e m p a t b e l a s

(BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS!) 


Dan ya, benar. Kamu duduk hanya untuk sekedar bertemu dengan ku. Sambil ngadem dibawah hembusan AC dan tidak lupa bersantai dengan wajah tanpa dosa. Melihat ku dengan senyuman aneh seperti manusia tak kenal apa salah mu sebelumnya. Aku menutup wajahku dengan buku yang ku ambil sebagai pelarian agar tak benar-benar jatuh berhadapan dengan mata besar mu. Buku yang hanya ku baca satu dua kalimat di tiap halamannya.
Kamu menaruh wajahmu diatas meja. Sesekali mengetuk dengan nada lagu kesukaan mu yang aku tidak tau judulnya. Memandang ke sekitar lalu bersiul pelan. Tidak sedikit juga aku mendengar kamu melantun kan sedikit potongan lagu. Aku kenal nada itu, tapi tidak begitu hapal. Ya meskipun sedikit bagian otakku berusaha untuk mengingat judul dan siapa penyanyi di lagu itu. Kamu sempat beberapa kali berdeham. Seperti ingin batuk tapi tidak jadi. Seperti ingin bersin tapi gengsi.

Ntahlah, intinya kita hanya diam saja dalam waktu yang terbilang cukup lama.

“kenapa diam saja?”

“memangnya mau ngomong apa, perpustakaan ga boleh berisik”

“ngga boleh berisik, tapi masih boleh ngomong Faa...”

“...”

“Faa aa....”

Kamu menurunkan buku yang ku baca, melotot. Aku masih kesal dengan kejadian beberapa menit lalu. Iya adegan kamu dengan perempuan itu. Aku bisa apa? Aku cuma merutuk diriku sendiri. Begitu bodoh masih saja melanjutkan pertemuan ini padahal nyatanya tidak berguna. Aku bodoh sudah memilih menunggu mu selesai dengan perempuan itu ketimbang menyerah dan berbalik arah. Mars, kamu punya tarikan magnet yang kuat. Bagaimana bisa aku menolak mu. 
“apa?”

“kenapa diem?”

“karena ga ngomong”

“yakin?”

“hm”

“kamu ga mau ngomong kalo kamu rindu aku gitu? Atau apa kek”

“ngga rindu, dan ga mau ngomong apa kek”

“tapi Faa...”

“.....”

“aku...”

“udah Mars, berenti ngomong atau aku keluar”
 
“kamu ga akan kemana-mana selagi aku masih disini”

“....”

“iya kan? Kamu ga akan pergi selagi masih ada aku?”

Dua perasaan ku saat mendengar kalimat itu. Senang dan sedih. Entahlah, aku terlanjur takut padamu. Karena melihatmu tersenyum bukan aku penyebabnya saja hatiku sudah teriak bahwa ia tidak rela. Sekarang, kamu malah melontarkan kalimat seolah kamu memang akan selalu ada. Aih, pandai sekali bibir mu itu berdusta. Memainkan kata hanya untuk keperluan perasaan mu saja. Apa tidak kamu pikir dulu efek sampingnya?

Aku beranjak. Merapikan kursi yang ku duduki. Meletakkan buku kembali pada rak nya. Tersenyum padamu seringan mungkin. Menembus nafas dengan pelan. Aku sudah terlalu jauh termakan omongan mu. Dan aku sudah cukup jauh untuk percaya dengan buaian kalimat buaya mu.

“ngga Mars, aku tetap akan bisa pergi walaupun kamu masih disini”

“loh.. Mau kemana Faa?”

“pulang”

Kenapa? Kenapa setelah mendengar kata itu kamu hanya diam saja. Tidak melakukan apapun. Dan tidak mengatakan apapun. Kamu diam saja melihat langkah ku yang menjauh menuju pintu keluar. Kamu diam saja melihat aku berpamitan dengan penjaga perpustakaan. Kamu diam saja saat melihat ku mulai membuka pintu untuk beranjak pergi. Kamu diam saja saat tanganku mulai meraih sepatu di rak-rak putih itu. Kamu diam saja saat tali sepatu ku terikat dengan penuh dan mulai melangkah menjauh.

Iya. Kamu diam saja. Seperti itulah. Tidak akan ada yang kamu lakukan saat aku pergi. Karena memang tidak akan terjadi apapun saat aku tidak ada. Seperti inilah pertemuan yang kamu inginkan itu? Penuh dengan diam, bicara yang tidak perlu, dan pergi yang tidak pernah dihargai. 

Hari ini, aku kecewa padamu.


Komentar