tanabata : tulip kuning di bulan november
Kasih sayangmu membekas
Redam kini sudah pijar istimewa
Entah apa maksud dunia
Tentang ujung cerita
Kita tak bersama
Semoga rindu ini menghilang
Konon katanya waktu sembuhkan
Akan adakah lagi yang sepertimu
Lagu tulus kesekian yang diputar di coffeeshop ini.
Aku tidak jenuh karena lagunya, barangkali memang liriknya saja seperti orang sedang jatuh suka.
Aku bukan tidak suka penyanyinya, bahkan jujur semua lagunya menyenangkan, namun di situasiku saat ini, canggung sekali diputar lagu semanis ini.
"bagaimana kabarmu, faa?"
Sebuah jamuan kopi tengah malam akhirnya terlaksana setelah manusia aneh itu sulit sekali dihubungi oleh seniorku. sebuah janji temu yang menjadi wacana beberapa bulan lalu sebelum dinyatakan menjadi demisioner. jujur pertemuan yang cukup canggung mengingat terakhir bertemu dengannya, aku sedang tidak dalam kondisi baik.
ah kapan-kapan ku ceritakan padamu bahwa manusia aneh itu sempat memapah tubuh kecilku menuju klinik sebab kaki ku terluka dan kesulitan berdiri.
tidak perlu kaget, ia bahkan sempat memaksa menggendong ku.
wah aneh sekali jika itu benar terjadi.
"baik kak, jauh lebih baik"
"kakimu?"
"aman"
"bisa jalan?"
aku memperlihatkan kaki kanan ku yang sudah tidak lagi berbalut perban.
aman kak, aku sudah bisa jalan, lari juga udah bisa.
"aman kak"
"kapan?"
eh?
manusia itu terkekeh geli. bercanda.
Sejak kapan ia mulai bercanda?
Sejelek inikah candaannya?
Oh dasar manusia aneh.
Jamuan malam ini adalah undangan dari seniorku. kalau bukan karenanya, tentu aku menolak datang. Untuk apa? membuang waktu dengan duduk dan berbicara dengan manusia ini berjam-jam lamanya?
"Danu bilang, semester depan mu akan kkn? benar?"
"tidak"
"oh.."
"maksudnya, tidak tahu"
manusia itu terkekeh lagi. kali ini ia tersenyum garing.
"kok bisa tidak tau, faa?"
"ya tidak tau, kan masih magang kak"
Ia mengangkat gelas kopinya, meminum sedikit cairan hitam pekat itu. menyesapnya perlahan. kemudian ia menatap sekeliling.
"kamu yang cari tempatnya?"
"bukan"
"Danu?"
Aku mengangguk. Satu hal yang ku sadari, kali ini ia tampak sangat ingin sekali banyak bicara. aku tidak jago menebak seseorang, barangkali terakhir ku tebak isi kepalanya semua salah. tidak pernah tepat sasaran.
Tapi kali ini, aku tidak tahu, kepalanya seperti berisik sekali.
ia ingin banyak berbincang meski aku tidak tau harus membahas apa jika harus ku keluarkan banyak pertanyaan kepadanya.
Kami hanya kolega organisasi, dan sudah itu saja. Tidak pernah ku tahu soal hidupnya, selain pacarnya yang anak komputer itu, dan juga keponokannya yang putih dan gempal.
"aku melihatmu, kemarin"
"..."
"di tanabata"
"kan...aku...memang sering...kesana...kak"
lalu kenapa tidak menyapa?
aku tidak melihatmu disana.
bohong yaa.
"aku liat di pintu masuk sih, kebetulan aku lewat"
"ooh..."
Aku tidak tau ini pemikiran macam apa, tapi aku berharap ia tidak membawa orang lain yang barangkali ia anggap spesial untuk datang ke tempat itu. Jujur itu tempat favoritku, dan aku tidak suka tempat itu menjadi lebih ramai.
Setidaknya sekitar setengah jam aku harus menjawab semua pertanyaan manusia itu sendirian sampai ku dapati sebuah mobil putih yang ku kenal mendekat dan parkir di halaman. Seniorku sudah datang. Tentu aku senang.
Wajahnya murung juga dengan sedikit marah. Kemudian ia mendekat dengan sebuah buket bunga yang sangat besar. Amat besar.
"buatmu saja"
Ia menyodorkannya didepan wajahku, besar sekali. oh sungguh sangat besar.
"kau baru saja menyatakan perasanmu?"
manusia itu penasaran. begitupun juga aku.
Tidak pernah ku lihat buket bunga segar sebesar ini sebelumnya. Bunga tulip pula. Dimana kau bisa menemukan tulip segar dan semanis ini di kota panas sebusuk Surabaya ini?
Wah aku menyunggingkan senyum, merekah bahagia.
Aku suka tulip.
"Tidak"
"Lalu?"
Manusia itu benar-benar penasaran. Kuletakkan bunga itu di kursi sebelahku.
"Aku baru saja datang ke makam ayah temanku, ku bawakan tulip karena temanku menyukainya, berharap ia memujiku tapi saat aku tiba disana, aku hanya dapat perlakuan kasar. dan sekarang aku menyesal sudah datang"
"siapa kak?"
"teman lama, faa"
"oh..."
