bahkan jujur semua lagunya menyenangkan, namun di situasiku saat ini, canggung sekali diputar lagu semanis ini. "bagaimana kabarmu, faa?" Sebuah jamuan kopi tengah malam akhirnya terlaksana setelah manusia aneh itu sulit sekali dihubungi oleh seniorku. sebuah janji temu yang menjadi wacana beberapa bulan lalu sebelum dinyatakan menjadi demisioner. jujur pertemuan yang cukup canggung mengingat terakhir bertemu dengannya, aku sedang tidak dalam kondisi baik. ah kapan-kapan ku ceritakan padamu bahwa manusia aneh itu sempat memapah tubuh kecilku menuju klinik sebab kaki ku terluka dan kesulitan b...