menuju akhir periode, aku tidak banyak punya kesibukan di kampus selain mengurusi beberapa keperluan pengawasan untuk agenda besar tahunan uiversitas. beberapa info untuk diskusi sempat ku tolak sebab merasa tidak enak badan, beberapa hari lalu aku baru saja menuntaskan rangkaian puncak latihan kepemimpinan. aku sudah sampai di tahap tingkat lanjut. dan aku merasa butuh istirahat sejenak. . sebenarnya hanya alasan saja, tapi ya bagaimanalah.
aku pikir aku butuh beberapa hari untuk hibernasi.
setelah hujan tengah malam waktu itu, aku sulit mendapat kabar seniorku.
beberapa mas mbak yang masih berkabar mengatakan bahwa memang dia akhir-akhir ini tidak bisa ditemui bahkan sulit sekali di hubungi. aku tidak khawatir sebab seniorku yang satu itu memang punya pola sosialisasi nya sendiri.
sore itu, aku berjalan sendirian.
memutari danau kecil kampus dengan pakaian bangun tidur.
wajahku hanya berpoles perona bibir sedikit, itupun nyaris tak terlihat.
aku berniat bersantai sendirian menjelang tempat ini akan sangat teramat padat pada musim penerimaan mahasiswa baru bulan depan.
aku tidak berharap bertemu siapapun sore itu, barangkali dengan pakaian ku yang tidak benar, juga dengan wajah dan mentalku yang memang tidak siap disapa.
apa aku pernah menceritakan padamu sebelumnya?
bahwa, aku pernah menaruh hatiku pada seseorang sebelumnya.
oh belum. aku belum menaruh hatiku padanya, sebab sebelum sempat aku benar-benar mengaguminya. ia memutuskan pindah ke sebuah kota di jawa barat. dan berhenti bertanya bagaimana kabarku tiga bulan kemudian. semua seolah memang hanya sebuah pembahasan sederhana. ya tampaknya begitu.
jadi, jika ku jawab pertanyaan kak danu malam itu, soal apakah aku pernah jatuh suka sebelumnya.
maka belum bisa ku temukan jawabnnya, sebab aku memang sungguh belum pernah benar merasakannya.
sore itu, matahari terbenam terlihat tidak sejingga biasanya. tapi tetap cantik.
aku berjalan dua putaran lagi, menyapa kucing, memetik daun pohon, dan sedikit bersenandung dengan mp3 milik abangku yang ku curi dan kularikan pada hak milikku sendiri.
aku tidak terbiasa mendengarkan lagu sebenarnya, apalagi dengan alat penyuara kecil yang diletakkan di telinga ini. kepalaku rasanya mau pecah. penuh sekali. jadi paling lama aku hanya bisa mendnegar tiga sampai empat lagu saja, selebihnya ku hentikan dengan alat itu tetap menepel di telingaku.
sore itu...
sore yang tidak bisa ku bayangkan dengan separuh kesadaranku, sebab rasanya masih teramat sulit untuk bisa ku pahami. menjadi salah satu halaman yang jika diceritakan, mungkin aku memilih untuk menghapus beberapa bagian detailnya sebab memalukan.
aku menyelesaikan putaran ku yang terakhir.
aku duduk di salah satu sisi danau menghadap arah matahari terenam.
sinar jingganya menyentuh pipiku. hangat.
aku duduk melihat sekeliling tanpa sedikitpun terusik bahwa ternyata mulai ada satu-dua orang yag datang untuk uji coba alat atau mesin rakitan mereka di danau.
barangkali, sore itu menjadi salah satu sore ku yang cukup tenang.
hingga sebuah suara terdengar menyapa dari arah belakang. mengambil duduk disebelah kanan ku. melepas topi hitamnya dan mengipas seolah sangat kelelahan.
"kenapa mematikan telepon, faa?"
"tidak bawa hp, mas"
ia terkekeh. sudah tau.
"tumben mas, lari?"
