Postingan

l i m a

Mungkin saja, jika ku putuskan malam itu untuk tidak pernah menjawab pesan mu, kita tidak akan pernah secanggung ini saat berjumpa. Hm lebih tepatnya saling lirik saja. Meskipun aku masih menyimpan banyak keraguan soal kamu nyata atau tidak. Bagaimana aku bisa percaya bahwa manusia aneh sepertimu itu benar-benar nyata, jika semua yang kamu lakukan selalu saja berhasil mengagetkan. Semua ulah mu, apa saja yang kamu perbuat pasti akan berujung dengan kalimat “Mars.. Kamu beneran?”  Aku masih tidak bisa percaya, tuan. Bahkan sekeras apapun kamu berusaha untuk meyakinkan. Kejutan kejutan yang sudah kau susun rapi, terlalu mulus masuk di imajinasi ku yang sudah kacau balau memikirkan tentang mu. Bisa-bisanya empat hari setelah pensi itu, kamu menunjukkan wajahmu. Tersenyum. Boleh ku katakan kamu seorang penjahat sekarang? Mencuri semua isi kepala ku. Membawanya lari ke suatu tempat tanpa memberi tau dimana kau letakkan semua rencana gila mu. Memperkenalkan diri sebagai Mars yang pendiam...

terbang ke saturnus : singgah engga sungguh

Kadang, kita butuh waktu buat bisa nenangin diri. Entah itu self reward dengan cara tersendiri, atau justru malah pergi dengan cara melarikan diri. Engga semua orang punya cara yang sama, ya karena mereka punya masalah yang beda.  Suatu hari, pernah waktu itu saya dan dia membicarakan masalah apa serunya kabur.  Melarikan diri dari rumah yang orang selalu ngira bakal susah untuk balik lagi. Padahal, kabur adalah kegiatan sehat kalau dilakukan dengan batasan tertentu. Asal kita ngerti waktu, dan tau kapan bakal kembali.  Kabur adalah kegiatan menyelamatkan diri sendiri, dari masalah yang terlalu berat buat dihadapi. Jadi kabur dulu, meski kabur ga selalu menyelesaikan masalah, paling ngga. Kabur ngajak diri sendiri buat istirahat dulu.  “lu pernah kabur?” Telepon ke sekian kalinya di minggu ini. Jika sempat, dia akan menagih utang untuk membacakan puisi saya padanya sebagai pengantar tidur. Tidak seperti manusia itu, dia bahkan tidak tau saya membuat banyak puisi untu...

terbang ke saturnus : terlanjur terlalu bergantung

“sebentar faa, cuma sebentar” Panas terik membuat keringat mengucur dari jidat. Tengah hari yang begitu menggosongkan kulit. Ini magang hari ke dua. Di tengah saya mengerjakan tugas saya, nomor itu masuk menjadi deretan angka tak bernama. Angka yang cukup saya tau siapa pemiliknya. Sembilan satu ujungnya.  Ketika saya terima panggilan telepon itu, maka suaranya menjadi pembicara di ujung sana. “lima menit saja” Dia hanya mencoba memperbaiki apa yang salah kemarin, faa.   “apa kabar fal?” Pertama kali mendengar suaranya setelah sekian lama, mungkin dia kira saya akan menolak teleponnya. Tapi, situasi dimana kami udah ngga kayak dulu lagi, emang kayaknya lebih baik saya dengar cerita dia kali ini. “baik faa, gw sehat. Lu gimana?” Masih saja. Masih seperti itu. Sebutan Lu-gua ga bisa lepas dari kebiasaannya. Gapapa. “agak cape dikit. Lu ada perlu apa, ngapain nelpon?” Dia diam.  Saya berteduh. Nungguin dia diam ngga cukup lima menit. Saya menghembuskan nafas agak keras, biar...

