tanabata : hujan pukul duabelas
Sepi menerpa
Selimuti kabut jiwa
Menjelma dirimu
Dalam untaian kata rindu
Semoga jarak yang terbentang ini
Segera mereda
Merubah rindu yang meradang ini
Jadi kabar bahagia
pukul setengah sembilan malam.
tubuhku sudah lelah.
"masih di kantor, mas. baru selesai meeting"
sebuah direct massage ku kirim singkat pada seniorku.
ada agenda ngopi lagi malam ini, tapi barangkali aku akan sedikit terlambat sebab meeting baru saja dirampungkan dan aku belum menuju lokasi.
"tunggu disitu"
balasan yang tak lama kemudian ku terima.
awalnya aku akan berangkat sendiri, tapi ia menawarkan diri untuk menjemputku dan datang bersama, maka aku tidak menolaknya sebab ku pikir pertemuan malam ini memang sebaiknya begitu saja.
malam itu langit gelap sekali, sejak sore sudah berangin menunjukkan memang akan turun hujan. aku menyelesaikan shift magangku lebih lambat hari ini sebab ada rapat yang sedikit molor dari jadwalnya. sudah biasa begitu kalau di hari senin.
awalnya aku akan berangkat sendiri, tapi ia menawarkan diri untuk menjemputku dan datang bersama, maka aku tidak menolaknya sebab ku pikir pertemuan malam ini memang sebaiknya begitu saja.
malam itu langit gelap sekali, sejak sore sudah berangin menunjukkan memang akan turun hujan. aku menyelesaikan shift magangku lebih lambat hari ini sebab ada rapat yang sedikit molor dari jadwalnya. sudah biasa begitu kalau di hari senin.
kurang dari duapuluh menit, ia mengabari sudah tiba dan kami menuju lokasi bersama.
oh awalnya ku kira agenda malam itu benar akan jadi, tapi di pertengahan jalan aku melihat seniorku membelokkan setirnya pada jalan yang tidak seharusnya. ku kira lokasi pertemuan yang dialihkan, ternyata memang acaranya dibatalkan.
"tidak jadi rapat, kita kesini saja"
oh awalnya ku kira agenda malam itu benar akan jadi, tapi di pertengahan jalan aku melihat seniorku membelokkan setirnya pada jalan yang tidak seharusnya. ku kira lokasi pertemuan yang dialihkan, ternyata memang acaranya dibatalkan.
"tidak jadi rapat, kita kesini saja"
sorot lampu mobilnya padam. ia melepas sabuk pengaman dan bersiap akan turun.
sebuah rumah yang cukup besar bertembok abu-abu dengan halaman yang sungguh sangat luas. ada dua patung kuda didekat pintu masuk, dan sebuah kolam ikan dengan banyak sekali rombongan koi warna-warni. terasnya cukup lebar dengan empat kursi rotan tersedia, sebuah meja dengan taplak bunga bunga.
sebuah rumah yang cukup besar bertembok abu-abu dengan halaman yang sungguh sangat luas. ada dua patung kuda didekat pintu masuk, dan sebuah kolam ikan dengan banyak sekali rombongan koi warna-warni. terasnya cukup lebar dengan empat kursi rotan tersedia, sebuah meja dengan taplak bunga bunga.
ini rumah siapa?
aku mengikutinya dari belakang.
seorang wanita tua, yang sudah cukup renta tetapi masih bisa berdiri tegak dengan kain dan kebaya ala orang tua jaman dulu berwarna kuning pucat keluar dari rumah. menyambut kami.
ketika mas danu mencium tangan wanita tua itu, maka aku juga mengikutinya.
"ini fai mbah, adik- eh, rencang kulo"
seorang wanita tua, yang sudah cukup renta tetapi masih bisa berdiri tegak dengan kain dan kebaya ala orang tua jaman dulu berwarna kuning pucat keluar dari rumah. menyambut kami.
ketika mas danu mencium tangan wanita tua itu, maka aku juga mengikutinya.
