tanabata : ceritamu, jelek sekali


Living an illusion, oh but we're so compatible
And I miss all the X and Os
Do you regret the path you chose
With me?


.




dulu, yang mengizinkan aku menjadi salah satu pemain inti pada periode parlemen ini adalah kak danu. seharusnya belum waktuku bermain, tapi dengan sangat percaya diri aku mengajukan namaku.
maka, ketika namaku disebut sebagai salah satu kolega manusia itu, tentu ini murni salahku. sebab, aku sendiri yang memilih keputusan itu.

selama setahun periode, tak bisa kuhitung berapa kali aku memblokir kontaknya. puluhan kali mungkin ada. meski kalau ditanya alasannya, aku juga kadang bingung menjawabnya. aku hanya tidak suka orang menyepelekan komunikasi, entah dalam bentuk apapun, sesibuk apapun, jika kamu punya tanggung jawab, maka itu adalah kewajibanmu memberikan arahan, informasi ataupun keputusan lainnya. menurutku, tanggung jawab paling besar sebagai bentuk koordinasi adalah komunikasi. jika kamu sulit disana, maka kamu menyulitkan orang lain. dan itu tidak baik.

ah, kan sudah ku katakan dulu, bahkan sebelum aku tahu siapa namanya, aku sudah membencinya dengan teramat sangat. tanpa punya alasan pun, aku berhak membencinya.

waktu itu, bulan penerimaan mahasiswa baru. seluruh fakultas menyambut anggota mudanya yang baru bergabung. barangkali kau ingat, ini adalah suatu pagi di bulan agustus. empat hari yang melelahkan. empat hari penuh energi ekstra. waktu itu, aku menjadi koordinator pengawasan.

sebenarnya, aku dibantu oleh anggota lain-tentu saja.
tidak mungkin bekerja sendiri.
ditenagh badanku yang kurang fit, suaraku bahkan sudah hilang sejak hari pertama. padahal sehari sebelum itu aku sudah menelan tiga-atau empat jika aku tidak salah mengingat, pil vitamin yang dibelikan ibuku beberapa waktu sebelumnya.

harapanku, tentu saja bisa mengembalikan energiku yang sudah lepas dan hilang itu. oh ternyata tidak.
aku benar-benar harus bicara dengan tanpa suara sebab sungguh sulit rasanya menghasilkan sesuatu dari tenggorokanku yang sudah lecet dan perih.

setelah briefing, aku membubarkan panitia pengawas. mereka menyebar ke beberapa ruangan sesuai titik yang sudah dibahas pada pertemuan koordinasi sebelumnya. aku tidak langsung meluncur sebab pagi tadi, sebelum berangkat kak danu ingin menitipkan sesuatu. tentu kabar kesehatanku terdengar olehnya sebab mas mbak ku yang juga bertugas di fakultas tau soal itu. awalnya aku mengelak dan tertawa ringan saja sebab suaraku memang sering hilang kalau sudah keseringan biacara. tapi aku cukup kaget sebab kenapa sudah hilang bahkan baru di hari pertama.

maka, setelah menyisakan ruang sekre yang hanya tiga orang itu, aku menunggu. satu yang lainnya sedang memperbaiki kamera untuk dokumentasi, sementara yang satu lagi menungguku. menatap diam. beberapa menit yang lalu menawariku sebotol mineral namun tidak ku jawab, terlihat wajahnya kesal sekali. aku tidak tau harus merespon apa. sebab, sungguh meski ini masih pagi hari, aku sudah tidak punya banyak energi.

"masih lama?"

dia bertanya. aku melirik, mengangguk. sebenarnya aku tidak tau berapa lama, tapi yah begitu sajalah supaya manusia ini cepat pergi. tetapi rupanya beliau malah tidak pergi-pergi.

"ayo aku anter ke klinik saja..."

"..."

"aku anter ke klinik yaa..."

"engga kak, gausa"

"atau mau ke ruang kesehatan?"

