dalam kayu : raib, namanya
Bagian 1
Loving can hurt, loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know
When it gets hard, you know it can get hard sometimes
It is the only thing makes us feel alive
.
Sebuah amanah besar menjadi bagian dari masyarakat desa selama beberapa bulan untuk menyandang tugas sebagai mahasiswa yang mengabdi. Semester yang melelahkan menurutku.
Agak sedikit menyesal sebab surat permohonan internshipku tidak segera mendapat balasan sehingga aku terpaksa harus mendaftar sebagai peserta terakhir di desa ini. Menyebalkan.
Barangkali, kisah kali ini hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan sebuah kapal yang belum jelas ingin kemana bersanggah. Terus berlayar tanpa seorang navigator sebab inginnya hanya menuruti kemana arah angin bertiup. Aku mengikuti tiap hembusan itu, pelan dan sejuk. Meski sesekali khawatir, dan bingung, apakah dermaga yang nantinya ku singgahi menerima dengan baik, atau justru tidak nyaman dan ingin segera aku menjauhkan kapalku.
Malam itu, malam dingin ke sekian kalinya yang ku lewati tanpa bisa tertidur dengan tenang. Satu, suara kipas yang terlalu berisik. Dua, kasur yang tidak empuk. Tiga, bantal yang terlalu kempes. Empat, cukup sempit sebab aku tidur diantara dua manusia berbadan lebih besar dariku. Dan yang kelima, mereka mendengkur.
Aku tidak menyalahkan dengkuran itu, sebab-katanya itu normal. Tapi, tidak pernah sekencang ini sebelumnya. Mungkin mereka terlalu kelelahan, tidak apa, aku juga kadang mungkin begitu. Aku bangun, menuju dapur. Tidak tau tujuanku apa, tapi setidaknya aku mencari apa yang bisa ku konsumsi untuk sedikit membantuku agar mengantuk malam ini. Bahaya kalau tidak segera tidur, agenda besok akan sangat padat. Dan menjadi maslaah jika aku kekurangan waktu istirahat.
Rumah posko yang kutinggali tidak begitu besar, tapi cukup untuk sebelas prajurit dan tiga tuan putri yang akan menjalankan 20 sksnya sebagai mahasiswa KKN di desa ini. Aih, benci sekali mengingat hal itu. Ya. Aku benci KKN. Aku membuka kulkas, melihat beberapa potong buah segar, dan kaleng-kaleng kopi yang berjejer. Menggiurkan. Seseorang datang dari belakang, dengan cangkir beruap ditangan kanannya.
"coklat, mau?"
Aku menggeleng.
"Kenapa?"
"Tidak suka"
Ia meletakkan cangkirnya di meja makan. Melihat sekeliling, lalu menwarakan sesuatu.
"Susu?"
Aku mengangguk.
Ia membuka lemari kaca disebelahnya, mengeluarkan cangkir, lalu memberikannya padaku. Aku mengeluarkan susu dari kulkas, ku tuang beberapa mili, secukupnya. Ku tutup kembali. Ku teguk perlahan hingga tandas. Habis.
Aku mencuci cangkir yang ku pakai. Meletakkannya kembali pada lemari. Lalu duduk disebelah orang itu yang sedang mengaduk gelas berisi coklatnya.
Namanya Raib. Jika kamu perah membaca Series Bumi dari Tere Liye barangkali nama itu familiar, Seorang perempuan berusia 15 tahun. Tapi orang ini, Raib sesorang laki-laki berusia dua puluhan awal. Pertama kali ia memperkenalkan namanya, aku sempat tertawa kecil sedikit sebab menurutku, itu adalah nama yang unik, dan aneh tentu saja.
Ia orang pertama yang mengajakku bicara di awal pertemuan kelompok untuk diskusi soal keberangkatan, dan ia pula yang menawarkan diri untuk berangkat barengan. Waktu itu, aku ingat sekali dia memakai kemeja flanel warna putih hitamnya. Dengan celana jeans khas ala anak teknik, dan gantungan kunci yang berisik di sisi kiri celananya-tentu saja. Suaranya agak aneh ketika ia menyebut huruf h dan r, bukan cadel, tetapi ada sesuatu yang berbeda setiap kali ia bicara. Rambutnya hitam panjang, sedikit gondrong, lurus bergelombang. Matanya-kadang memberikan tatapan aneh yang sulit sekali diartikan. Sebab, ia suka sekali tiba-tiba bertanya "kenapa?" pada percakapan orang lain, sungguh menyebalkan melihatnya begitu.
