Bagian 2
.
I was just guessing at numbers and figures
Pulling the puzzles apart
Questions of science, science and progress
Do not speak as loud as my heart
.
Aku sudah menutup hatiku rapat-rapat ketika pertama kali kakiku mulai melangkah untuk melanjutkan perjalanan semester ini sebagai mahasiswa kkn. Aku hanya ingin cepat mengakhirinya, dulu ku pikir seperti itu lebih baik. Sampai sebuah momen, ketika aku memberi kabar pada saudari kesayanganku, kakak angkat yang ku anggap seperti kandung kecintaanku, mereka bilang - kkn akan merubah sebagian dari pandanganku kedepannya. Maka jatuh cintalah disana, bersama warga desanya, bersama orang-orangnya, bersama semua momen dan semua yang kamu temukan disana.
"Setidaknya, udah cape-cape kkn, kamu harus cinlok, faa..."
ucap salah satunya pada sebuah momen ketika aku minggat dari posko.
aku hanya tertawa, mana mungkin.
aku tidak akan berfikir sejauh itu, atau kalaupun terlalu juah, maka lebih baik aku menyingkirkan rasa malu ku dan lari mengejar dengan kencang seniorku yang satu itu.
ah itu jauh lebih realistis, atau...
itu bahkan jauh lebih memungkinkan daripada aku harus jatuh hati dengan teman posko ku sendiri.
sungguh aneh. aneh.
ya. aneh.
Hingga, di suatu malam yang gelap.
Ketika lampu kamar sudah di matikan.
Ketika keong dan kura-kura sudah bersembunyi dibalik tempurung mereka.
Ketika setiap hati yang dingin sudah menarik selimut mereka.
Aku mencoba kembali mengajak tubuhku untuk tidur dengan meminum segelas susu dingin seperi malam malam sebelumnya. Aku melangkah perlahan sebab sejauh yang ku lihat didepan hanya kegelapan. Tidak ingin menyalakan lampu ruangan, maka aku membawa flash ponselku sebagai alat penerangan.
Sebuah tangan menarikku dengan erat, kencang. Menghentak. Mengagetkan.
Raib?
Awas!
Kaki ku reflek tertarik dan mundur ke belakang beberapa langkah, hampir terjengkal. Namun, tangan yang sama menopang dengan sangat baik tubuhku yang sudah terhuyung hendak menyentuh lantai. Aku hampir terduduk, atau bahkan setengah terduduk. Entah posisi apa ini, tapi sungguh sangat awkward.
Ia mentapku. Lama.
Wajahnya panik. Berkeringat. Memerah.
"faa, maaf..."
Aku bangun dari pangkuan tubuhnya, memperbaiki piyama ku yang sedikit berantakan. Jantungku berdegup kencang sekali. Deru nafasku hampir tidak karu-karuan. Aku membuang muka ke sekeliling. Sebab pipiku panas, wajahku juga pasti memerah.
"ma-maaf, aku ga liat..."
Aku berucap gagap. Sungguh aku tidak tau harus bicara apa. Hanya itu yang terlintas dan bisa dengan baik diucap oleh bibirku yang beku.
"aku yang minta maaf, faa"
eh
"ada beling, maaf yaa..."
"b-beling?"
"kamu luka? engga kan? kamu geser ke sebelah sana sedikit ya, aku beresin dulu"
Ia menyerok sampah kaca itu dengan baik, pelan dan tenang. Disapunya perlahan, dipilihnya pecahan yang besar besar kemudian ia masukkan pada sebuah plastik kecil berwarna hitam. Ia membereskan beling itu benar-benar dengan baik dan tenang.
"kenapa lampunya ga dinyalain dulu?"
Ia tidak menjawab, senyumnya miring. Ia menatapku lalu bergantian menatap langit langit.
"ooh..."
Pecahan beling itu adalah lampu. Pantes.
Setelah memastikan semuanya beres, ia mempersilahkanku untuk lewat.