"ini fai mbah, adik- eh, rencang kulo"
aku diperkenalkan. maka aku tersenyum mengulang namaku yang disebutkan.
ini pertama kalinya mas danu memanggil namaku begitu.
wanita tua itu mempersilahkan masuk, dan berbicara banyak sekali bahasa jawa yang aku kurang paham artinya apa, barangkali ia menyuruh kami untuk makan terlebih dahulu sebab intruksi yang ku dapat ketika aku melirik ke arah seniorku adalah ia mempraktekan gerakan menyuap sesuatu ke mulut, yang bisa ku pahami artinya makan dulu.
kami diantar pada sebuah meja makan di ruang tengah menghadap halaman belakang, dengan beberapa menu sudah tersedia di meja, hangat mengepul uapnya, wangi sekali aromanya.
"maem dulu, ya"
ia menarik salah satu kursi, dan menyuruhku duduk.
jujur aku ingin menolak, sebab makan di rumah orang sungguh sangat canggung. aku tidak terbiasa, dan kadang bisa hilang akal ingin berbuat seperti apa.
nasi jagung dengan beragam sayur dan lauk diletakkan pada piringku.
kami mulai makan dengan tidak terlalu banyak bicara.
sesekali mas danu menawarkan kerupuk, atau menambah sambal atau bahkan menyuruhku mencicipi beberapa menu yang belum terambil di piring. aku menolak, sudah cukup banyak. biarkan aku menghabiskan isi piringku sekarang.
jujur aku ingin menolak, sebab makan di rumah orang sungguh sangat canggung. aku tidak terbiasa, dan kadang bisa hilang akal ingin berbuat seperti apa.
nasi jagung dengan beragam sayur dan lauk diletakkan pada piringku.
kami mulai makan dengan tidak terlalu banyak bicara.
sesekali mas danu menawarkan kerupuk, atau menambah sambal atau bahkan menyuruhku mencicipi beberapa menu yang belum terambil di piring. aku menolak, sudah cukup banyak. biarkan aku menghabiskan isi piringku sekarang.
teh hangat melati terseduh, wangi sekali, entah wangi bunga teh nya atau ini wangi aroma daun pandan yang meyeruak. sungguh, aku tidak bohong jika ku katakan satu ruangan itu kini penuh dengan aroma teh hangat yang segar.
. . .
"kenapa tiba-tiba mampir kesini, mas?"
"karena lapar, hehe"
aku dan seniorku sudah berpindah tempat.
kami duduk menghadap tembok beton arah belakang, taman yang tadi ku lihat ketika makan.
ada dua bunga sedap malam yang ukurannya besar sekali, dan bunga kamboja yang pohonnya sudah sebesar pohon mangga. tidak terlalu terang sebab hanya ada beberapa lampu taman yang menyala diantara kami.
"kenapa rapatnya tidak jadi, mas?"
kami duduk menghadap tembok beton arah belakang, taman yang tadi ku lihat ketika makan.
ada dua bunga sedap malam yang ukurannya besar sekali, dan bunga kamboja yang pohonnya sudah sebesar pohon mangga. tidak terlalu terang sebab hanya ada beberapa lampu taman yang menyala diantara kami.
"kenapa rapatnya tidak jadi, mas?"
"jadi, cuma pindah lokasi"
"loh, dimana?"
"pacet"
"jauh sekali"
malam itu, angin kembali berembus dengan sedikit lebih kencang dari sebelumnya.
langit benar terlihat sangat hitam tanpa corak apapun, seperti kertas karbon baru dengan seluruh kepekatannya. akan hujan deras malam ini, aku menduganya begitu.
langit benar terlihat sangat hitam tanpa corak apapun, seperti kertas karbon baru dengan seluruh kepekatannya. akan hujan deras malam ini, aku menduganya begitu.
sebab tak satu bintangpun terlihat, bulan saja bersembunyi dibalik awan gelap yang terus menerus bergerak cepat.
"lain kali, tidak perlu menerima ajakan yang seperti itu lagi, faa"
eh?
