t i g a b e l a s
(BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS!)
Akhirnya, dua minggu yang mendadak terasa panjang akan segera berakhir. Yeay. Celengan rindunya akan segera pecah. Malam ini aku akan berangkat. Kembali pada kota tempat dimana aku menemukan mu. Ada perasaan yang bahkan aku sendiri tidak tau apa artinya saat tau bahwa besok adalah hari dimana pertemuan itu akan segera ada.
“gimana?”
“gimana apanya?”
“sekolahnya”
“biasa aja. Ngga ada liat kamu”
“tapi aku liat.”
“kenapa ga manggil?”
“sengaja”
“mars..”
“hm?”
Suaramu mendadak jadi jauh lebih lembut. Entahlah, sejauh ini suaramu terlanjur menjadi frekuensi paling indah yang sopan banget masuk dari telinga tapi malah berakhir parkir di hati. Keterlaluan kamu.
Beberapa hari berikutnya juga gitu. Kamu bilang kamu liat aku. Tapi ngga mau manggil. Hobi mu emang suka bikin aku kesal. Tapi ya anehnya, sekolah yang cuma 4 hektare itu serasa luas banget. Aku sama sekali ngga ada liat kamu. Bahkan yang biasanya ketemu di koridor sekolah aja udah ga pernah lagi. Aku sampe cari cara biar bisa liat kamu. Ntah datang sholat dzuhur paling awal, atau sengaja pulang lewat gerbang depan biar bisa ketemu kamu yang biasanya nongkrong di warung dekat parkiran.
“Faa mau ketemuan di perpus ngga?”
“emang lagi di perpus ya?”
“ngga sih, tapi ini lagi jamkos”
“yauda otw ni”
“ditunggu ya”
Andai saja hari itu tidak ku terima ajakan mu. Andai tidak perlu ku balas pesan mu siang itu. Iya seharusnya kita tidak perlu janjian untuk sama mengadakan pertemuan di perpustakaan. Sungguh Mars, aku menyesal membuka mata saat itu. Aku menyesal berdiri dengan diam tanpa suara didepan mu yang bahkan saat itu sedang tersenyum riang. Aku tidak punya pilihan untuk meneruskan langkah atau justru berbalik arah. Yang ku lakukan adalah melihat dengan baik adegan apa saja yang sedang kalian mainkan di hadapan ku. Ternyata seperti ini rasanya cemburu. Haha, aku bahkan tidak punya hak untuk itu. Aih mak, sesak nafas ku melihatnya. Mars, apa harus sekarang? Apa wajib banget ya aku melihat semuanya? Apa ini sengaja?
Rasanya, aku mau menghilang saja. Tiba-tiba tidak ada, seolah pergi terbawa angin. Atau paling ngga, mendadak mati lampu yang membuat seluruh pandangan ku menjadi gelap. Biar. Biar saja aku tidak tau tentang mu soal itu. Biar saja aku tidak perlu melihatmu waktu itu. Aih padahal disana, aku bisa melihatmu tersenyum dengan lebarnya. Atau bahkan kamu tertawa Mars, iya. Tertawa bukan karena aku penyebabnya.
Sekarang bagaimana?
Aku harus menunggu sampai kalian selesai dengan terus berdiam diri disini yang dengan tanpa sengaja perlahan mematikan perasaan di hatiku, seolah kamu hanya boleh seperti itu padaku saja. Atau aku putar balik, kembali ke kelas dengan emosi di dadaku yang tidak terima melihat mu dengan dia. Heh padahal aku ini siapa mu? Aku masih cukup sadar diri untuk tau seberapa berhaknya aku atas semua perlakuan mu pada orang lain. Aku bahkan bukan siapa siapa di hidupmu. Atau, sebenarnya kau anggap aku apa Mars?
Seolah sekarang, perasaan ku menjadi bahan paling kuat aku untuk membenci dia. Alasan paling kuat seolah aku menjadi manusia ganas yang sedang panas-panasnya terbakar api cemburu. Sekarang, rasa tidak ingin kehilangan itu ada. Padahal sebelumnya saling memiliki saja tidak. Aku benar-benar bertempur dengan hati dan pikiran ku hanya untuk memutuskan langkah yang ku ambil setelah ini.
Mars, apa melihat mu semenyakitkan ini rasanya? Tapi, untuk berbalik arah dan pergi meninggalkan mu saja aku tidak bisa. Seperti ini ya ternyata, mengagumi mu dalam diam.
Mencintaimu, layaknya bahagia memeluk luka.
Mars, harusnya kamu tau.
Kalau menyayangi kamu adalah sebuah pekerjaan, aku yakin bakalan jadi pegawai teladan. Tepat waktu, rela lembur, dan tidak pernah sekalipun bolos.
Komentar
Posting Komentar
hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!