tanabata : yang mereka lihat.



Perunggu - 33x

...


Rotasikan pandanganmu

Ambil sudut yang terbaru

Belum pernah kau coba

Lihat semua bukan dari matamu

Kelak kau 'kan mengingat

Yang membawamu ke sini



.


secangkir americano diantar ke meja ku.
hitam pekat, dengan peluh es yang menggugah.
sore itu, aku datang ke tanabata. sendiri.
memang tidak mengabari siapapun, bahkan aku belum membuka dan membalas pesan-pesan yang masuk di watsap.

tidak pernah berbeda.
tanabata selalu menyajikan rasa yang sama.


seperti secangkir americano ini.
dulu, aku tidak suka kopi kecuali yang ada latte nya.
tapi, menjadi mahasiswa jurusan teknik membuat aku mau tidak mau mengulik beberapa rasa kopi yang mungkin bisa menemani tugas dan laprak ku.

setahun yang lalu, kak danu bilang aku harus mencoba americano.
awalnya aku menolak karena terakhir aku mencoba americano miliknya di salah satu coffe shop ternama surabaya, rasanya justru aneh dan tidak enak. asam lambungku bergejolak. aku harus puasa kopi hampir dua minggu lamanya.


maka, di sebuah pertemuan singkat, dia bilang...

"coba americano di tanabata, rasanya beda. kamu pasti suka"

dia senior yang paling aku hormati. maka, sudah ku katakan, tidak perlu ngomong dua kali apapun yang ia sarankan biasanya langsung ku coba karena memang jarang mengecewakan.

jadilah, sejak hari itu. aku tidak ragu memesan americano disini. selain rasanya sesuai dengan yang aku mau, juga sesuai dengan toleransi asam lambungku. 

sore itu, tanabata tidak terlalu ramai.
perasaan yang selalu aneh jika datang sendiri, sebab biasanya aku selalu punya teman.

aku membuka layar leptopku. membalas beberapa pesan watsap disana.
hingga aku sadar, ada nomor yang sudah lama sekali tidak menyapa mengirimkan tiga pesan belum terbaca. jantungku bergemuruh. aku hapal deretan nomor itu meskipun jika diminta menyebutkannya bibirku terasa kelu.

aku diam cukup lama. menimang apakah aku harus membalasnya. atau biarkan saja sebagai pesan tak terbaca. aku menatap sekitar.

manusia terlalu egois jika memilih hidup sendiri, bukan?

beberapa pelanggan baru memilih tempat duduk, menghampiri rak buku, mencoba melihat-lihat rak piringan hitam di sudut ruangan, menyentuh alat pemutar piringan hitam itu perlahan dan takjub.

ah, pengunjung baru.

tanabata selalu sama, meskipun interiornya beberapa kali diperbarui, tapi coffee and book shop yang satu ini selalu punya sihir yang amat berbahaya bagiku yang tidak suka tempat ramai.

tanabata selalu sama.
setiap rasa yang disajikan, setiap momen yang terlewat...
tanabata tidak pernah berubah.

aku duduk menghadap ruang besar dengan rak buku coklat dari kayu jati yang hampir menutup dinding, ini kursi kesukaanku. nomor dua, setelah kursi putih menghadap balkon di ujung sana. biasanya duduk disana kalau lagi diskusi dengan kak danu, dan juga mas mbak ku yang lain.
aku ingat, pertama kali aku menjadikan kursi itu nomor satu dihatiku adalah karena alasan sepele.
balkon itu memperlihatkan sebagian besar pemandangan jalan kota surabaya, dengan beberapa buku keren disepanjang jalan didekatnya. strategis untuk foto, ah sebenarnya seluruh sudut tanabata selalu ikonik untuk jadi spot foto.

sore itu, aku tidak berniat melanjutkan laporanku. aku hanya ingin bersantai dan berdiam diri saja sembari melanjutkan buku bacaanku.
entah sudah berapa lama, barangkali sudah dua puluh-tiga puluh menit, seorang anak kecil laki-laki berumur kurang lebih enam atau tujuh tahunan, tidak tau, aku tidak jago menebak umur seseorang apalagi anak kecil begini, dia menyentuh buku yang ku baca. 

"aku tidak lihat ini kemarin"

aku menghentikan bacaanku. melihatnya. 
keningnya berkerut, penasaran.

anak siapa ini? dia tahu bacaanku?

"kakak nemu dimana?"

eh? apanya?

"bukunya. kakak nemu di rak yang mana? bukunya"

oalah. ya ampun.

"ini buku ku sendiri, aku bawa dari rumah"

"bukan dari sini?"

aku menggeleng. bukan.

sejenak. tiba-tiba seorang lelaki memanggil nama. ku tebak itu adalah nama anak kecil ini. ia menoleh ke belakang menuju asal suara. dan sebelum aku menolehkan kepalaku juga, aku menyadari satu hal.

suara itu.
suara berat yang paripurna itu.