"kamu bawa pulang saja, kamu bilang suka tulip, kan?"
"boleh?"
"boleh"
Aku senang. karena dapat tulip. Tapi manusia itu tidak senang. Apakah dua orang ini pernah mengenal orang yang sama? Atau manusia ini tau siapa orang yang baru saja diceritakan seniorku?
"kenapa tidak kau buang saja?"
"mahal"
"pantes"
Maka, setelah beberapa menit menunggu amarah itu reda di wajah merah seniorku, manusia aneh itu kembali melontarkan banyak pertanyaan. Sudah ku duga benar manusia itu sedang ingin banyak bicara malam ini. Aku tidak banyak menyahut sebab kurasa pembahasan itu, hanya mereka saja yang tahu. Terlebih mereka menggunakan bahasa jawanya.
Malam itu, ku coba mencari tahu apa sebuah arti bunga tulip kuning bagi seseorang. Tidak ku temukan jawaban. Jika bertanya, tentu aku sungkan. Maka ketika pertemuan canggung itu selesai, dan ku bawa pulang bunga itu, sebuah suara menjawab beberapa pertanyaan yag tak sempat ku ucapkan.
.
"kamu tau kenapa aku memberinya tulip kuning, faa?"
"kenapa?"
Sambil menyetir, tangannya yang gemetar menyentuh kemudi perlahan membuka jendela. Membiarkan angin malam menyapa dan bertabrakan dengan wajahnya. Rambut ala Dilan-nya bergoyag sempoyongan tertiup angin.
Ia menghembuskan nafasnya gusar.
"zaman dahulu, tulip kuning sering dikaitkan dengan penolakan cinta ataupun rasa cemburu..."
"wah..."
Aku speechless.
ku miringkan tubuhku agar bisa menatap seniorku yang hati batu ini lebih jelas. Ia adalah manusia tanpa perasaan, tidak tau cinta di hampir setua usianya. Maka dari kalimatnya barusan, tentu aku butuh penjelasan. Sebagai adik kesayangannya di angkatan aku harus tau kisah cinta jelek ini, aku akan menyimaknya bahkan jika ia bercerita sampai jam dua pagi.
"itu dulu, sekarang sudah tidak"
"lalu?"
"aku membelinya karena ia suka, tapi ketika aku datang, ayahnya baru saja tiada"
"oh berarti memang bukan datang untuk ziarah dong...tadi ngomongnya..."
"tidak ada orang datang ke ziarah bawa bunga tulip kuning, faa"
"maaf..."
Ia diam cukup lama, matanya lurus ke depan menatap jalanan surabaya yang mulai sedikit sepi sebab hari sudah sangat larut.
Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang ingin sekali aku ajukan, soal kalanjutan saat ia datang sebab katanya ayah temannya baru saja tiada? tidak kah harusnya seniorku ini ikut berdoa saja? atau apakah setelah tulip kuningnya ditolak ia langsung pulang begitu saja? atau bagaimana detail kejadiannya?
"aku tidak menyatakan perasannku, hanya berniat memberinya"
"..."
"tapi ia bilang tak bisa menerima sebab hatinya sudah ada yang menjaga, oh anjing sekali..!"
Ia mengumpat dengan keras sambil memukul kemudi.
Aku tidak suka suara itu sebab terdengar tinggi seperti orang sedang membentak dan marah.
Aku kaget. Umpatan memang biasa diucapnya, tapi kali ini ia terlihat benar-benar sangat marah.
"aku tidak tau bahkan jika jari manisnya sudah diikat janji, bodoh sekali aku. anjing memang anjing!"
ada hening yang lama setelah ia bercerita.
sebab aku tidak tau ingin bereaksi apa.
seniorku yang seperti tidak punya waktu untuk wanita ini sedang jatuh suka ternyata.
oh masih ada wanita yang berhasil ia cinta dalam hati batunya itu.
"sejak kapan naksirnya mas?"
"dia teman masa kecilku"
"cinta lama ya"
"kurang lebih seperti itulah"
aku memperbaiki dudukku kembali melihat ke depan.
membayangkan detail dari sedikit ceritanya. ternayat lucu juga membayangkan seniorku punya seseorang yang ia sukai. entah seperti apa rupa wanita itu tapi kubayangkan pasti ia cantik sekali.
"lalu, kamu?"
"kenapa mas?"
Danu namanya.
Seniorku yang paling ku hormati, yang paling ku segani, juga tentu yang paling ku sayangi sebab sangat membantu hidup di perkuliahan selama ini.
Ia bertanaya seolah lupa topik sebelumnya.
Ia bicara santai seolah lupa bahwa daritadi yang sedang dibicarakan adalah dirinya sendiri.
"kamu punya teman masa kecil? atau cinta lama? mungkin..."
"tidak mas, tidak ada"
"sungguh?"
Aku mengangguk.
"apa yang kamu takutkan?"
"..."
"kamu, takut jatuh suka ya?"
"padahal jatuh cinta itu menyenangkan"
"..."
"cuma tidak enak bagian sakit hatinya saja"
Ku kira Danu naksir si cwk Anjir
BalasHapusbaca part baru deh kak
HapusBerarti harusnya si Raga bukan saingan dong
BalasHapusemang bukan, raga udh punya pacar kak
Hapus