tanabata : bintang paling biru
Bagaimana cara merampungkan sebuah naskah?
Aku juga bingung, tidak tau caranya.
Sebab sejauh yang pernah ku tulis, sebanyak yang pernah ku baca, tidak pernah ada naskah yang benar-benar menyentuh akhirnya. Tidak ada yang pernah benar-benar menyentuh endingnya dengan baik, sebab akan selalu ada tambahan part, bagian, bab, dan potongan scene yang terakhir, terakhir, terakhir, terkahir lagi, terakhir lagi, lagi, dan yang terakhir, paling terkahir, kemudian terakhir.
Barangkali ada sebuah part kecil yang lupa ku bagikan padamu, tentang bagaimana sebuah percakapan ringan tapi terasa begitu berat ketika kau mencoba mengingatnya. tentang bagaimana seseorang berusaha masuk kedalam hidupmu, perlahan, tidak mendobrak pintu, tidak berisik, tapi ketika kau buka pintunya orang itu tetap disana, tidak masuk, hanya membawa sebuah buket bunga. Kau boleh pilih bunga apa saja termasuk mawar, lily, ataupun tulip kuning kesukaanmu. Orang itu datang seolah memberi ruang agar kau mengisi bagian yang rumpang, tapi ternyata ia tetap berdiri disana. Setelah kau bukakan pintu, ia tidak masuk.
Hanya tersenyum saja.
Senyum, yang jika diizinkan semesta kau boleh memintanya agar hanya milik mu seorang.
Tidak perlu berbagi, tidak akan dibagi. Sebab hanya milikmu seorang.
Sore itu, aku kembali duduk diantara banyak buku disekitarku.
Americano sudah ku teguk hampir seluruhnya, sebab aku sudah berada disini kurang lebih hampir tiga jam, sendirian. Lagi.
Sebenarnya, janji yang dibuat adalah tepat dua jam yang lalu. Tapi manusia itu tidak kunjung tiba. Tidak ada kabar terlambat ataupun pembatalan, jadi aku menunggunya.
"Maaf, terlambat"
Dua kata pertama yang diucapkannya ketika melihatku. Bajunya basah oleh keringat. Rambutnya lepek, napasnya tersengal. Aku mempersilahkannya duduk. Tidak masalah.
Ia duduk disebelah kiriku. Meletakkan tas kecil hitam yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Kemudian ponselnya, dan juga podnya-tentu saja.
Aku hanya dia menatapnya. Tidak ada pertanyaan, tidak ada kalimat apapun. Aku menunggunya bicara kapan ia siap. Manusia itu mengambil beberapa helai tisu yang tersedia di meja, mengusap keringatnya dengan gusar.
"Maaf ya, faa..."
Ucapnya lagi. Ia masih belum tenang dan aku melihatnya masih dengan tatapan diam.
"Maaf banget, aku ga tau kalo bakal setelat ini. Maaf"
Menunggunya dengan tanpa kabar memang tidak menyenangkan. Tapi jadi ataupun tidak janji yang ia buat hari ini, aku akan tetap datang untuk duduk membaca buku dengan secangkir americano yang ku pesan. Tidak akan merubah apapun.
"Maaf ya faa..."
"Mau minta maaf berapa kali kak? Sampai kapan?"
Ia mengehentikan gerakannya. Matanya mentapku. Lama.
"Sampai kamu maafin, hehe..."
"Gapapa kak, aku juga agak telat tadi"
Bohong.
Jelas itu sebuah kebohongan.
Ia sudah mulai kelihatan lebih tenang. Nafasnya sudah lebih teratur, keringatnya sudah pindah membasahi tisu. Ia menyisir rambutnya dengan jari tangannya yang besar-besar itu.
Jadi, mau mulai dari mana?
Sebenarnya janji ini dibuat hanya untuk membahas hal-hal ringan soal kejadian beberapa waktu lalu. Tapi, entah mengapa aku tiba-tiba enggan memulai untuk membahasnya. Ada sedikit ruang yang tidak bisa ku buka untuk bercerita secara nyaman dengan manusia ini. Mungkin, belum.
