meja nomor dua puluh dua.

 .

Lelaki tinggi itu mengambil pesanannya. Satu cup ice choco mint ukuran medium. Lalu kemudian, ia pergi melalui pintu kaca yang meninggalkan suara lonceng setelah terbuka. ada banyak sekali pilihan menu yang tersedia. mengapa harus rasa coklat yang aneh itu?

aku bertanya karena sudah melihat lelaki itu hampir tiap hari kesini untuk membeli menu yang sama. terakhir dia kesini adalah hari rabu lalu, dan hari ini adalah hari jumat.

Choco mint memang tidak sepopuler menu lainnya. tapi beberapa pelangganku sesekali memesan hanya untuk mencoba rasanya. bahkan aku sendiri saja tidak tertarik dengan rasa itu. coklat? uh apa enaknya? ditambah mint pula, pertama kali aku mencobanya langsung tidak suka.

yang ku ingat, rasanya seperti mengunyah pasta gigi lalu menelannya terpaksa karena sulit di cerna di dalam mulut. itu karena separuh dari isinya adalah ice cream gel rasa mint yang semakin benar-benar membuatnya seperti menelan odol.

di hari berikutnya, aku melihat lelaki yang sama dengan menu yang sama. seperti biasa, setelah pesanannya jadi ia langsung pergi.

begitu juga beberapa hari berikutnya. aku memperhatikannya dengan sengaja. bahkan aku menandai kalenderku hanya jika aku sudah melihatnya.

sampai akhirnya aku sadar bahwa aku tidak pernah melihatnya datang pada hari kamis. bahkan ketika aku berusaha duduk seharian di toko untuk memastikannya dan menandai kalenderku. tapi setiap hari itu, dia tidak pernah membeli ice choco mint seperti hari hari biasanya.

mengapa hari kamis? waktu makan siang sudah lewat dari beberapa jam yang lalu. kini, toko hanya diisi oleh anak muda yang sedang nongkrong santai saja. 

dia tidak datang. tapi kemudian aku melihatnya di hari berikutnya. terus seperti itu. ingin bertanya tapi setelah ku pikir-pikir lagi, tidak jadi.

dia terus membeli menu favoritnya, cashier bahkan sudah hafal pesanannya. dia datang setiap hari kecuali hari kamis. aku menandai enam hari dalam seminggu pada kalenderku.

hingga pada suatu hari, dia datang untuk membeli menu yang sama namun tidak langsung pergi. dia memilih untuk menikmati choco mint itu disini.

dia duduk di sudut ruangan dekat pintu masuk. meja nomor dua puluh satu. meja yang jarang sekali terisi karena kursinya cuma satu.

setelah kembali memperhatikannya, aku belum mendapat pola jadwal hari ia datang kesini untuk duduk atau malah seperti biasa membawanya pergi. dalam enam hari seperti biasa, hanya dua atau tiga kali ia menghabiskan choco mint nya disini. tidak ada hari pasti, random dan benar-benar tak berpola.

aku pernah mencoba untuk duduk di kursi yang ia pilih, melihat sekitar. dan akhirnya aku sadar mengapa ia memilih duduk di kursi itu. itu adalah posisi sudut ruangan dimana ia bisa melihat sekitarya. karena letaknya di pojok, maka meja yang paling dekat adalah meja nomor sembilan belas, dua puluh, dan...nah, meja nomor dua puluh dua yang dekat namun selisih dengan jendela kaca besar. meja itu berada di luar ruangan.

wah, lelaki ini pintar memilih posisi. hari berikutnya ia tidak datang karena hari kamis. hari berikutnya lagi, dia datang dan memilih untuk duduk di tempat yang sama. karena hari jumat, kebanyakan pelanggan ku adalah para wanita. jadi rata-rata meja terisi oleh pelanggan perempuan.

ya, termasuk meja nomor dua puluh yang berada tidak jauh dari tempatnya. setengah jam berlalu, meja nomor dua puluh kosong, kini meja nomor sembilan belas yang terisi. untuk meja dua puluh dua juga masih kosong, mungkin karena masih tengah hari jadi masih terlalu panas untuk duduk disana.

tapi ternyata, setengah jam berlalu dan kursi itu kini terisi. seorang wanita dengan banyak buku di tangannya. ia memesan dua menu yaitu vanilla latte dan ice americano dua duanya dalam ukuran medium.

wanita itu sepertinya kutu buku sekali. terlihat dari perawakannya, memakai kaca mata dan backpack yang ku tebak isinya pasti buku semua. ia duduk dan mulai membaca salah satu buku yang dibawanya. ia juga mengeluarkan sebuah laptop dari tasnya dan mulai mengetik sesuatu.