"mereka sudah mulai mencari cara merayumu untuk bergabung"
"aku tau, dan akan selalu ku tolak, mas yang mengajari"
ia mematikan rokoknya.
ah aku lupa menceritakannya padamu, bahwa seniorku yang satu ini sebenarnya jarang sekali merokok. dan setelah sekian purnama ini adalah kali pertama aku melihatnya menyalakan korek dan menghisap lintingan tembakau itu lagi. padah ia, vape saja jarang, apalagi rokok.
ah aku lupa menceritakannya padamu, bahwa seniorku yang satu ini sebenarnya jarang sekali merokok. dan setelah sekian purnama ini adalah kali pertama aku melihatnya menyalakan korek dan menghisap lintingan tembakau itu lagi. padah ia, vape saja jarang, apalagi rokok.
"tapi tugasku sudah akan selesai, kamu harus jalan sendiri tanpa ku ajari"
aku juga tahu itu.
tapi entah kenapa aku tidak pernah suka mendengarnya.
tapi entah kenapa aku tidak pernah suka mendengarnya.
di pertemuan seblumnya, bahkan ia sudah memaparkan pada teman ku yang lain, dan berkata bahwasanya ia sudah selesai dari semua urusan partai dan semua yang tersisa harus bergerak tanpa bimbingannya. itu aneh. sungguh aneh.
aku ingin seniorku terus yang mengajari, kalau bisa sampai kapan pun.
meski dulu aku ditolak kabinetnya, dan berakhir dengan tangisan menyedihkan selama tiga hari tak henti. aku tetap ingin berada dibarisan adik tingkatnya, barisan orang orang kepercayaannya. barisan orang-orang yang ingin ia banggakan dan andalkan. sebab ia senior kesayanganku, senior yang paling ku hormati lebih dari siapapun.
aku ingin seniorku terus yang mengajari, kalau bisa sampai kapan pun.
meski dulu aku ditolak kabinetnya, dan berakhir dengan tangisan menyedihkan selama tiga hari tak henti. aku tetap ingin berada dibarisan adik tingkatnya, barisan orang orang kepercayaannya. barisan orang-orang yang ingin ia banggakan dan andalkan. sebab ia senior kesayanganku, senior yang paling ku hormati lebih dari siapapun.
aku tidak ingin menjawab kalimatnya barusan, sebab hatiku sungguh berkecamuk jika kalimat itu terdengar oleh telingaku. sungguh aku tidak suka mendengarnya.
"kamu masih sakit hati padaku?"
eh?
"tidak apa, aku menyadari kesalahan itu dan jujur aku juga menyesal melakukannya padamu"
"lukanya tidak besar mas, tapi dalam. sangat dalam hingga kadang, masih terasa perih sesekali"
ada hening yang cukup lama setelah aku mengucapkan kalimat itu, padahal aku menyebutkannya dengan senyum ku yang seperti biasa. tapi barangkali lukanya benar terlihat sehingga mas danu mengira senyum ku palsu.
aku tidak pernah sakit hati dengan semua keputusan seniorku itu.
aku menghormati seluruhnya. aku menerima dengan lapang dada, meski memang pernah kecewa dibuatnya. tapi tidak sedikitpun ada ruang benci dihatiku untuknya.
aku menghormati seluruhnya. aku menerima dengan lapang dada, meski memang pernah kecewa dibuatnya. tapi tidak sedikitpun ada ruang benci dihatiku untuknya.
"kamu harus jalan sendiri, tanpa ku ajari"
ia mengulang kalimat itu.
aku menatapnya lama. tidak tau ingin menjawab apa, tapi malam itu aku merasa sepertinya setelah ini, aku akan sulit untuk bisa melihatnya begitu. tiba-tiba saja aku berfikir bahwa setelah ini, akan sangat sulit sekali untuk bertemu dengannya. aku takut.
aku menatapnya lama. tidak tau ingin menjawab apa, tapi malam itu aku merasa sepertinya setelah ini, aku akan sulit untuk bisa melihatnya begitu. tiba-tiba saja aku berfikir bahwa setelah ini, akan sangat sulit sekali untuk bertemu dengannya. aku takut.
