tanabata : kesalahan nomor dua.
pesta demokrasi mahasiswa sudah didepan mata. beberapa forum diadakan. aku diundang. bahkan bisa tidak pulang seharian. pokoknya, menjelang pemira semua manusia jadi terlihat warna darahnya. entah mengaku netral, coklat, merah, biru, apapun itu semua berbahya jika kamu mudah percaya.
hari berlalu. ada banyak yang terlewat ternyata.
perasaan campur aduk yang kerap menggerayangi hati manusia, bukan tanpa sebab. prasangka baik buruk datang karena memang dikirim semesta untuk memberimu pesan, bahwa di ujung dunia sana, ada banyak hal yang kamu tidak tahu, dan bahkan kamu tidak mengerti.
sore itu, aku membatalkan dua janji ku yang sudah terjadwal seminggu yang lalu.
sebab ada pertemuan penting katanya. jadi aku diminta untuk mendampingi. awalnya aku menolak, bukan kewajibanku.
pada persidangan terakhir, aku meninggalkan ruangan begitu saja. barangkali manusia jahat bernama Raga itu sudah mulai membenciku kali ini.
baguslah. toh aku sudah membencinya sedari lama.
tapi, empat jam yang lalu, aku dikabari untuk hadir bersamanya pada sebuah forum besar.
"faa, nanti kalau mereka mulai blunder aku minta tolong kamu menjawab sesuai dengan tugas komisi mu saja, ya?"
aku mengangguk. paham.
dia merapikan kemeja hitamnya. berdeham sebentar untuk memastikan suara beratnya paripurna.
lalu melangkah masuk pelan mendorong pintu kaca didepan.
aku mengikuti dibelakang, tepat beberapa langkah darinya.
beberapa orang menyambut, mempersilahkan duduk. aku mengikuti.
acara dimulai, berjalan sesuai dengan keinginanku sebenarnya.
ya...
tidak ada pertanyaan mengintimidasi, forum berjalan dengan diskusi tanpa menyentuh garis teritorial ku. senang.
sepanjang acara, sesekali aku melihatnya menjawab pertanyaan, memberikan opini, dan memberikan penjelasan mengenai periodenya.
ada yang berbeda ketika ia berbicara.
Raga yang angkuh dan besar kepala, yang biasa ku lihat pada mata kepalaku selama ini-sore itu, tidak terlihat.
dia lebih tenang. lebih banyak diam dari sejauh aku mengenalnya.
ketika coffe break. aku pamit meninggalkan ruangan sebentar. ponsel ku berdering. dua panggilan tak terjawab.
kak danu.
barangkali nama kontak itu terlihat olehnya.
ia tidak mengizinkan.
"kamu bisa telpon balik ketika acara sudah selesai"
matanya lurus. aku sudah beranjak, tapi tatapan jahat itu kembali membuatku muak. ia menarik ujung bajuku. menyuruh kembali pada posisi.
urusanmu apa?
"mau sholat, maghrib"
dia tidak membalas. apa pedulinya aku mau menelpon siapa, apa pula pentingnya dia menyuruhku seperti itu?
"faa, kamu disini atas nama organisasi"
kalimatnya dingin. suaranya parau.
"aku tau, kak"
"lalu?"
"aku cuma mau sholat, tidak boleh?"
matanya menatap sekeliling. lalu berhenti pada seorang perempuan diujung ruangan. tangannya berhenti menahan bajuku. lepas. alisnya mengernyit. lagi-lagi dia bertanya.
"danu disini?"
deg.
aku tidak tau harus menjawab apa, sebab sungguh saat ini aku sendiri tidak paham manusia itu maunya apa. menahanku di ruangan ini dan melarang ku untuk beribadah? atau memang dia sudah panas soal senior ku yang satu itu?
"gatau kak, aku cuma mau sholat, maghrib itu waktunya sedikit"
aku melangkah mundur. menjauhkan diri.
"faa..."
suaranya sedikit lebih keras. wajahnya datar.
aku tidak menjawab. ku balikkan tubuhku. menjauh.
aku benar hanya ingin sholat, kok.
ku cari ruangan dengan tulisan toilet. wudhu. lalu sholat pada musola kecil diujung koridor.
aku meninggalkan sajadah dan mukena dengan rapi pada tempat asalnya.
ku pasang sepatu putihku.
manusia jahat itu sudah berdiri di depan lorong.
tuhan, aku benci manusia itu.
jika ditanya apa dosa pertama ku setelah selesai sholat magrib hari itu.
ya inilah jawabnnya. membenci seonggok daging bernafas yang menggenggam podnya dengan angkuh. berdiri tegap seolah semua orang memandangnya dengan kagum. ia jumawa dengan kemeja hitamnya.
aku melihat ponselku.
sebuah pesan dari seniorku.
