tanabata : boleh, ya?
Aku memutar lagu multo - cup of joe untuk yang ke sembilanbelas kalinya.
tidak tau sejak kapan lagu itu biasa ku dengar, yang jelas akhir-akhir ini semua sosial media jelas memutar lagunya dengan baik.
Manusia bernama Raga itu beberapa kali mampir ke mimpi ku, mengaku bahwa dia adalah orang dari masa lalu. Dan sekarang, dia mengaku bahwa ia adalah orang yang akan membersamaiku di masa depan. Jelas aku menolak mentah-mentah mimpi jelek itu. Amit-amit.
Beberapa hari terakhir, ketika aku dan kak Danu-senior ku, menghabiskan waktu cukup lama di coffee shop yang juga menyediakan banyak buku bacaan. Tidak sengaja membahas manusia itu. Raga.
Ah sebenarnya, aku benci sekali menyebutkan namanya.
"bagaimana, forumnya...?"
"tidak baik, juga tidak buruk"
aku menutup layar leptopku. beralih melihat rak buku di depan ku. ada banyak classic literature yang tersedia. ada banyak komik lama yang bahkan aku sudah lupa berapa umurnya. dan juga... serial Lima Sekawan?! Oh Tuhan mataku langsung membelalak.
"Mas mau nitip pasal buat di bawa ke sidang?"
tanyaku sambil mulai meraih rak buku itu. membuka satu-persatu, mencoba mencari dan menemukan buku yang akan kubaca. pemira didepan mata. sungguh sebenarnya aku bahkan muak dengan pembahasan yang isinya itu-itu saja. Forum yang dipimpin manusia bernama Raga itu lagi lagi mengambang. perlu diskusi lebih lanjut katanya, tapi ia sendiri yang hobi menghilang dan sulit dihubungi. Padahal tidak jauh-jauh urusan perempuan.
"tidak"
kak Danu, atau Mas Danu aku biasa menyebutnya, menjawab singkat dengan gelengan kepala.
"tumben..."
aku menatap senior ku itu, cukup lama.
tapi dia tidak membalas dengan baik tatapanku. dia hanya tersenyum sedikit dan kembali pada layar leptopnya.
"kamu yang sehat sehat, kuliahnya yang bener. kalo info ngopi, jangan lupa ajak aku"
kaget. jelas betul kalimat itu tidak biasa. aku terdiam beberapa detik. ku letakkan kembali buku yang baru saja ku raih ke tempat asalnya.
"kenapa, mas?"
"kamu terlalu lelah dengan organisasi, barangkali kamu lupa sama apa yang sebenarnya kamu cari. ayo duduk saja, ngopi, diskusi"
dia menepuk kursi disebelahnya. tempat duduk ku.
aku belum bisa menjawab.
"aku kehilangan banyak waktu diskusi sama kamu semenjak kamu ikut sama si Raga Raga itu"
aku diam cukup lama. bingung ingin menjawab seperti apa.
Beliau ini salah satu senior ku yang paling baik, paling ku hormati, dan tentunya paling ku banggakan.
Aku belajar banyak darinya.
"mas...?"
Danu namanya. Senior kesayangan ku. Yang paling aku segani.
Aku menghormatinya sebagai seorang mentor, sebagai seorang teman diskusi.
"kamu bisa belajar darimana saja, itu hak mu."
Aku tidak pernah cerita soal perasaanku pada siapapun. Bahkan termasuk benci ku yang teramat besar kepada manusia itu-yang ternyata harus ku tempuh dengan menjadi kolega organisasinya selama satu periode. Dan, salah satu alasan ku menjadi bagian dari organisasi itu adalah, ya karena arahan kak Danu ini. Ketika semua sudah berada di penghujung masa jabatan. Dia menyerahkan keputusan itu padaku, seorang diri. dengan dalih ayo diskusi, ayo ngopi.
Aku selalu suka diskusi. Memperbaiki publik speaking ku yang masih berantakan, atau bisa dibilang jago di kandang sendiri. Banyak buku yang ku baca, jumlahnya belum seberapa. Pengetahuan dan pengalaman ku sedikit dan jelek sekali.
Tapi, seniorku yang satu itu selalu menyanjungku dengan berkata bahwa itu semua sudah cukup baik, kamu bisa belajar lebih giat lagi. Ada banyak waktu dan kesempatan untuk belajar.
Berbeda, dengan manusia angkuh itu. Yang selalu suka merendahkan dan menilai manusia hanya dengan 15 detik pertama yang ia lihat dengan mata kepalanya.
"memangnya... kelihatan, ya?"
"kamu capek ya, faa...?"
Aku menunduk. Benar. Aku capek kak. Lelah.
"Kamu boleh istirahat, faa."
"mas..."
"maaf sudah pernah membawamu sejauh ini"
Aku menghormati senior ku. Tidak perlu ada kata maaf darinya.
"Urusan Raga, biar jadi urusan ku.."
w ngship danu anjjg
BalasHapus