tanabata : tidak pernah bisa
pengetahuanku buruk sekali.
kadang, aku merasa terlalu banyak hal yang tidak ku tahu. sebegitu merasa bodohnya aku.
barangkali, agustus menjadi bulan yang tidak pernah berakhir dengan cerita biasa saja.
setelah empat hari melelahkan itu, ku kira urusanku sebagai orang penting sudah selesai. ternyata aku salah. begitu banyak hal yang sulit ditebak, tidak ku tahu, dan terjadi dengan banyak alasan ambigu.
kesehatanku sudah jauh lebih baik dari empat hari yang lalu. beberapa obat dari puskesmas sudah mulai habis. suaraku sudah hampir kembali seutuhnya. aku bahkan sudah masuk magang lagi setelah beberapa hari izin sakit.
hari itu.
aku tiba-tiba terbangun dari posisi tidurku yang agak miring. tenggorokanku agak kering barangkali karena aku tertidur dengan posisi sedikit mangap. didalam sebuah mobil. guncangan terasa pelan dan mengayun berhasil meninabobokkan aku cukup lama. di luar sudah mulai gelap. aku mengerjap. melihat seisi mobil yang tidak ku kenali. mobil itu melaju kencang sekali. tol malam memang sedang tidak terlalu ramai saat itu.
anjing!
aku berada di mobil yang tidak ku tahu. mobil itu diisi tiga orang tidak termasuk aku. ketiganya laki-laki. aku mengintip perlahan, seorang lelaki dengan rambut lurus cepak yang tidak terlalu lebat, berkacamata, putih dan tinggi, sedang tertidur di kursi sebelahku, aku pernah sekali melihatnya, tapi aku lupa dimana. sementara didepan, dua orang lelaki dengan kulit agak sawo matang. yang duduk di sebelah supir mengenakan jaket hitam dengan bendera merah salah satu organisasi eksternal. semua orang tahu dia siapa. dia seniorku-yaa begitulah setidaknya kalau kau mau menyebutnya sesama warga satu fakultas. dia pejabat kampus, mahasiswa aktif semester akhir. dia juga sedang tertidur, mendekap kedua tangan didada. sekali lagi, semua orang tahu dia siapa. sementara sang supir, ah agak susah melihat wajahnya, sebab aku tidak ingin ia sadar bahwa aku sudah bangun dari tidurku.
lelaki kacamata dengan hidung mancung seperti buah pisang. alis tebal. tapi perasannku, jika aku tidak salah mengingatnya, ia adalah pria teknik dengan latar bendera berbeda dengan orang disebelahnya.
situasi apa ini?
aku berusaha mengingat kejadian sebelumnya. seingatku, aku sedang mengikuti forum bersama dengan anggota inti-maksudku dewan di ruangan sekretariat.
lelaki kacamata dengan hidung mancung seperti buah pisang. alis tebal. tapi perasannku, jika aku tidak salah mengingatnya, ia adalah pria teknik dengan latar bendera berbeda dengan orang disebelahnya.
situasi apa ini?
aku berusaha mengingat kejadian sebelumnya. seingatku, aku sedang mengikuti forum bersama dengan anggota inti-maksudku dewan di ruangan sekretariat.
sore. danau. sate cak fais. segelas americano aksara. hijau. merah. tertawa. dan mobil putih.
aih. kepalaku sakit.
yang jelas, aku memang dengan sukarela masuk ke mobil ini. tapi barangkali tujuannya, aku tidak tahu mobil ini melaju kemana.
lagi-lagi, aku tidak tahu. dasar bodoh.
aih. kepalaku sakit.
yang jelas, aku memang dengan sukarela masuk ke mobil ini. tapi barangkali tujuannya, aku tidak tahu mobil ini melaju kemana.
lagi-lagi, aku tidak tahu. dasar bodoh.
jika pernah kau dengar kisah penculikan tentang beberapa kader menjelang pemira, maka kau harus mulai percaya. bahwa mereka-dengan tolol dan tidak masuk akalnya, melakukan adegan sia-sia itu, padaku. pada perempuan lemah dan sangat tidak berguna-sepertiku. ya setidaknya begitulah mereka menafsirkan pengalamanku. meskpun hari itu, bau busuk pemira belum sedikitpun tercium oleh hidung tajam serigala malam. pemira masih sangat jauh jika kau membahasnya sekarang.
aku benar-benar menggunakan seluruh kemampuan otakku untuk mengingat orang-orang ini. tapi aku tidak bisa, wajah yang kulihat tadi sore bukan mereka. sang supir akhirnya menyadari bahwa aku sudah bangun, ia melirik dari rier-view.
aku membeku. tentu saja ketakutan setengah mati. tapi aku berusaha memasang wajah datar dengan pura-pura masih mengantuk. didalam saku celana jeans ku, aku membuka sebuah kontak. wakil departemen, hanya itu yang terfikir. aku terlalu takut mengabari kak danu, atau bahkan seniorku yang lain. tidak mungkin menghubungi manusia itu, aku memblokir kontaknya dan akan sangat menjatuhkan harga diriku sekali jika aku menghubunginya disaat seperti ini.
aku membeku. tentu saja ketakutan setengah mati. tapi aku berusaha memasang wajah datar dengan pura-pura masih mengantuk. didalam saku celana jeans ku, aku membuka sebuah kontak. wakil departemen, hanya itu yang terfikir. aku terlalu takut mengabari kak danu, atau bahkan seniorku yang lain. tidak mungkin menghubungi manusia itu, aku memblokir kontaknya dan akan sangat menjatuhkan harga diriku sekali jika aku menghubunginya disaat seperti ini.
aku tidak akan mengabari orang lain dengan telepon, itu berbahaya. dan memang sangat tidak memungkinkan. maka, aku memberikan live location ku. tiga pesan ku kirim. sangat cepat.