e m p a t p u l u h

Gambar
(BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS!)  .  Bab Terakhir : Bagian yang tak pernah ku tuliskan . . Ada beberapa hal yang terjadi sebenarnya, tapi ngga lebih baik untuk ditulis kisahnya. Mars, ku rasa kamu salah satu diantaranya, tapi aku memilih untuk melanjutkan paragraf yang sudah ku mulai dulu dengan mu waktu itu. Aku memilih untuk melanjutkan deretan kalimat tentang mu yang sudah ku mulai dengan baik masa itu.  Kamu tau, deretan manusia yang sudah lewat menjadi pemeran pembantu di kisah ini justru sebenarnya bukan ada apa apanya. Karena cuma  kamu inti ceritanya. Kamu tokoh utamanya, mau sejahat atau seburuk apapun kamu. Kamu akan tetap jadi yang paling pertama. Tapi sebelum itu, mari ku bagikan padamu. Hal yang belum pernah kau tau seperti apa bagian cerita itu awalnya jika seandainya kamu tidak ada. Cerita yang bermula dimana aku tidak pernah berhasil mengingat wajahnya. Tenang Mars, ini masih soal kamu. Soal bagaimana awal mula cerita ini ku tuliskan untuk menggambarkan...

t i g a b e l a s

(BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS!)  Akhirnya, dua minggu yang mendadak terasa panjang akan segera berakhir. Yeay. Celengan rindunya akan segera pecah. Malam ini aku akan berangkat. Kembali pada kota tempat dimana aku menemukan mu. Ada perasaan yang bahkan aku sendiri tidak tau apa artinya saat tau bahwa besok adalah hari dimana pertemuan itu akan segera ada. “gimana?” “gimana apanya?” “sekolahnya” “biasa aja. Ngga ada liat kamu” “tapi aku liat.” “kenapa ga manggil?” “sengaja”  “mars..”  “hm?”    Suaramu mendadak jadi jauh lebih lembut. Entahlah, sejauh ini suaramu terlanjur menjadi frekuensi paling indah yang sopan banget masuk dari telinga tapi malah berakhir parkir di hati. Keterlaluan kamu. Beberapa hari berikutnya juga gitu. Kamu bilang kamu liat aku. Tapi ngga mau manggil. Hobi mu emang suka bikin aku kesal. Tapi ya anehnya, sekolah yang cuma 4 hektare itu serasa luas banget. Aku sama sekali ngga ada liat kamu. Bahkan yang biasanya ketemu di koridor seko...

terbang ke saturnus : semangkuk perasaan salah tempat

Hampir tengah malam. Saya dengar suara dia batuk beberapa kali. Serak dan terdengar sakit.  Iya, dia memang mengaku sedang tidak enak badan. Pulang rapat osis dan pramuka jam delapan, setelah isya baru sampai rumah. Diguyur hujan agak lebat plus dingin malam. Ditambah amarah dari ibunya. Itu tidak menyenangkan.  Saya hanya bisa kesal. Memendam sedikit rasa tak suka dihati. “makanya agak lama. Maaf ya”   Dia berkata pelan. Suaranya mungkin saja sudah lelah dari siang tadi. Ketua osis sefamous dia memang terlalu aktif di organisasi. Bicara sana sini.  Apalagi dia anggota utama untuk ekskul pramuka dan satu lagi, persatuan khusus kimia sekolahnya. “kenapa bisa pake acara mampir dulu kalo udah tau bakal lama?” Dia tidak menjawab. Mungkin menimbang kalimat apa yang pas agar saya bisa percaya. Dia bilang, sebenarnya pulang sekolah jam enam sore. Tapi ada pertemuan tambahan, diadakan di kos teman perempuannya yang waktu itu.  Iya. Di kos. Tentu mereka nggak berdua....

d e l a p a n b e l a s

(BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS!)  Yang ku pikir sore itu aku benar sudah berjalan sendirian dengan tangan memegang handphone di telinga, suara temanku masih menjelaskan kenapa aku salah dalam cerita ini, tapi juga tidak lupa bilang bahwa Mars juga seorang yang salah. Dan kemudian suara itu mati. Menghilang ditelan koneksi. Ada laki-laki yang berdiri dengan tegap di belakang ku. Berbicara dengan nada datar. Sedatar datarnya. Ya ampun, bahkan ekspresi nya seram sekali. Ya meskipun masih ada tersisa kelembutan dari wajah dan suaranya tadi. “Faa, kamu suka sama akan komputer ya?” “eh?!” Ponsel yang daritadi masih terdengar suara laki-laki menjelaskan sesuatu kini mati tiba-tiba. Menyisakan suara tuutt-tuttt-tuttt bergantian. Mati karena jaringan. Aku menoleh ke belakang. Tuhan, kaki ku lemas. Ingin rasanya terduduk di tempat. Serasa tidak punya lutut. Tulang ku hilang dan pergi begitu saja. Dia disana Mars, teman sekelas mu. Seperombongan mu. Sepermainan mu. Se-se dan semanalah po...