"loh, faa?"

mampus.

suara itu? benar.
sebelum sempat aku menoleh melihat wajahnya. suara itu sudah terdengar ditelinga. mendekat. berdiri didepan ku beberapa langkah menyisakan jarak antar meja. dia datang dengan celana pendeknya, rambut keriting yang sedikit ikal dan kering, dengan kaos polosnya. tersenyum. 

aku tidak menjawab. kikuk.

"ini ke sekian kalinya aku lihat kamu disini, tujuh atau delapan? barangkali lebih, tapi kok tumben, send..."

"hehe iyaa kak"

hehe? iya? kak?
jawaban macam apa itu.

"ini buku yang kemarin aku bilang, Mas."

anak kecil itu menunjuk. aku menutup buku. membalik memperlihatkan cover. sebuah buku klasik literatur terjemahan, fiksi tentang kediktatoran sebuah peternakan. buku semua kalangan karena judulnya bahkan seperti buku dongeng anak sekolahan.

lelaki dan anak kecil itu kemudian bertatapan sebentar. aku diam. tidak tau harus apa.

"itu buku kakaknya, kan sudah dibilang disini ada tapi bukan bahasa indonesia"

anak kecil itu tersungut sungut.

"keponakanku, faa"

kemudian dia menyebutkan nama anak kecil itu, memperkenalkan. aku mengangguk saja.
oh keponakan.

aku mengangguk.

"jago bener kak, sudah suka baca"

"iyaa, senengannya buku. sama kaya kamu"

eh, aku?

jujur, aku kagum anak sekecil itu sudah senang membaca.
tapi situasi seperti ini, aku harus bagaimana? tidak jago basa basi.

"kamu mau baca?"

"eh..?"

anak kecil itu sumringah. barangkali hatinya senang. aku menyodorkan buku dengan cepat tangan mungil itu meraihnya.

"boleh, kak?"

dia bertanya. kemudian aku mengangguk pelan. tentu boleh.
anak kecil itu melirik lelaki yang kini berlutut disampingnya. menyisakan aku yang duduk di kursi dengan posisi sedikit agak lebih tinggi. jujur canggung.

"engga, itu buku kakaknya. kita cari yang lain saja. nanti beli ya, bilang sama bunda"

wajah anak kecil itu murung seketika. tangannya menyodor hendak mengembalikan. aku bingung.

"aku sudah selesai baca, barangkali kamu mau baca sebentar gapapa. aku masih lama kok disini"

anak itu menatap lelaki lagi. keningnya berkerut lebih banyak. berharap lelaki itu mengizinkan.
hening, ada canggung yang tak terkira disana.

"gapapa kak, biarin dia baca dulu, dia mau tau kelanjutan napoleon kan?"

aku menyeut karakter di buku itu dengan gerakan menggembungkan mulutku, seperti ikan buntal.
anak kecil itu langsung semangat.

"aku mau lihat dia mati kegendutan atau tidak, haha"
dia tertawa memegangi perutnya, menirukan sesorang dengan perut buncit.
dia lupa bahwa lelaki disampingnya masih menatap dengan diam.

"janji jangan dibikin jelek ya, buku kakaknya"

"siaapp..."

anak kecil itu mendekap buku.
menjulurkan tangan kanannya. berkenalan.
dia menyebut namanya dengan lantang. tersenyum. lucu sekali.
aku membalas. menyebut namaku.

kemudian, anak kecil itu berbalik badan dan mengatakan akan membaca segera bukunya. aku mengangguk. lelaki itu berdiri. menatap mejaku. dia tahu aku tidak hanya bawa satu buku.

"bukumu banyak sekali, faa"

"engga"

engga? cuma itu?

aku melihat matanya. dia menatapku. lamat-lamat. mata kami bertemu cukup lama. hingga ia muak.

"tumben sendiri"

"memang lagi mau sendiri"

"tumben"

ya memang lagi mau sendiri, kak.
bukan tumben.

"engga, biasanya juga sendiri"

"biasanya?"

dia bertanya dengan nada aneh. aneh sekali. aku mengangguk. iya. memang biasanya sendiri.

"bukannya biasanya kamu bareng..."

"bareng siapa?"

aku meminta ia melajutkan kalimatnya.
dia diam beberapa menit. cukup lama. mata itu melihatku lagi. kali ini ku biarkan. biar saja dia semakin muak. 
aku menunggu dengan perasanku yang semakin tidak karu-karuan.

aneh.















"bareng cowo jaket kulit coklat, atau kadang bareng...."











aku benar-benar membenci manusia ini, Tuhan.










pada jingga yang tak kunjung menyentuh batas cakrawalanya.
pada hiruk pikuk surabaya dengan sejuta kesibukannya.

pada buku-buku di rak kayu jati yang sudah mencintai posisinya.


aku memilih untuk membencinya dengan segenap hati yang ku punya.










sore itu, barangkali perasanku sungguh berada pada titik paling aneh dari sejauh umur yang pernah ku rasa. berkecambuk tanpa logika. membiarkan segelas americano ku surut dan bening tanpa rasa.




















"bareng... danu, kan ya?"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

tanabata : ceritamu, jelek sekali

tanabata : boleh, ya?

tanabata: yang katanya sebentar.