lelaki di meja dua puluh satu tidak menunjukkan sesuatu yang baru. ia masih seperti biasa, duduk dan menikmati minuman rasa mint coklat kesayangannya. 

lelaki itu terlihat bersiap untuk pergi ketika pesanan sang wanita diantarkan. dua gelas berukuran sedang dengan rasa sesuai pesanan mendarat di meja wanita itu.

ya, lelaki itu meninggalkan gelasnya dalam keadaan kosong. ia pergi melalui pintu kaca yang meninggalkan suara lonceng setelah terbuka. ku kira, tidak ada yang salah dari kejadian ini. hm, ku kira begitu.

hari berikutnya, lelaki itu datang dan kembali duduk di tempat biasanya. tapi tidak sampai satu jam ia pergi dengan gelasnya yang masih terisi setengahnya. hari berikutnya lagi, dia kembali tapi kali ini ia tidak duduk. hari berikutnya, kemudian berikutnya, berikutnya, dan berikutnya lagi. hari kamis dia tidak datang, tapi kalau aku tidak salah mengingat, wanita yang duduk di meja luar itu yang datang.

dia memesan dua menu, vanilla latte dan jus alpukat dengan ukuran medium keduanya. wanita itu sama seperti yang ku lihat terakhir kali, dengan banyak buku dan leptop yang menyala sebab sedang mengetik sesuatu.

hari jumat, lelaki itu datang tidak lama setelah wanita kemarin memesan pesanannya. mereka duduk dengan urusan masing-masing dengan sekat jendela kaca diantaranya. tidak ada yang aneh dengan itu. wanita itu kembali memesan dua menu yaitu vanilla latte dan jus tomat. beberapa menit setelah pesanan keduanya tiba di meja masing-masing, aku memperhatikan lelaki itu lebih intens.

ia pun pergi ketika beberapa orang masuk dan duduk di dekat mejanya. dia keluar melalui pintu kaca yang meninggalkan suara lonceng setelah terbuka. kali ini aneh. wanita di luar jendela itu menyadari kehadirannya. entah sedang mengingat apa, wanita itu berdiri memandangi punggung lelaki itu menjauh. tidak ada suara disana. wanita itu tidak berkata apapun meski ku lihat bibirnya mengucap sebuah kalimat.

ketika lelaki itu sudah benar-benar tak terlihat, wanita itu justru baru berniat untuk mengejar. sudah sangat  terlambat, tentu saja. bukan karena wanita itu tidak bisa menyusul, bukan.

tetapi karena sesaat kemudian, lelaki itu terbaring jatuh menyentuh aspal keras diikuti suara decitan rem dan juga teriakan. tiga korban kecelakaan itu tewas ditempat. seorang anak kecil berusia kurang dari tujuh tahun, dan satunya lagi adalah wanita pengemudi mobil van warna hitam yang tidak sengaja menyeret habis trotoar jalan. lelaki choco mint itu disana. bersimbah darah tergeletak tak bernyawa.

ya, belum sempat ambulans membawa mereka ke rumah sakit terdekat. lelaki itu menghembuskan nafas terakhirnya. kerumunan orang mulai memadati lokasi. ibu dari sang anak menangis histeris. wanita di dalam mobil berhasil dikeluarkan sesaat sebelum mobilnya hangus terbakar.

dan, semua semakin jelas ketika wanita kutu buku di meja nomor dua puluh dua itu menghampiri lelaki penuh darah dihadapannya dengan gemetar. wanita itu menangis pelan. tangannya berusaha menemukan denyut nadi dan berharap masih ada sedikit doa untuk hidup lelaki itu selanjutnya. sayangnya, itu terlalu sulit diterima logika. tuhan tidak mudah mengabulkan doa tiba-tiba.

wanita itu menangis memangku wajah lelaki itu. ada penyesalan yang teramat sangat besar disana. kekecewaan dan kebencian terhadap dirinya sendiri memenuhi otaknya.

wanita itu kemudian berdiri.

"tolong pak, suami saya"

lututku lemas seketika.