"jika aku tidak bisa?"
". . ."
"mas...masih akan membantuku, kan?"
aku ingin ia menjawab pertanyaan itu dengan cepat tanpa berfikir sedikitpun. aku ingin setidaknya ia mengangguk atau bahkan sedikit senyum agar hatiku bisa tenang. aku ingin ia terus mengajariku.
tapi pertanyaanku itu tidak dijawabnya.
ia hanya diam saja menatap ke depan. aku tidak tau ia akan membantuku atau tidak, tapi tentu aku berharap ia melakukannya.
"kamu tau, beberapa kolega mu memuji bakat sidang yang kamu punya. kamu sudah jauh lebih keren dari terakhir kali ku marahi waktu itu"
"sudah ku katakan, aku anak didikmu"
ia tersenyum. seperti ada bangga disana, atau apalah kalian menyebutnya. aku senang melihatnya.
"semua orang tau, aku anak didik mas danu"
aku mengulang kalimat itu dengan sedikit lebih jelas, lebih nyaring. sebab aku juga bangga menjadi keren karena belajar banyak darinya. maka dari itu, tolong buat aku menjadi jauh lebih keren lagi.
"selanjutnya, kamu bisa belajar banyak dari Raga"
"aku tidak suka manusia itu"
"kenapa?"
"hanya tidak suka saja"
angin lagi-lagi berhembus. jauh lebih kencang. benar benar menggoyangkan daun pepohonan disekitar, bahkan menggugurkan banyak bunga kamboja yang masih segar.
"kenapa?"
aku tidak bisa menjawab. sebab aku bingung jawabannya.
karena memang, aku tidak tau mengapa aku membencinya. aku hanya benci, sudah itu saja.
bukan kah sudah pernah ku beritahu padamu, bahkan aku sudah membencinya baik sebelum aku mengenal siapa namanya. segitu bencinya aku padanya. manusia itu, barangkali orang pertama yang ku benci dengan segenap hatiku. orang pertama yang ku benci dengan seluruh isi kepalaku.
karena memang, aku tidak tau mengapa aku membencinya. aku hanya benci, sudah itu saja.
bukan kah sudah pernah ku beritahu padamu, bahkan aku sudah membencinya baik sebelum aku mengenal siapa namanya. segitu bencinya aku padanya. manusia itu, barangkali orang pertama yang ku benci dengan segenap hatiku. orang pertama yang ku benci dengan seluruh isi kepalaku.
"tidak apa, hanya tidak suka saja"
aku mengulang jawaban yang sama, dan berharap mas danu berhenti bertanya kenapa.
lalu, ku alihkan pembicaraan agar ia tidak kembali menyebut nama manusia itu.
"ini rumah siapa mas?"
"rumah mbah uti ku, mbah angkat saja sebenarnya, cuma aku sudah kenal dari kecil"
"umur mbah sudah berapa, mas?"
"94"
aku mengangguk. hampir satu abad.
"kamu mau hidup sampai umur berapa, faa?"
"tidak tau. hidup lama kalau tidak kaya untuk apa"
ia tertawa.
barangkali seharusnya kalimatku yang benar adalah hidup lama kalau tidak bahagia untuk apa.
"aku pernah dengar mbah cerita, hidup lama tuh ga enak kalo ga ada orang yang kita sayang, orang yang kita cinta"
"make sense sih, ga enak hidup sendirian..."
"makanya aku berusaha nyempetin waktu buat main, soalnya mbah udah ga punya siapa-siapa lagi"
"terakhir kesini kapan, mas?"
"semester lalu"
ia terkekeh diujung kalimat. itu sekitar empat atau lima bulan yang lalu.