"tdk tau mau kmn"
"jika mencurigakan. susul"
"jgn telepon"
aku melihat batere hp ku, masih cukup banyak maka seharusnya aku tidak perlu khawatir.
pun, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena mereka-seharusnya, sebaikanya tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.
"tdk tau mau kmn"
"jika mencurigakan. susul"
"jgn telepon"
aku melihat batere hp ku, masih cukup banyak maka seharusnya aku tidak perlu khawatir.
pun, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena mereka-seharusnya, sebaikanya tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.
aku benar-benar berusaha agar semua terlihat baik-baik saja.
sang supir berbicara. ia menyebut nama seniorku. jantungku berhenti berdetak beberapa detik.
loh?
"di mobil belakang, jangan kaget"
aku reflek melihat ke belakang. benar. ada mobil terios, putih yang sama kencangnya melaju membuntuti mobil yang membawaku.
t-tapi nama itu...
apa ia bersama kak danu?
antara senang dan semakin bingung, kepalaku kian terasa sakit. ada hal bodoh apalagi hari ini.
tolong jangan terlalu dipaksa, aku bahkan belum sembuh paripurna.
sang supir berbicara. ia menyebut nama seniorku. jantungku berhenti berdetak beberapa detik.
loh?
"di mobil belakang, jangan kaget"
aku reflek melihat ke belakang. benar. ada mobil terios, putih yang sama kencangnya melaju membuntuti mobil yang membawaku.
t-tapi nama itu...
apa ia bersama kak danu?
antara senang dan semakin bingung, kepalaku kian terasa sakit. ada hal bodoh apalagi hari ini.
tolong jangan terlalu dipaksa, aku bahkan belum sembuh paripurna.
kurang dari satu jam, mobil yang membawaku, dan mobil putih itu terparkir pada sebuah ruko besar. cukup terawat, seperti sebuah base camp aksi, seru melihatnya. halaman besar dengan tiang bambu panjang melintas ditengah, itu untuk banner atau bendera seruan aksi yang biasa ada didepan gedung dpr atau dprd ketika mahasiswa unjuk rasa. sudah jelas, kan? aku dibawa kemana.
malang.
malang.
aku masih melihat sekeliling, sampai seseorang memanggil namaku ketika aku turun dari mobil dan mulai melepas sepatuku untuk masuk.
"faa..."
aku menoleh. hatiku sedikit tenang. meskipun masih tidak percaya aku dibawa kemana. setidaknya, aku mengenal orang ini. ternyata aku bukan satu-satunya perempuan.
"gaopo yo, onok aku, aman ae"
aku menyebut nama. bertanya dimana seniorku yang kata sang supir ia berada di mobil belakang. perempuan itu menggeleng. katanya tidak ikut. dia bahkan tidak tau kalau seniorku yang satu itu bakal ikut. aku mulai merasa janggal.
...
"faa..."
aku menoleh. hatiku sedikit tenang. meskipun masih tidak percaya aku dibawa kemana. setidaknya, aku mengenal orang ini. ternyata aku bukan satu-satunya perempuan.
"gaopo yo, onok aku, aman ae"
aku menyebut nama. bertanya dimana seniorku yang kata sang supir ia berada di mobil belakang. perempuan itu menggeleng. katanya tidak ikut. dia bahkan tidak tau kalau seniorku yang satu itu bakal ikut. aku mulai merasa janggal.
...
forum dimulai sudah lebih tiga jam yang lalu.
aku tidak keberatan dengan topiknya, tapi barangkali asap yang mengepul di ruangan yang membuat aku mulai muak. jika forum ini formal seharusnya tidak ada yang melinting rokok di jari telunjuknya atau menghisap vape dengan berbagai pilihan rasa itu.
aku tidak keberatan dengan topiknya, tapi barangkali asap yang mengepul di ruangan yang membuat aku mulai muak. jika forum ini formal seharusnya tidak ada yang melinting rokok di jari telunjuknya atau menghisap vape dengan berbagai pilihan rasa itu.
dua pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
jantungku mendadak tidak karuan.
jantungku mendadak tidak karuan.
"menuju kesana, sebentar lagi sampai, jgn panik, pura pura tidak tau saja"
"tidak perlu dibalas, matikan ponsel mu"
sebelum sempat ku tekan tombol power lama.
pesan baru dari nomor yang sama masuk.
"aku raga"
maka, tidak perlu ada yang di khawatirkan jika ia sudah menuju kemari, kan?
tetap tenang. dan ikuti perintahnya.
kamu, aman.
.
dan, entah. bagimana.
aku lupa jika harus menceritakan detailnya. lebih tepatnya, berusaha melupakan.
malam panjang itu, berakhir dengan pengetahuan baruku akan hal-hal tabu soal organisasi di universitas. kaget bukan kepalang hingga telingaku berdenging, kepalaku pusing, dadaku sesak. sungguh benar aneh jika aku mengingat detailnya dengan sangat sakit. maka, ku lupakan pelan-pelan.
malam itu. aku pulang. dijemput.
tidak ada kalimat apapun sampai manusia itu melajukan mobilnya menjauh dari bangunan ruko.
perlahan.
aku mengurangi rasa benciku.
Komentar
Posting Komentar
hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!