"sesekali"
"oh, sudah jadi pelari kalcer?"
aku tertawa.
ia adalah kolega organisasiku. satu komisi tentu saja.
biasanya orang ini jarang sekali mau olahraga sebab katanya ia tidak suka berkeringat.
tapi entah setan apa yang merasukinya sore itu, ia berlari dengan memperlihatkan padaku rekaman stravanya yang sudah dapat beberapa kilo dengan pace yang lumayan.
"aku disuruh menyusulmu"
"disuruh? siapa?"
ia tidak menjawab.
"disuruh siapa mas?"
aku mengulang pertanyaan itu.
ku tatap wajahnya.
dia tetap diam hingga beberapa detik kemudian menyebutkan sebuah nama.
ya. siapa lagi.
"raga"
"kenapa?"
"ada hal penting yang harus kamu selesaikan"
"sepenting apa sampai mas mau disuruh suruh manusia itu?"
sore itu, dengan celana tidurku. dengan wajahku yang seperti orang tidak mandi itu, kami sama menatap terbenam matahari diantara gelombang tenang air danau yang tertium angin.
riak kecil yang beriringan mengulum perlahan nan lembut.
"kamu percaya padaku, faa?"
"sebantar, ini mau bahas apa mas? kenapa tiba-tiba?"
"susunan panwas mu"
aku diam sejenak.
benar ternyata. ini soal pkkmb itu.
wah, ku kira sore ini akan menjadi cukup tenang. oh ternyata tidak jadi setenang itu.
"bukannya sudah jadi ya? mas tau sendiri, raga selalu satu langkah didepan kita"
ia diam. benar.
manusia itu selalu satu langkah lebih unggul.
entah kenapa.
aku benci mengakuinya, tapi. manusia itu jago merapal mantra, menyusun rencana, membaca siasat, dan mencetak gol besar dengan semua langkah kecil kecil yang dibuatnya.
"kamu, percaya padaku, faa?"
ia mengulang pertanyaannya. sedikit lebih ragu. kosa katanya tertahan di tenggorokan.
seolah itu pertanyaan salah yang tidak sebaiknya disebutkan.
"kenapa tidak"
ya. kenapa tidak.
satu periode dengan manusia itu tentu bisa menjadi boomerang kapan saja yang akan menikam dan menyerangku dari segala arah.
aku tentu mempercayainya. bahkan di komisi ku sendiri, aku menaruh rasa percaya ku padanya lebih dari siapapun.
"sungguh?"
"ya, tentu aku percaya padamu, mas. tapi ada apa?"
"siapa yang lebih kamu percaya, aku atau raga?"
"mas tau sendiri jawabannya"
"siapa?"
aku mulai penasaran.
sungguh dadaku bergejolak setiap kali ku dengar nama manusia itu.
aku membencinya dengan sangat.
jadi tolong jangan sebut namanya lagi.
"aku percaya pada orang-orang yang berdiri di pihakku, mas"
"maksudmu?"
"jika kamu bahkan tidak mendukungku, untuk apa aku percaya padamu, mas"
"lalu jika raga mendukungmu, maka kau akan percaya padanya?"
aku menggeleng. tidak untuk manusia itu.
sebenarnya ini pertanyaan macam apa.
tentu aku percaya padanya, sebab kami, kita harus sejalan untuk visi misi organisasi terkhusus satu komisi. apa yang ia maksud dengan pertanyaan kepercayaannya itu.
sore itu, jingga di langit sudah mulai semayup tak terlihat.
buram.
"jawab, faa. jangan hanya diam saja"
"aku membencinya. aku tidak bisa percaya pada orang yang ku benci"
"jika ia berdiri di pihakmu?"
"tidak peduli. aku membencinya"
dan bukankah kalimat itu sebuah ketidakpastian.
manusia itu, tidak akan pernah berdiri di pihakku.
ia menyukai ketidakberdayaan seseorang dengan ketidakmampuan pengetahuan dan kesempatan yang ia rampas pelan-pelan.
buram.
"maka kamu harus berhenti membencinya, faa"
"kenapa?"
buram.
"ini soal danu"
Komentar
Posting Komentar
hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!