"kamu tau, fa.."
sebelum ia melanjutkan kalimatnya, angin berhembus sekali lagi dengan lebih kencang. menyibak untaian gorden dan meruntuhkan semua pertahanan ranting yang masih berpegangan di pohon. bunga sedap malam bertugas dengan baik, aroma yang manis menyeruak ke seluruh taman. hidungku mencium kebahagiaan yang tersebar perlahan meski langit hampir menangis.
hujan akan turun sangat deras malam ini.
sangat deras.
aku menunggu ia bicara.
"aku tidak pernah merasa cukup untuk bisa menyayangi seseorang"
"kenapa?"
"tidak tau"
malam sudah menyentuh hampir seluruhnya. hari sudah akan berganti sebentar lagi. aku betah sekali ternyata duduk disini. entah karena tempatnya, orangnya, atau memang aku suka semuanya.
"itu perasaan yang aneh"
kalimat itu melengos dengan tanpa disengaja.
diiringi beberapa titik air hujan yang mulai jatuh kecil-kecil.
rintik itu tidak ada artinya dibanding kalimat aneh yang baru saja kuucapkan.
sebab seringkali yang ku rasakan adalah merasa tidak cukup untuk menjadi orang yang disayang, seperti tidak layak menerima perasaan perasaan baik dari orang lain.
"lupakan saja"
"wah padahal aku tertarik dengan topiknya mas, daripada bahas madilog lagi"
aku tertawa kecil. sejauh yang ku tau, kisah asmara seniorku ini agak rumit tapi ia jarang sekali ingin berbagi sebab menurutnya urusan hati adalah perkara pribadi yang tidak perlu orang lain ikut memahami. padahal menurutku itu sah-sah saja, toh manusia memang terlahir sebagai makhluk yang perasa.
"kamu pernah jatuh suka, faa?"
"memang ada yang tidak pernah?"
titik-titik air hujan semakin bertambah.
tapi ia tidak terusik sedikitpun. tetes kecil kecil itu mulai satu persatu menyentuh wajahku. kemudian di tiup angin, kemudian titik titik itu hilang seperti gerimis yang masih uji coba.
"artinya, kamu pernah begitu sayang pada seseorang..."
"tentu"
aku melihat langit. benar benar sesaat lagi akan turun hujan.
tapi seniorku yang satu ini masih tidak terusik.
tapi seniorku yang satu ini masih tidak terusik.
ia memandang lurus tembok didepan.
sungguh aku tidak tau apa yang ingin ia ceritakan sebenarnya. sungguh aku tidak tau apa yang ingin ia bahas hingga rintik yang sesekali membasahi hidung dan pipinya tidak terasa baginya.
akhirnya ku beranikan diri bertanya.
"mas, pernah?"
"tidak"
"lah, kok?"
dia terkekeh melihat wajahku yang aneh.
ia mulai berdiri, memperbaiki bajunya yang sedikit kusut.
ia mulai berdiri, memperbaiki bajunya yang sedikit kusut.
bersiap untuk berteduh sambil memegang buku untuk menutupi kepalanya.
kemudian ia berlari menuju rumah.
disusul ribuan rintik hujan yang berjatuhan.
kemudian ia berlari menuju rumah.
disusul ribuan rintik hujan yang berjatuhan.
kali ini bukan rintik kecil, melainkan tetes tetes besar yang siap membasahi wajah hanya dengan beberapa kali kesempatan.
hujan deras.
sangat deras, hingga seluruh taman basah kuyup seketika.
semua kamboja baik yang sudah tergeletak malu di tanah, maupun yang masih menempel pada pohon gagahnya-semuanya basah tanpa cela.
langit benar-benar menangis.
tidak tercium aroma bunga sedap malam, semua sudah tergantikan dengan bau tanah basah, aroma pagar besi berkarat, aroma hujan yang khas.
"bukan. bukan di bumi yang ini"
"oh, itukah cara barunya?"
"cara baru?"
"iya. cara baru menyebutkan in another life"
Sip, kyk judul lagu
BalasHapusWkwk in another life = bukan di bumi yg ini, Good Job
BalasHapus