dalam kayu : terlihat jauh
bagian 3
"ib, boleh tolong nyalakan mesin air?"
ketika ia berjalan terhuyung dengan handuk coklat kesayangannya menuju pintu kamar mandi di belakang, aku memintanya menyalakan mesin air agar kamar mandi disebelah sana juga menyala. pengalaman dari beberapa kali aku mandi, airnya selalu habis di tengah jalan.
"tumben, sendirian"
aku semkain suka memperhatikannya.
diam diam ku ligat garis wajahnya yang tegas, potongan rambutnya yang bagus, hidungnya yang mancung, dan..
oh, dadanya yang bidang meski tidak bisa ku sebut six pack, tapi..
ia mengagumkan.
aku masih berkutat di dapur beberapa waktu berikutnya untuk membereskan piring kotor dan sampah masakan. tentu hal itu kumaksudkan juga sambil menunggunya keluar dari kamar mandi.
tak lama, benar saja.
ia keluar dengan handuk basah dikepalanya.
celana pendek selutut warna merah kebanggaannya, serta kaos oren warna bata yang entah sesering apa ia menggunakannya.
"kamu, bisa menjahit, faa?"
eh...
"tolong jahitkan celana ku tadi pagi"
ia tersenyum.
bisa. kalaupun tidak bisa. akan ku paksa bisa.
aku mengangguk.
"terima kasih"
. . .
"tidak peduli simpulnya, yang penting tertutup saja. agar bisa ku pakai lagi"
aku menutup buku yang ku baca di teras depan poko kami.
ia memberiku sebuah celana berwarna hitam. yang memang coba ia kenakan tadi pagi tetapi tidak jadi sebab ia menyadari ada robekan cukup besar diantara kakinya.
aku mulai menjahit, tidak ada teknik khusus sebab jujur saja aku tidak pandai menjahit. tapi ia bilang, yang penting tertutup kan? agar bisa dipakai lagi.
"kamu tidak suka coklat, faa?"
"tidak"
"kenapa?"
"tidak suka"
ia diam sejenak menatap jarum yang perlahan menusuk celananya menjalin beberapa pola agar menutup celah yang tak seharusnya itu.
"kamu suka baca?"
aku bertanya. sebab jujur aku suka suaranya. tapi entah kenapa, kadang aku berfikir ia seperti enggan banyak bicara, terutama denganku. seperti topik yang ia ciptakan hanya untuk mengusir canggung.
"tidak begitu, tapi aku baca beberapa buku"
ia merubah posisi duduknya.
oh ayolah, ku kira kamu sangat suka membaca wahai Raib.
"contohnya?"
ia mulai berfikir, menyebutkan beberapa judul buku, dan menjelaskan berapa hari ia menghabiskan utnuk selesai membacanya. itu waktu yang lama menurutku.
"kamu fomo berarti"
"biarin"
ia memasang wajah cuek, dengan mata yang terus tertuju pada jari-jariku.
jahitanku hampir selesai.
tapi aku tidak mau ia menyelesaikan percakapnnya denganku.
aku suka suaranya.
bolehkah jika aku lebih sering mendengarnya?
"kamu suka baca sejak umur berapa, faa?"
"sejak kecil, ayah ibuku juga senang buku"
"hm..pantes"
aku tersenyum kecil.
jahitanku selesai.
aku memutus benang.
bersiap memberikan celana itu padanya.
"kamu jago ya"
"tidak terlalu rapih, tapi lumayan jika hanya untuk menutup"
"terima kasih"
iya
"terima kasih, faa"
ia melihat hasil jahitanku.
tersenyum.
"bayar, pake butter coffee, yaaa...."
"wah, jahitanmu mahal sekali rupanya"
kemudian ia tertawa.
ia sudah akan beranjak dari kursinya.
"tidak ada yang gratis"
ia tertawa kecil.
tidak menjawab, padahal yang ku nantikan adalah jawabannya.
ia berdiri, dan mulai benar benar ingin masuk.
tapi aku masih ingin berbincang.
aku masih ingin mendengar suaranya.
dan...
kakinya meninggalkan bunyi tapak langkah pertanda ruangan kami sudah berbeda.
meninggalkan aku di meja teras depan, sendirian.
ku dengar suaranya tertawa bersama teman posko ku yang lain.
dari luar terdengar samar bahwa mereka sedang masyhuk bermain game.
aku kembali membuka buku bacaanku.
adakah yang bisa membuatnya lebih banyak bicara?
bagaimana caranya?
aku ingin mendengar suaranya lebih lama.
sampai aku bosan kalau bisa.
Komentar
Posting Komentar
hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!