Yang ku tahu, ia jago berlari. Pernah sekali tidak sengaja ku dengar ia bercakap dengan teman kelompok yang lain bahwa ia sangat suka berlari. Bahkan dia menyebutkan beberapa merk sepatu sport favoritnya. Ia bilang, kalau seandainya duitnya banyak, sekalian saja beli sahamnya. Ada yang lucu ketika sekali aku melihatnya bercerita soal keluarganya-tentu saja ketika pembasan kelompok kami sedikit mulai menyebut soal ayah atau ibu mereka. Ia bilang, ayahnya seorang pengacara tapi khusus bantuin kasus orang jahat saja. Sebab katanya, jauh lebih seru melihat manusia berbohong atas tindakannya. Aku tidak menemukan letak lucunya sampai ia menceritakan salah satu kasusnya, yaitu kasus pencurian pohon kecambah. Aih itu lucu sekali. Barangkali, selera humornya tidak terlalu buruk, dan memang, ia pandai bercerita.
Ia juga jago beberapa bahasa daerah, selain bahasa jawa dan madura yang sering kali ia jadikan bahan lelucon, ia juga sering mencoba bercakap dengan bahasa sunda dan logat medan yang agak sedikit dipaksa. Dia mengaku memang pernah belajar beberapa bahasa daerah, termasuk bahasa bugis dan sedikit melayu. Aku juga awalnya tidak percaya, tapi sampai dimana ada sebuah momen ia mengajakku membeli bahan masakan untuk piket masak di posko, ia bercakap dengan bahasa bugisnya. Bagus dan terdengar lancar sekali. Dan uniknya, huruf h dan r pada bahasa bugis yang keluar dari mulutnya tidak terasa aneh. Aku pernah memujinya, tapi dia bilang "jangan suka memuji manusia tampan, nanti makin tampan"
Semakin aneh. Seperti namanya, Raib. Aneh.
Malam itu, ku lihat lampu kamarnya sudah mati, begitu juga beberapa ruangan disekitarnya. Dia berjalan dengan keadaan semuanya gelap. Sebab ku lihat, hanya lampu dapur saja yang menyala.
"Besok jam setengah tujuh semua, faa?"
"Iya, kalau bisa lebih cepat, lebih baik"
Ia mengangguk.
Aku beranjak, bersiap menuju kamar. Tapi laki-laki itu seperti ingin mengobrol lama sebab tidak tampak niat ingin tidur dari yang bisa ku lihat di wajahnya. Barangkali ia memang berencana tidak tidur. Maka, aku mengurungkan niatku. Hanya pura-pura membetulkan posisi duduk.
"tumben"
"liquid ku habis"
"pantes"
Hening. Yang terdengar hanya suara detik suara jarum jam dinding.
Benar sekali, sulit mencari laki-laki tanpa asap di zaman sekarang. Bahkan ketika mereka mengaku bukan perokok pun, tetap akan ada istilah lain untuk menghisapnya. Termasuk si elektrik yang satu itu.
"Kamu, sama Bagus, sekelas?"
Ia memulai topik.
"Engga, aku sekelas sama Awan, sama Reyhan"
Ia mengangguk. Paham.
"Kenapa?"
"Tidak"
Aku lupa malam itu sudah pukul berapa, tapi segelas susu yang ku teguk tadi memang memberiku sedikit rasa ngantuk. Aku menatap langit langit dapur, sebagian atapnya dibuat tembus pandang agar bila siang hari, cahaya lampu tidak bekerja disana.
"Kamu..."
Ia menahan kalimatnya. Sepertinya sedang berfikir sesuatu. Seperti memilih kata yang cocok untuk pertanyaanya.
"Pernah ga sih, ngerasa ada orang yang ganggu pikiranmu?"
Aku diam. Agak terkejut. Tapi kemudian tentu saja ada senyum kecil tidak sengaja yang ku buat, itu pertanyaan geli menurutku. Aku melihat wajahnya, dan keningnya hanya berkerut penuh tanya.
Wajahnya masam. Padahal ku tebak coklat panas yang berada di tangannya itu manis. Seperti seharusnya. Ia kemudian menunduk, menatap lama meja makan didepannya dan cangkir itu tentu saja.
Suara jangkrik mulai terdengar, menjadi jeda sebelum aku menjawab pertanyaan konyolnya.
Aih, apakah dia memang seaneh namanya?
"Itu bukan ganggu... Itu namanya jatuh hati"
Komentar
Posting Komentar
hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!