Aku menyelesaikan misiku: secangkir susu dingin agar segera tidur. Ia menarik kursi disalah satu sisi meja makan, tempat duduknya seperti malam sebelumnya. Masih dengan gelas yang ku tebak berisi coklat panas favoritnya.
"wanna try?"
"coklat? engga"
"bukan, butter coffee"
"butter? coffee?"
Ia mengangguk sambil menahan senyum geli. Seperti aneh mendengar aku mengucapkan nama minuman yang baru saja disebutkannya itu.
"coba dulu"
Ia mendorong gelasnya ke araku. Aku meletakkan susu dinginku yang sudah kandas.
Aku menghirup aromanya sedikit, wangi. Seperti banyak sekali kacang-kacangan, ada sedikit aroma coklat tapi aku tidak yakin, warnanya memang seperti kopi susu biasa tapi ia menyebut ini butter? aku tidak mencium aroma butter sama sekali.
"dimana butter-nya?"
"di lidah mu, rasakan dulu"
Aku mengangkat gelas itu ragu, apakah aku harus mencobanya?
Tapi ini kopi, tujuanku kemari untuk susu agar segera tidur. Bukan menunda tidur.
"sedikit saja"
Ia mengangguk. Sekali lagi meyakinkan ku untuk mencicipi minumannya.
Ku sesap sedikit cairan coklat itu. Hangat, lembut, wangi dan gurih sekali. Ah aku tidak pandai mendeskripsikan rasa. Tapi kopi dan butter sepertinya tidak buruk, ya?
Aku menyesapnya lagi, dengan sedikit tegukan yang lebih banyak.
Kopi itu melenggang di lidahku. Meluncur pelan-pelan di tenggorokan. berdansa dan menari pelan yang menyisakan sesuatu yang tertinggal di dalam mulutku. Aromanya, tekturnya, semuanya memenuhi kepala. Butter coffee? Aku bukan ahli perkopian tapi rasa ini menarik perhatianku.
Ini rasa yang lucu menurutku, creamy yang berminyak tapi tidak mengganggu, justru menyenangkan.
Butter Coffee pertamaku.
"gimana?"
"enak"
Ia tersenyum.
Kemudian, menarik kembali gelasnya. Menyesap beberapa teguk kopi yang tersisa digelasnya, pelan dan tenang. Ia menarik nafas, seperti ingin bicara panjang.
"kesukaan ibuku, dan awal pertama kali buka coffee shop juga gara gara menu ini"
"wah, ibumu suka kopi?"
"iyaa, ibuku anak agribisnis, dulu sebenarnya lebih pengen ke teknologi pangan, tapi keterimanya disana, kebetulan kakek ku punya beberapa tanaman kopi juga dari toraja, jadi sekalian di budidaya"
"wah..."
Aku tercengang. entah kenapa ia tiba tiba berbicara panjang begitu, tapi jujur dari kisahnya aku cukup kagum. Ia melihatku yang masih terkesima dengan ceritanya, senyumnya menyungging lagi. Seperti hendak menertawakan ekspresiku namun ia menjaga agar tidak kelepasan agaknya.
"sudah berapa lama buka coffee shop?"
"lama, sejak lama sekali. aku lupa tepatnya. tapi mungkin lebih tua dari umurku"
"sumpah?"
"iya, sebab itu coffee shop sejak ibu belum pacaran dengan ayahku"
"wah..."
Ia akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Ia mengeluarkan suara tawa yang sedikit ditahan namun masih sangat bisa terdengar, apalagi dengan nada mengejek. Ia menertawakan ketololanku, atau memang sedang ingin tertawa dengan cerita yang ia bagikan saja?
"Kamu suka kopi?"
"Suka"
"Kopi apa?"
"Apa saja yang enak, aku minum"
"Misalnya?"
"Apa saja, pokoknya kalo enak aku minum. Aku cuma suka kopi, bukan ngerti kopi"
Ia tersenyum. lagi.