"faa, tolong share live lock mu ya. hanya sedikit khawatir"
tentu ku laksanakan dengan tanpa pikir panjang. tidak perlu tawar menawar dalam bentuk apapun jika sudah beliau yang meminta.
aku berjalan pelan, berniat kembali ke ruangan.
namun tentu saja harus melewati manusia itu dulu, sebab dia memang sudah lama menunggu.
"kamu telfon dia?"
"engga kak"
"coba lihat"
dia berusaha menggapai ponselku.
apa-apaan?
aku menghindar. segera ku masukkan ke dalam saku.
"kenapa?"
"aku cuma mau tau, kamu telfon dia apa engga"
suaranya datar. ia menghembuskan asap ke langit-langit lorong. nafasnya kasar. seperti orang yang sudah kehabisan kesabaran.
"kan aku sudah bilang engga, kak"
"aku tidak percaya"
dia menghembuskan asap lagi. kali ini tarikan nafasnya jauh lebih kasar. ada jeda panjang ketika ia ingin berbicara.
"yasudah kalo ga percaya"
aku melewatinya. sungguh kesal. tidak tau apa tujuannya, tidak tau apa maksudnya. kenapa ia begitu bersikeras melarang aku menelpon seniorku sendiri. sebenarnya, apa yang sedang ia takutkan.
tuhan, sungguh. aku benci manusia itu.
forum dilanjutkan. tidak ada hal penting diluar kendaliku. semua berjalan sesuai arahan, keinginan dan harapan. meskipun sempat berdebat panjang, forum itu selesai dengan molor hampir satu jam setengah. aku melirik ponselku lagi. sebuah pesan baru dari seniorku lagi.
"kalau sudah mau selesai, boleh kabari aku"
beberapa menit kemudia, masuk pesan berikutnya.
sebuah kertas kecil berisi catatn posisi orang yang akan menjemputku nanti. aku tersenyum.
syukurlah, tidak perlu pulang dengan orang jahat itu.
acara selesai setelah sesi foto bersama. aku bersiap meninggalkan ruangan setelah beberapa kali mengikuti manusia itu berpamitan dengan kenalannya.
setelah itu, aku pamit. dia menawari untuk mengantarku pulang. tapi jelas tidak ku terima. aku bilang aku bawa kendaraan , dan aku bisa pulang sendiri. awalnya dia mau aku menunggunya untuk menuju parkiran bersama. tapi aku menolak. jelas itu sebuah kebohongan, bagaimana bisa aku ke parkiran.
"aku tidak tau kamu pulang sama siapa, tapi hati-hati ya. terima kasih"
aku tidak menjawab. mengangguk saja.
ketika aku sudah berada beberapa langkah didepannya, meninggalkan manusia itu tepat dibelakangku.
ia bersuara pelan. pelan yang masih bisa terekam jelas oleh kedua telingaku.
"faa, kesalahanmu hanya satu. kamu patuh pada yang mengajarimu"
.......
sudah ku katakan. aku menghormati seniorku dengan sangat. tidak ada keraguan disana. bahkan dari opini konyolnya, buku yang ia baca, pilihan film, selera musik, teori konspirasi hingga tokoh filsuf favoritnya. bukan mengagumi denga perasaan, tapi benar karena aku melihatnya dengan versi manusia paling baik (yaa selain dari urusan ideologi dan beragama)
aku keluar dari lift.
melihat ke ujung kiri sesuai dengan arahan di kertas. seseorang melambai. aku mendekat. memakai helm. dan bersiap pulang.
kenapa kamu begitu membencinya?
teramat sangat?
sebab, kesalahannya banyak.
berapa?
banyak.
aku benci ketika manusia tidak sesuai dengan omongannya, mengingkari janjinya, dan bahkan merendahkan orang lain sesukanya.
.........
maka. pada hari yang melelahkan. ku catat hari itu sebagai kesalahannya yang kesekian.
nomor dua soal menyakiti perasaan. tidak pandai minta maaf. mengecewakan.
"kan aku sudah bilang, kalo kamu ga bakal bisa. ga akan bisa, faa"
aku sudah putus asa. hatiku sakit karena omongannya. perih. aku ingin menangis saja.
hingga seseorang memberiku secarik kertas kecil. beserta dengan permen jagoan neon.
keren. lanjutkan jagoan.
Komentar
Posting Komentar
hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!