Postingan

terbang ke saturnus : dia tambah tua

Sekitar sebulan yang lalu, dia berulang tahun. Ya, tepat tanggal enam bulan lalu. Dia marayakan ulang tahunnya tanpa saya. Sama seperti tahun sebelumnya. Dia melewati semuanya tanpa saya. Dia terbiasa begitu. Karena mau atau tidak, setuju atau tidak setuju, dengan atau tanpa saya, waktu akan terus berjalan dan memang akan selalu begitu.  Saya ingat, tahun lalu kami masih baik-baik saja dengan semua kekonyolan dan omong kosong yang kami punya di setiap obrolan telepon. Beberapa minggu sebelum ia berulang tahun, dia sempat bilang bahwa saat itu tidak ada yang lebih ia inginkan dari sekedar ucapan dan doa selamat dari saya. Menurutnya begitu saja cukup.  Aih, tapi semesta bahkan tidak membuat harapan sederhana itu menjadi nyata. Sebab sebelum semua hari di lalui bahkan mendekati hari jadi kelahirannya itu, hubungan pertemanan kami sudah kandas bahkan tanpa kalimat perpisahan yang baik untuk di kenang.  Perpisahan yang ga bisa dibawa santai. Karena menurut saya, hari itu masi...

terbang ke saturnus : jurus tanya tanya

Lampu jalan di ujung lorong sudah redup. Berkali-kali mati kemudian hidup lagi dengan sendirinya. Dua tiga kali cahayanya mendadak terang sekali. Tapi setelah itu, kembali menggelap. Orang yang sudah biasa lewat mungkin tidak asing dengan lampu penerang jalan yang nyawanya nyaris tidak ada ini. Tapi buat sebagian orang yang jarang lewat jalan ini, mungkin agak sedikit menyeramkan. “masih jauh?” Suaranya mengalihkan ketakutan saya. Telepon itu sengaja saya sambungkan agar tidak begitu merasa sedang sendirian. “bentar lagi nyampe” Saya baru pulang sekolah. Ini adalah pertama kalinya pulang sekolah lewat jam tujuh malam sendirian. Jalan kaki pula. Semuanya berawal dari perkara kunci toilet di labor jurusan. Toilet itu harus selalu di kunci setiap selesai digunakan. Saya di tunjuk sebagai pemegang kunci. Harusnya, tanggung jawab kunci itu di pegang bersama. Tapi sekelas dengan manusia manusia egois nyatanya tidak memberi kesempatan baik untuk bekerja sama. Saya mencari kesana kemar...

terbang ke saturnus : manis tipis tipis

Rupanya menjadi lemah itu menyenangkan. Ya meski ga selalu menguntungkan, tapi saya kira orang orang yang mengaku lemah bisa punya pelindungnya dengan mudah. Enak aja gitu liat mereka yang apa apa ada saja yang membantu menyelesaikan masalahnya. Pernah waktu itu, di suatu malam pada pertengahan bulan maret sebuah topik pembicaraan kembali membawa kami menyambungkan telepon suara jarak jauh. Ceritanya sekitar setahun yg lalu, malam itu saya pura-pura ga sengaja kepencet tombol panggilan. Berharap tidak diangkat, eh ternyata suaranya sudah menjawab bahkan di detik kedua panggilan itu saya sambungkan. “Assalamualaikum manis ..” Suaranya menyahut di ujung telepon. Bernada santai seperti biasa bagai orang yg hidupnya tenteram nan bahagia. Ais dia lupa masalahnya apa gimana? Anjirr kikuk bgt gw nelpon dia beginian.  “kk..kok diangkat?” “ya gimana, ga sengaja kepencet” “eleh”   Saya menggigit bibir.  Duh, ni mau ngomong apaan kalo udah begini .  “ngapain, tumben berani nelp...