Aku baru sadar, ternyata ia sangat suka tersenyum, murah senyum.
"Kamu, ngerti kopi?"
Aku bertanya. Hanya penasaran, barangkali dia benar-benar mengerti kopi, atau setidaknya sedikit tahu soal kopi. Toh ia bercerita soal ibunya yang punya Coffee Shop.
"Tidak"
"lalu?"
"aku hanya suka minum, kalo enak aku minum"
Ia menjawab dengan wajah dan nada yang menirukan caraku bicara. Menyebalkan.
"Lain kali, ku buatkan racikan butter coffee ku sendiri"
Ia menatapku lama. Aku bingung. Lantas, yang barusan itu racikan siapa?
"ini resep ibuku"
Ia mejawab sembarangan seolah ia mendengar suara kepalaku.
"bukannya di daerahmu, kopi pernah jadi alat tukar, faa?"
"iya, jaman dahulu kala"
Itu benar, aku pernah membaca disebuah tulisan yang aku lupa tepatnya dimana, yang jelas, ada sebuah daerah terpencil di kampung ibuku yang memang menggunakan biji kopi sebagai mata uang, sebagai alat tukar yang sah. Tapi hal itu dikenal dengan barter, dan memang biasa didaerah manapun di negara ini pada masa penjajahan dan sebelum kemerdekaan.
Ia tertawa kecil. Lalu menarik nafas lagi.
Sekarang aku tahu, setiap kali ia begitu, berarti ia sedang menyiapkan sebuah kalimat panjang hendak bercerita. Dan aku menunggunya dengan senang hati, karena ternyata, kepala laki-laki ini menyengkan juga. Kepalanya berisi.
Oh, apakah aku sedang memuji Raib yang aneh itu?
"Kamu tau faa..."
"..."
Aku menanti kelimatnya.
"Di Turki, dulu waktu masa pemerintahan Ottoman, perempuan bisa menceraikan suami mereka karena secangkir kopi, kamu tau kenapa?"
"tidak. kenapa?"
"sebab, ada kisah hukum sosial bahwa suami dianggap gagal memenuhi kewajiban rumah tangga bila mereka tidak menyediakan kopi untuk istrinya"
"loh.."
"terbalik, bukan?"
Aku terkesiap.
"kamu pernah melihat orang turki lamaran apakai kopi yang tidak sengaja ditumpahkan pada piring kecil yang menopang gelasnya? itu adat mereka untuk menunjukkan atau memberi tanda, lamaran diterima atau justru ditolak"
"aku pernah lihat bagian itu"
"iya, kalau tumpah sedikit, artinya lamaran mu diterima. tapi jika tidak sama sekali, maka silahkan pulang dan lamar perempuan lain yang mau menunpahkan kopinya sedikit untukmu"
Aku mencerna kalimatnya.
Ia tersenyum.
"apa kamu tau faa, bahwa diujung dunia sana, ada negara yang rakyatnya bahkan lebih banyak mengkonsumsi kopi daripada air mineral?"
"oh ya?"
Ia mengangguk. Kemudian, tersenyum. Lagi.
"Finland, kamu mau kesana?"
Ia tertawa geli.
Benar kata mereka, seseorang bisa tampak jauh lebih menarik jika ia punya banyak hal penting dikepalanya. Laki-laki ini mendadak sangat menarik dikepalaku. Ia tiba-tiba menjadi aneh yang menyenangkan. Ia menjadi aneh yang sungguh aku suka melihatnya bicara dengan semua fun fact yang diketahuinya.
.
Malam itu.
Aku jatuh hati.
Ku putuskan untuk menyukai laki-laki ini.
Tidak peduli, ku bilang pada langit gelap malam itu bahwa aku jatuh hati padanya.
Ku katakan pula pada secangkir butter coffee yang tersisa di depanku, bahwa laki-laki ini, sudah mulai mengganggu pikiranku.
oh, jadi hatumu jatuh pada manusia bernama Raib?
BalasHapus