...


   kamis, gerimis.


aku masih sering memperhatikan pelangganku tanpa alasan. toko ku juga selalu ramai seperti biasa. yang tidak biasa hanyalah ice choco mint yang tidak punya pelanggan setia seperti waktu itu. wanita di meja nomor dua puluh dua itu masih sering berkunjung. yah, sesekali lah. dua atau tiga kali seminggu dengan pesanan dua menu ukuran medium seperti biasanya. vanilla latte dan satu lagi minuman random pilihannya.

ku kira hari ini dia tidak datang, karena baru saja gerimis tentu meja di luar itu akan basah. aku menebaknya begitu. tebakanku jarang meleset, harusnya. dan kali ini wanita itu datang dan duduk di meja nomor dua puluh satu. ya, meja di sudut ruangan ini dengan satu kursi.

dia memesan vanilla latte dan... tebaklah sendiri. vanilla latte medium itu kini berteman dengan ice choco mint yang bahkan sudah lama sekali tidak menemui tuan setianya.

wanita itu tidak bawa leptop dan tidak sedang mengetik. dia mengeluarkan sebuah buku. hanya satu buku, yang ku lihat sampulnya nampak masih sangat baru.

tidak lama, wanita itu duduk seperti hanya untuk menunggu gerimis mereda. dia hanya meminum vanilla lattenya, itupun sedikit. ia tidak menyentuh choco mintnya sama sekali.

wanita itu pergi melalui pintu kaca yang meninggalkan suara lonceng setelah terbuka. dia tidak menghabiskan dua menu yang ia pesan. ia meninggalkan semua sisanya disana. juga buku bersampul baru itu.

aku tidak mau menebak apakah wanita itu balik lagi untuk mengambil buku ini atau tidak. aku tidak mau menebak apapun setelah ini. karena buku bersampul baru itu adalah buku pertamanya. benar, ia adalah seorang penulis. dan buku ini baru saja terbit untuk cetakan pertamanya. 

buku itu berjudul 'meja nomor dua puluh dua' . awalnya aku tidak ingin memasuki cerita ini lebih jauh. akan tetapi, terlanjur penasaran dengan lelaki dua tahun lalu itu membuat aku berfikir apakah buku ini merupakan bagian dari kisah yang di tulis wanita ini untuknya.

ya, wanita yang dua tahun lalu mengaku bahwa ia adalah istri dari lelaki choco mint itu.

dan benar, ketika kamu percaya sebuah kalimat menyenangkan maka kamu akan semakin dalam untuk terjun pada dunianya. ketika kamu selalu yakin bahwa everyone has a happy ending. if you are not happy, it is not the end.

 dan kini keyakinan itu hanyalah omongan semu seperti teks yang kamu temui di awal bab sebuah cerita. kalimat yang hanya akan membuat para pembaca melanjutkan pencariannya disana.

dan pada akhirnya, aku sendiri tau. buku itu adalah benda terakhir yang akan menjadi kepingan cerita lelaki itu. benda terakhir yang menjelaskan bahwa mereka bukanlah sepasang suami istri.

apa aku salah telah masuk pada dunia mereka terlalu dalam? aku membaca buku itu sampai halaman terakhirnya basah karena tangisanku. air mataku menetes berkal-kali karena aku menemukan jawabannya.

lelaki itu adalah kekasih wanita tersebut. mereka tujuh tahun saling menyukai namun berakhir pada kata pisah setelah keduanya saling menyerah. orang tua sang wanita menginginkan lelaki yang pergi sholat jumat, bukan lelaki yang ikut memperingati kamis putih.

buku itu berakhir dengan bab yang menyedihkan sebagai kalimat selamat tinggal. tujuh tahun saling menguatkan, mereka kalah sebab tidak saling mengalah karena tuhan.

lelaki itu sudah melakukan hal yang benar, dia tidak pernah merebut wanita itu dari tuhannya meski cintanya bisa saja menembus jendela kaca yang pernah menjadi sekat diantara mereka.

setelah hari itu, meja nomor dua puluh satu dengan kursi satu itu tidak pernah ada yang mengisi. sebaliknya, meja nomor dua puluh dua di luar jendela sana justru menjadi spot favorit anak muda. 

wanita penulis itu tidak pernah kembali setelah kurang lebih enam bulan ia meninggalkan bukunya. aku melihatnya di berita sesekali karena bukunya berhasil melanjutkan cetakan berikutnya.

semua berjalan begitu saja, sampai aku menemukan pelanggan choco mint ku yang baru karena aku masih dengan kebiasaan ku yaitu memperhatikan pelanggan ku secara diam-diam.

tenang, aku tidak akan sampai menandai kalender ku kali ini. karena setiap kisah yang dimulai dengan baik, akan tetap punya kesempatan untuk berakhir mengecewakan.

.

because theres is no happy ending.

theres just a happy.

then ending.


 

Komentar

Posting Komentar

hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!