terbang ke saturnus : karena tidak pernah

Hujan deras dari tadi sore ga berenti juga. Padahal kayaknya penghujung maret bukan musim yang banyak hujannya. Sudah lebih dari enam jam kira-kira langit itu menangis. Entah apa yang membuatnya sedih hari ini hingga harus ngguyur bumi lebih lama. Ya, dari azan ashar sampe selesai sholat isya.  Hujannya ga pantang menyerah. “hujan itu rahmat, di syukuri saja” “tapi, Fal aku udah doa supaya ga hujan biar acaranya jadi” Mungkin kalimat saya barusan sedikit terdengar canggung. Saya mengucap kata “aku” disana pada seseorang yang bahkan mengajukan panggilan “lo-guwe” disetiap pembicaraan.  “ya berarti Tuhan lagi ngabulin doa orang lain, gantian” Duh, dia ngga ngerti. Sebagian orang justru akan jadi repot kalo hujan turun. Ais, banyak repotnya menurut saya. Hujan hanya akan memberi jeda, sehingga pekerjaan gabisa langsung dilakukan semua. Hujan cuma bikin hal yang baik jadi tertunda. Jujur, saya sedikit tidak suka hujan. Rencana tadi sore yang saya susun berhari hari lalu harus dipa...

t i g a p u l u h t u j u h

Gambar
Karena suka sama kamu, banyak sakitnya . Semesta terlanjur bilang ga suka sama hubungan kita.  Iya Mars, suka sama kamu terlalu banyak kecewanya. Ku kira kita akan segera baik-baik saja. Tapi, ternyata kamu milih buat nyerah aja. Padahal seharusnya, kita punya banyak kesempatan buat ngadepin masalah sama sama. Kalau saja, hari itu kamu ga nyoba buat ngelepasin hal yang susah didapetin. Seharusnya, kita punya banyak cerita untuk dilanjutkan, kalau aja waktu itu kamu ga milih buat berakhir dengan sebuah perpisahan yang aku harap, kita bisa jauh lebih baik dari itu. Setelah pesan menyakitkan darimu malam itu, ku pilih untuk mengubur baik perasaan ku padamu. Nomor kontak mu sudah benar ku blokir sekarang. Tidak disimpan dengan nama apapun, melainkan hanya deretan angka yang meski aku hafal semua nomornya. Gak apa, mungkin emang gitu cara semesta nunjukin seberapa keras kepalanya aku memilih untuk tetap sama kamu. Gapapa Mars, mungkin emang dari awal kita sama-sama egois. Terlalu memak...

l i m a

Mungkin saja, jika ku putuskan malam itu untuk tidak pernah menjawab pesan mu, kita tidak akan pernah secanggung ini saat berjumpa. Hm lebih tepatnya saling lirik saja. Meskipun aku masih menyimpan banyak keraguan soal kamu nyata atau tidak. Bagaimana aku bisa percaya bahwa manusia aneh sepertimu itu benar-benar nyata, jika semua yang kamu lakukan selalu saja berhasil mengagetkan. Semua ulah mu, apa saja yang kamu perbuat pasti akan berujung dengan kalimat “Mars.. Kamu beneran?”  Aku masih tidak bisa percaya, tuan. Bahkan sekeras apapun kamu berusaha untuk meyakinkan. Kejutan kejutan yang sudah kau susun rapi, terlalu mulus masuk di imajinasi ku yang sudah kacau balau memikirkan tentang mu. Bisa-bisanya empat hari setelah pensi itu, kamu menunjukkan wajahmu. Tersenyum. Boleh ku katakan kamu seorang penjahat sekarang? Mencuri semua isi kepala ku. Membawanya lari ke suatu tempat tanpa memberi tau dimana kau letakkan semua rencana gila mu. Memperkenalkan diri sebagai Mars yang pendiam...

terbang ke saturnus : singgah engga sungguh

Kadang, kita butuh waktu buat bisa nenangin diri. Entah itu self reward dengan cara tersendiri, atau justru malah pergi dengan cara melarikan diri. Engga semua orang punya cara yang sama, ya karena mereka punya masalah yang beda.  Suatu hari, pernah waktu itu saya dan dia membicarakan masalah apa serunya kabur.  Melarikan diri dari rumah yang orang selalu ngira bakal susah untuk balik lagi. Padahal, kabur adalah kegiatan sehat kalau dilakukan dengan batasan tertentu. Asal kita ngerti waktu, dan tau kapan bakal kembali.  Kabur adalah kegiatan menyelamatkan diri sendiri, dari masalah yang terlalu berat buat dihadapi. Jadi kabur dulu, meski kabur ga selalu menyelesaikan masalah, paling ngga. Kabur ngajak diri sendiri buat istirahat dulu.  “lu pernah kabur?” Telepon ke sekian kalinya di minggu ini. Jika sempat, dia akan menagih utang untuk membacakan puisi saya padanya sebagai pengantar tidur. Tidak seperti manusia itu, dia bahkan tidak tau saya membuat banyak puisi untu...