Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

d e l a p a n b e l a s

(BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS!)  Yang ku pikir sore itu aku benar sudah berjalan sendirian dengan tangan memegang handphone di telinga, suara temanku masih menjelaskan kenapa aku salah dalam cerita ini, tapi juga tidak lupa bilang bahwa Mars juga seorang yang salah. Dan kemudian suara itu mati. Menghilang ditelan koneksi. Ada laki-laki yang berdiri dengan tegap di belakang ku. Berbicara dengan nada datar. Sedatar datarnya. Ya ampun, bahkan ekspresi nya seram sekali. Ya meskipun masih ada tersisa kelembutan dari wajah dan suaranya tadi. “Faa, kamu suka sama akan komputer ya?” “eh?!” Ponsel yang daritadi masih terdengar suara laki-laki menjelaskan sesuatu kini mati tiba-tiba. Menyisakan suara tuutt-tuttt-tuttt bergantian. Mati karena jaringan. Aku menoleh ke belakang. Tuhan, kaki ku lemas. Ingin rasanya terduduk di tempat. Serasa tidak punya lutut. Tulang ku hilang dan pergi begitu saja. Dia disana Mars, teman sekelas mu. Seperombongan mu. Sepermainan mu. Se-se dan semanalah po...

t u j u h b e l a s

(BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS!)  Mungkin, sudah sekitar dua minggu berlalu sejak malam panjang aku bercerita pada mu waktu itu. Banyak yang ku katakan sesuai kenyataan, tapi juga masih ada banyak hal lagi yang ku sembunyikan.  “jangan diladenin, aku pernah suka padanya, dulu waktu smp” “Mars?” “eh iya, mendingan jangan deh. Pacarnya senior kita” “jurusan?” “yang mana lagi, kalo bukan baju bengkel warna biru. Perempuan di jurusan itukan memang melimpah ruah. Nggak heran sih, dari tiap angkatan emang banyak yang glowing, haha” “tapi diaa.... Padaku...”   “kamu kayak gak tau laki-laki aja, dasar polos” “emang kenapa laki-laki?” “aduh Faa, susah ngomong sama gadis desa kayak kamu. Mana ngerti permainan cowok kota, haha” Aku hanya diam. Teman teman ku tiba-tiba dapat gosip entah darimana bilang bahwa aku suka padamu. Hm, bener sih soal itu. Bukan gosip. Tapi ya, kan malu hampir sekelas tau soal itu. Ada yang hanya melirik dalam, seakan mereka tidak percaya aku bisa meny...

d u a b e l a s

Siapa bilang dua minggu itu sebentar? Jika satu-satunya hal yang kau lakukan adalah menunggu dan menunggu. Maka empat belas hari liburan mu tidak akan bermakna apa-apa. Aku ingin sekali mempercepat waktu. Menyingkat semua hari dan berakhir pada titik dimana saat itu adalah waktunya kita untuk bertemu. Meskipun aku masih suka takut saat berjumpa denganmu, aih padahal hanya di lorong koridor sekolah. Nggak apa-apa. Demi melihat plototan matamu yang jago banget bikin aku kikuk seketika. ”kapan pulang Faa?”  “liburan belum berakhir”  “kenapa lama?”  “karena nggak bisa sebentar”  “kamu gak mau ketemu sama aku?”  “buat apa ketemu?”  “.....”  “kan diem”  “....”  “itu alasan kenapa aku gak mau ketemu. Kamu gak mau bicara. Jadi ya percuma aja”  “tapi Faa...”  “apa?”  “kita bisa saling diem”  “terus?”  “curi pandang sampe akhirnya ketauan”  Memangnya ada ya pertemuan semacam itu? Katanya pertemuan melepas rindu. Tapi kok m...

e m p a t b e l a s

(BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS!)  Dan ya, benar. Kamu duduk hanya untuk sekedar bertemu dengan ku. Sambil ngadem dibawah hembusan AC dan tidak lupa bersantai dengan wajah tanpa dosa. Melihat ku dengan senyuman aneh seperti manusia tak kenal apa salah mu sebelumnya. Aku menutup wajahku dengan buku yang ku ambil sebagai pelarian agar tak benar-benar jatuh berhadapan dengan mata besar mu. Buku yang hanya ku baca satu dua kalimat di tiap halamannya. Kamu menaruh wajahmu diatas meja. Sesekali mengetuk dengan nada lagu kesukaan mu yang aku tidak tau judulnya. Memandang ke sekitar lalu bersiul pelan. Tidak sedikit juga aku mendengar kamu melantun kan sedikit potongan lagu. Aku kenal nada itu, tapi tidak begitu hapal. Ya meskipun sedikit bagian otakku berusaha untuk mengingat judul dan siapa penyanyi di lagu itu. Kamu sempat beberapa kali berdeham. Seperti ingin batuk tapi tidak jadi. Seperti ingin bersin tapi gengsi. Ntahlah, intinya kita hanya diam saja dalam waktu yang terbilang cukup l...

terbang ke saturnus : sayangnya terlalu baik

Saya lihat postingan instagram nya minggu lalu.  Dia baik-baik saja. Bahkan jauh lebih baik sebelum dia mengenal saya. Dia tidak seperti seseorang dengan luka di hatinya. Terlihat bahagia. Lancar menjalani hidupnya. Santai bersama teman sekolahnya dan satu rekan wanita nya bernama Aca—kalau saya tidak salah mengingatnya kami sempat berjumpa.  Jika ditanya, apa saya pernah merindukannya? Jawabannya adalah, iya.  Pernah. Mungkin, sering barangkali.  “faa, kalo kangen tu bilang. Jangan diem aja, Tuhan ngasi mulut kan ga cuma buat makan”  Dia pernah mengirim voice note seperti itu pada saya diakhiri gelak tawa dan logat minangnya. Tiba-tiba saja. Padahal waktu itu saya tidak sedang merindukannya. Saya balas hanya dengan ketikan huruf biasa.  “gak, gw gak rindu sm lu” Saya mengirim kalimat seperti itu. Langsung ceklis biru. Menemukan room chat yang seperti itu hanya saya alami bersama dia. Selebihnya, tidak pernah. Bahkan dengan seseorang yang saya kagumi dengan...

terbang ke saturnus : aku yang jahat

Kita seringkali mengganggu cerita orang lain pada kisah asik yang mereka buat sendiri. Kita sering lupa, kalau saja kehadiran kita di hidup mereka nggak selalu bawa kabar gembira.  Waktu itu, saya bilang padanya “Fal, gw berenti ya, gw gabisa jadi orang ketiga” Yang saya lupa dari kalimat saya sendiri adalah ; saya memang akan selalu jadi orang ketiga di balik kisah hidup orang lain. Saya hanya mengganggu. Tidak untuk ditiru. Nyatanya, di setiap sajak dan paragraf cerita semesta. Kita emang suka disuru buat sekedar ngasih luka. Ketika saya yakin saya  adalah orang ketiga dibalik cerita seru miliknya, saya ingat kalau saja justru saya sendiri juga sudah memaksa dia untuk jadi orang ketiga dibalik cerita versi saya.  Dia yang dengan tegas bilang “gila, sejak kapan lu jadi orang ketiga?”  “faa, dengerin gw. Lu gak pernah sekalipun bergeser dari peringkat pertama menurut gw”  “lu selalu jadi yang pertama”  “s e l a l u”  Ada penekanan nada yang beda ketika...