"engga"

tentu jawaban itu tak bersuara, aku hanya mengucap kata itu dengan gerakan bibir jelas dan menggeleng. masih pagi, ngapain ke ruang kesehatan. bikin malu saja. aku kan jagoan.

mungkin sekitar sepuluh menit, lelaki yang menyiapkan kamera sudah beranjak pergi hendak berburu momen. ia pamit lalu meninggalkan ruangan yang kemudian senggang. ada canggung yang tak terkira disana sebab hanya sisa kami berdua dan tidak ada kata apa-apa. hanya diam.

"kenapa kamu selalu blokir aku, faa?"

"tidak selalu kak, kadang-kadang saja"

aku tersenyum. parau.
lagian kenapa dia bahas itu disini, kayak ga ada waktu lain saja.

"iya tapi kenapa?"

aku mengangkat bahu, tidak tahu. aku juga kadang bingung. silahkan intropeksi dirimu sendiri, barangkali aku bukan satu-satunya.

"aneh"

satu kata yang ia ucapkan dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun, sulit menafsirkan perasannya jika ia sudah dengan nada biacara yang tak ada apa-apanya itu. dia berdiri, men-charge ponselnya.
tak lama, seseorang berdiri di depan pintu, sedikit mengintip, memawa sebuah paperbag coklat ditangannya. aku tidak perlu menoleh untuk tau siapa yang datang. parfum dan suaranya saja sudah lebih dari cukup.

"faa"
panggilnya pelan.

"iya, mas"

tentu suaraku tidak keluar, dan lelaki itu tidak akan mendengar. jadi cepat cepat aku berdiri menghampiri. seniorku berdiri disana, dengan dua orang pengawalnya. itu juga seniorku yang lain.
aku menyapa, tersenyum.
mereka kaget, suaraku benar benar tidak keluar. ada kerutan pertanyaan dan rasa khawatir yang ku lihat di wajah mereka.

salah satunya mendekat, bertanya apa aku sudah sarapan dan minum obat. aku menggeleng-aku tidak suka sarapan. dan kalau minum obat pagi-pagi pasti akan mengantuk. aku tersenyum dan mereka malah semakin ngeyel khawatirnya.

manusia itu keluar dari ruangan. menyapa ketiga seniorku. dan ada warna yang entah apa namanya, sulit sekali mendefinisikannya karena situasi pagi itu mendadak berbahaya. aku tidak suka.

"kon apakno adekku, cok"

salah satu dari mereka mulai bicara, sebenarnya itu hanya guyonan saja, tapi pagi itu wajah kak danu sudah beda kelihatannya. aku hanya melihat interaksi meraka dengan diam. sebab jika ingin bicara saja aku sudah susah, lantas aku mau apa dengan keadaanku yang sedang tidak sehat ini.

"maaf, barangkali kecapen. tapi udah tak suruh istirahat kok, ini makanya ngga ngawas dee, sek nde sekre ae istirahat"

manusia itu berbicara tenang. seperti biasa-dengan suara berat yang paripurna. dia bicara dengan wajah yang memang tidak pernah tampak seperti manusia bersalah.
eh, ya memang bukan salah siapa-siapa sih.

mereka berbicara sebentar, mungkin sekitar sepuluh menit, tertawa kemudian pamit pergi.
aku menerima paperbag itu, ternyata itu titipan dari ketua angkatan ku. beberpa snack manis, vitamin, permen, susu, yogurt dan beberapa lembar coolfever. tentu itu bukan pemberian pribadi. barang begitu mudah saja memintanya di himpunan. akan selalu ada, tersedia jika kamu membutuhkannya.

kan, memang rumah yang paling sayang sama kita, ya himpunan sendiri...

ketiga seniorku pergi. pesan mereka kalau aku merasa semakin buruk, bisa segera mengabari biar dijemput. aku mengangguk. aku masuk kembali ke ruangan. disusul manusia itu.

"kamu cerita apa saja, faa?"

"cerita apa?"
aku bicara dengan berbisik. bingung.

