terbang ke saturnus : sayangnya terlalu baik

Saya lihat postingan instagram nya minggu lalu. 

Dia baik-baik saja. Bahkan jauh lebih baik sebelum dia mengenal saya.
Dia tidak seperti seseorang dengan luka di hatinya.
Terlihat bahagia.
Lancar menjalani hidupnya. Santai bersama teman sekolahnya dan satu rekan wanita nya bernama Aca—kalau saya tidak salah mengingatnya kami sempat berjumpa. 

Jika ditanya, apa saya pernah merindukannya? Jawabannya adalah, iya. 

Pernah. Mungkin, sering barangkali. 

“faa, kalo kangen tu bilang. Jangan diem aja, Tuhan ngasi mulut kan ga cuma buat makan” 

Dia pernah mengirim voice note seperti itu pada saya diakhiri gelak tawa dan logat minangnya. Tiba-tiba saja. Padahal waktu itu saya tidak sedang merindukannya. Saya balas hanya dengan ketikan huruf biasa. 

“gak, gw gak rindu sm lu”

Saya mengirim kalimat seperti itu.
Langsung ceklis biru.

Menemukan room chat yang seperti itu hanya saya alami bersama dia. Selebihnya, tidak pernah.
Bahkan dengan seseorang yang saya kagumi dengan lebih sekalipun.

Dan lagi, kita dibuat lupa soal cerita semesta tentang rasa bahagia yang sebenarnya gak perlu pake bab kepergian dan kehilangan. 

Kan, gak semua rasa rindu harus di obati dengan sebuah pertemuan.

Pernah, disela ketika saya sedang tidak merasa semua berjalan sesuai rencana. Dia dengan baik mendengar cerita saya. Sebuah kisah soal hati dan kebahagiaan diantaranya. Hal yang selalu dia ikutkan disetiap pintanya pada Tuhan. 

Kalimat panjang memohon kebaikan dan kemudahan saya pada tangkup jari jemarinya. Sebuah cerita dimana saya hanya ingin semua dalam keadaan sebenarnya, posisi sebaik baiknya.
Sesuatu yang saya ingin seolah hanya sebuah kata bahagia, yang selalu saja dia usahakan dengan sesakit apapun selagi dia bisa. 

Padahal sejak awal, saya sudah pernah bilang bahwa bahagianya saya adalah dengan tidak adanya dia didalamnya. 

Sebuah rasa ragu terbesar dimana saya takut dia terluka dengan begitu hebatnya.

Lalu, dengan sangat senangnya semesta membuatkan itu menjadi garis sajak paling nyata. 

Dia mewujudkan semuanya. 

Dia rela tidak dibawa pada lembar bahagia milik saya karena itu yang saya minta awalnya. Dia melakukannya.
Ikhlas benar tidak diajak masuk dalam kisah yang sebetulnya adalah deretan paragraf paling penuh luka di hidup saya. 

Bahkan sebelumnya, sebelum saya berteman dengannya, hari hari saya mungkin saja penuh dengan sambat dan hanya mengeluh saja isinya. 

Ya. Karena pada saat itu. Saya sedang bersama orang lain yang bahkan dia tidak pernah tau sudah sejauh mana saya berbohong padanya. Sungguh sebuah cerita kejam yang saya buat diantara mereka berdua.

Saya memilih membahagiakan seseorang yang saya kagumi jauh sebelum adanya dia.
Jauh sebelum saya mengenal dia. 

Dan akhir dari paragraf itu adalah pilihan saya yang mematikan pemilik perasaan nya sendiri tanpa pandang mata sudah berapa luka yang saya terima.

Saya kehilangan dia pada kenyataan perih dimana sayalah yang memilih untuk menghilangkan nya. 

Saya kehilangan dia pada realita menyakitkan dimana sayalah yang memilih untuk menghilang darinya.

Untuk sebuah akhir yang tidak baik, saya menanyakan kabarnya. 

Apa dia benar dalam keadaan baik-baik saja pada masa dimana saya meninggalkan dia karena alasan abstrak yang tidak pernah dia mengerti dengan penuh sebelumnya? 

Barangkali, saya menemukan jawabannya.
Ya, sebaik itu dia. 


Komentar