"Kalau tidak mau cerita, tidak apa. kita ganti pembahasan saja"
Katanya tiba-tiba. Ia mematikan ponselnya. Lalu melirik ponselku, meminta melakukan yang hal sama.
"Aku tidak pernah memaksa, faa"
Aku mengangguk. Aku tahu. Bukan soal itu.
Aku kan masih membencimu, kak.
"Tapi kamu sudah kuberitahu, jika memang perlu bantuanku, silahkan kabari aku seperlumu"
Tapi, kamu bahkan sulit dihubungi kak.
Bagimana bisa aku meminta bantuan dengan orang yang bahkan tidak peduli aku?
"Aku tidak tau tradisi apa yang ada di himpunan mu, tapi jika rasa aman tidak lagi bisa kamu dapat disana, kamu bisa cari aku. Ini beneran, faa. Aku serius"
Aku mengangguk. Aku tahu. Bukan soal itu.
Manusia itu sudah pernah mengatakan kalimat yang sama, persis dengan tragedi mirip beberapa bulan lalu setelah sidang kedua komisi satu. Aku bahkan sudah hapal kalimatnya, ingat betul sebab saat itu rasa benciku masih pada puncak tertingginya.
"Aku sudah janji pada Danu akan selalu baik padamu. Juga pada semua kolega organisasi, tentu saja. Itu kewajibanku. Tanpa terkecuali"
Mendengar nama seniorku disebut, aku merubah posisi duduk ku. Berusaha membuatnya nyaman sebab perasaanku tiba-tiba aneh. Tidak tau bagaimana cara menggambarkannya, tapi firasatku selalu buruk jika manusia ini sudah terlibat dan menyebut-nyebut nama kak Danu.
Bibirku hanya mengucap harap, sebaiknya jangan terlalu jauh ikut campur urusan organisasi dan semua jelek kotornya agar kamu tetap baik dan bersih. Aku membayangkan apakah sebaiknya ku akhiri saja semua perjalanan jauh ini? Atau sudah terlambatkan aku untuk menyerah jika ku kibarkan bendera putih itu sekarang? Ku pandangi manusia itu pelan pelan. Wajahnya, suaranya, semua yang ia punya memang mudah sekali dikagumi. Tapi benci ku berdiri paling depan ketika seluruh semesta menyebutkan namanya.
Maka yang bisa ku lakukan hanyalah menerima. Diam. Dan menyembunyikan semua kekacauan itu dalam pikiranku. Dibalik kepalaku.
Biar. Biarlah aku menjadi satu-satunya orang yang akan terus membencinya, sebab sepertinya terlalu banyak manusia lain di luar sana yang akan mendukung pilihannya. Dan siapa aku bisa menentangnya? Aku hanya ingin tenang tanpa terusik, dan membuat Kak Danu bangga-tentu saja. Harapan yang diam diam ku sebut tanpa seorang pun tau.
Sore itu, ditutup dengan kabar dari televisi yang menyiarkan berita pengamatan astronomi. Rigel di Rasi Orion, si bintang super raksasa berwarna biru. Rigel adalah bintang paling terkenal dan termasuk paling terang. Di bagian bumi lain, Rigel memperlihatkan dirinya sebagai bintang biru paling terang. Aku pernah tidak sengaja mendengar manusia ini bercerita soal Rasi Bintang Orion saat ia duduk satu forum dengan mahasiswa jurusan perbintangan itu dari Bandung. Tidak banyak yang ku dengar, hanya beberapa soal kalimat bahwa ia cukup menyimak beberapa diantaranya termasuk yang baru saja disebutkan presenter tv tersebut.
Rigel.
Barangkali, Rigel ingin menghiburku dengan warna cantiknya.
Sebab rasa benci yang berselimut itu masih boleh memiliki sedikit rasa percaya.
"Kamu boleh benci aku atau siapapun sekuat yang kamu bisa, tapi jangan biarkan rasa benci itu menghalangi orang lain untuk menolongmu"
.
"Maka, apa aku boleh minta satu hal kak?"
"Sebanyak yang bisa ku beri"
"Tolong jangan pernah marah padaku, bahkan ketika aku membuat kesalahan"
"Tentu"
Mau liat Raga kalo Marah gmn
BalasHapusgila dia klo marah
Hapus