"ya kamu ngomongin aku ke mereka apa aja?"

aku menggeleng. cerita apa?
aku bahkan tidak suka padamu, kenapa pula aku harus menceritakanmu pada mereka? apa guananya? mereka seniorku, akan jauh lebih baik bahkan jika aku tidak perlu menyebut namamu didepan mereka.

tuhan, aku benci manusia ini.

"aku ga cerita apa-apa kak"

"bohong"

aku heran. cerita apa yang dia maksud. aku benar-benar tidak pernah menceritakan apapun soal dia pada mas mbak ku. lagian, dinding di fakultas ini punya telinga. semua bisa tau cerita apa saja secepat kabar burung. kabar angin. siapa saja bisa bicara. tapi, aku? tidak punya kepentingan menyebut namamu didepan seniorku. siapa kamu berharap aku menceritakanmu. dih.

aku menghela napas. aku harus menjawab apa agar dia percaya padaku, sekali saja.

"aku ga punya energi buat ngomongin orang lain, apalagi sama mas mbak ku, aku bahkan sekarang udah ga punya energi buat ngadepin orang lain, kakak masih ga percaya?..."

dia diam. menatapku dalam diam yang aku tidak tau artinya apa, sebab lagi-lagi wajahnya datar biasa saja. aku bicara dengan seluruh tenaga yang ku bisa. suara serak yang bahkan hampir tak terdengar itu menyayat dinding pita suaraku perlahan. manusia ini, manusia egois dan keras kepala ini, manusia yang ku benci ini, masih tidak percaya omonganku bahkan ketika suaraku tidak lagi bisa menembus gendnag telinganya. lantas aku harus seperti apa?

"aku cuma ga suka kamu blokir nomorku, mereka yang ga ngerti bikin omongan, nanti jadi multi-tafsir"

sejak kapan kamu peduli mereka? sejak kapan kamu peduli orang lain? sejak kapan?
aku tidak mau menjawab sebenarnya. seharusnya dia bertanya pada dirinya sendiri, apa yang sudah ia lakukan sampe aku-sebagai anggota, atau kolega organisasinya, memblokir nomornya, yang seharusnya ia paham disanalah tempat koordinasi dan komunikasi. apalagi ini masih minggu penerimaan mahasiswa baru, ada banyak hal yang perlu dikabari, tukar informasi. dan ia, barangkali, lebih sering sulit dihubungi. 

harusnya dia bertanya pada dirinya sendiri. disini, dia ku anggap sebagai seniorku, mengarahkan, megajari, memberikan pengalaman, menunjukkan cara mengambil keputusan, tapi lihatlah bagaimana cara ia berkomunikasi, jelek sekali. harusnya dia bertanya pada dirinya sendiri, kenapa bisa anggotanya berhenti berkoordinasi dengannya-yang notabenenya kepala organisasi.

harusnya, dia lebih tau. harusnya dia..
lagi-lagi dia, harus nya bertanya pada dirinya sendiri.

ah sudahlah, manusia ini, tidak akan mau mengerti.
aku mengembus nafas. percuma juga kan?

"memangnya mereka bicara apa?"

aku bertanya, berusaha dengan wajah biasa saja. menahan perih. tenggorokanku sudah berada pada batas maksimal kerja pita suara. barangkali, jika sekali lagi aku berusaha memaksa, tenggorokanku benar-benar akan menyerah, pita suaraku akan berdarah, seperti kemarin.
manusia itu menatap lama. mungkin dia menyusun kalimat.

langit-langit ruangan itu lengang.
ac nya semakin terasa dingin. dinding putih yang sudah mulai roak-roak dan terkelupas catnya itu menjadi dinding pendengar yang punya telinga. kaos abu di pojok ruangan tergantung menjadi saksi bisu, coretan tak jelas dan beberapa bingkai sertifikat pemimpin organisasi ini di periode sebelumnya juga menyaksikan betapa begetarnya suara berat itu. betapa tidak paripurnanya suara yang ia jaga selama ini.









































































"kamu, membenciku, faa?..."




























.








Komentar

Posting Komentar

hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!

Postingan populer dari blog ini

tanabata : boleh, ya?

tanabata: yang katanya sebentar.