terbang ke saturnus : karena tidak pernah
Hujan deras dari tadi sore ga berenti juga. Padahal kayaknya penghujung maret bukan musim yang banyak hujannya.
Sudah lebih dari enam jam kira-kira langit itu menangis. Entah apa yang membuatnya sedih hari ini hingga harus ngguyur bumi lebih lama.
Ya, dari azan ashar sampe selesai sholat isya.
Hujannya ga pantang menyerah.
“hujan itu rahmat, di syukuri saja”
“tapi, Fal aku udah doa supaya ga hujan biar acaranya jadi”
Mungkin kalimat saya barusan sedikit terdengar canggung. Saya mengucap kata “aku” disana pada seseorang yang bahkan mengajukan panggilan “lo-guwe” disetiap pembicaraan.
“ya berarti Tuhan lagi ngabulin doa orang lain, gantian”
Duh, dia ngga ngerti. Sebagian orang justru akan jadi repot kalo hujan turun. Ais, banyak repotnya menurut saya. Hujan hanya akan memberi jeda, sehingga pekerjaan gabisa langsung dilakukan semua. Hujan cuma bikin hal yang baik jadi tertunda. Jujur, saya sedikit tidak suka hujan.
Rencana tadi sore yang saya susun berhari hari lalu harus dipaksa untuk ditunda. Kalau ngga jadi gini, bawaannya kesel.
“udah faa, lu ngomel ngomel mulu dari tadi, mending bacain gw puisi”
“abis puisi gw cuma buat bacain lu doang”
Orang yang gw bikinin puisi malah pergi ntah kemana.
Baru pukul setengah sepuluh. Tapi telepon sudah di sambungkan. Katanya tadi, di tempat dia mati lampu, jadi ponselnya di cas sambil telponan. Bisa di tebak kalau kamarnya sekarang terdengar jelas suara saya, karena dia pakai loudspeker, bukan headset.
“ya bikin lagi dong”
Njirr, dikira bikin puisi gampang.
“gada inspirasi”
“hujan nooh”
“puisi soal hujan mah udah banyak, udah biasa fal”
Dia ketawa. Bener juga mungkin pemikiran saya menurutnya. Sudah berapa banyak puisi saya yang dia tau ada hujannya. Banyak sekali.
“yauda bikin puisi soal gw. Tentang...”
“apa?”
Sengaja, saya pura-pura ga tau.
“tentang kita misalnya”
Dia ketawa lagi.
“lu lupa ya, kata ‘kita’ ga pernah beneran ada”
“iya tau”
Dia masih ketawa.
“kan lu bisa pake kata ‘lu dan guwe’ tanpa harus pake kata ‘kita’ faa”
“ya gabisa gitu dong”
Ketawanya tambah kenceng.
“bisa faa. selama ini, lu pacaran sama orang tanpa adanya kata ‘suka’, bisa kan?”
Dia benar. Dia seratus persen benar.
“gw suka dia”
Saya menekan kata ‘suka’ disana.
“dia yang ga suka lu, tolol”
Dia juga mengeraskan kata yang sama. Merasa tertampar. Saya diam.
“toxic bat bibir lu”
Dia memang biasa bicara seperti ini, tapi tidak dengan saya. Ya jelas lah pasti dengan teman-temannya. Maklum.
Tapi setelah kalimat saya itu, suaranya jadi pelan.
“maap ya, harus gitu biar lu sadar”
Saya diam. Membiarkan dia bicara.
“harusnya lu berenti nulis puisi bego lu itu, dia mungkin aja jijik faa”
Hujan kembali deras. Padahal tadi udah mulai reda, tapi sekarang langit malah jadi seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Lebih sedih lagi.
Beberapa menit telepon itu hanya diisi suara air yang jatuh menghantam atap atap rumah. Tidak ada yang bicara diantara kami. Saya memikirkan kalimat terakhirnya.
Ya, mungkin saja benar. Orang itu bisa saja tidak suka dengan puisi yang saya buat untuknya. Dia bisa saja merasa aneh jika tau bahwa saya suka menulis puisi tentangnya.
Fal. Lu... Bener lagi kali ini.
Ah tapi rasanya, dia saja tidak pernah tau kalau saya menulis puisi.
Atau lebih benarnya lagi— dia bahkan tidak pernah peduli bahwa selama ini saya menulis apa saja untuknya.
“harusnya puisi lu punya tuan yang lebih layak, faa”
“dia layak”
Karena, sejak puisi pertama waktu itu saya luncurkan untuk bisa dinikmati dan dibaca banyak orang, sejak saat itu saya yakin dia memang layak buat jadi tokoh yang disukai banyak orang.
Karena kalo ngga dia orangnya, ya berarti ngga siapapun.
cowo jarang suka puisi soalnya
BalasHapus