terbang ke saturnus : yang tidak sesuai.
tumben. menginterogasi seperti tidak puas dengan omongan ku.
biasanya, tidak butuh jawaban kedua ketiga dan seterusnya. dia akan percaya, karena memang begitu seharusnya. tapi kali ini...
Fal, apa semua omongan ku setidak meyakinkan itu? apa semua cerita ku penuh dengan kebohongan bagimu? apa semua tentang ku hanya dusta saja dihadapan mu?
Apa sekarang sudah seburuk itu aku dimata mu?
“tidak faa, aku hanya tidak ingin membenci mu. bahkan untuk pikiran ku sendiri”
.
dua.
izin memilih bahagia.
Ara. Nama perempuan itu.
Kulitnya putih. dia tinggi, pintar, dan yang pasti dia cantik. akun sosial medianya terlihat baik, seperti cewe famous yang selalu jadi the most wanted at school. Ya begitulah kira-kira.
“gw sama dia emang ga pacaran. tapi kalo ditanya gw milih siapa diantara kalian berdua, jawabannya pasti dia, faa. untuk saat ini, gw milih dia aja. meski perasaan yg gw punya belum beralih sedikitpun, tapi gw coba buat percaya sama semesta. gw milih dia. iya, dia yang selalu ada padahal lu yg gw perjuangin untuk ada. dia yang selalu dengerin gw cerita padahal semua skenarionya cuma soal elu dan dunia yang lu punya. dia ada faa, selalu ada bahkan waktu dia tau seberapa dalam doa gw buat minta hati lu sama Tuhan. maaf ya faa, gw ngingkari janji yang gw buat sendiri. lu berhak Kecewa sama planet saturnus kali ini”
Saya tidak menjawab.
Malam itu, langit tidak mendung. Tidak tampak bahwa semesta ikut murung. Tidak terlihat akan terjadi hujan.
“lu bener faa, hati yang terlalu biasa berharap, emang semudah itu dipatahkan”
dan bulan yang tubuhnya hanya separuh itu menjadi saksi bisu satu satunya. Saya merekam baik-baik kalimatnya tadi. membandingkannya dengan deretan ucapan menenangkan darinya dulu. iya, sebelum luka itu benar-benar sembuh. memang sabaiknya jangan cari sakit yang baru.
saturnus yang saya pelajari untuk dijadikan rumah singgah berikutnya, kini sedang menerima tamu yang jauh lebih istimewa dari saya.
“faa...”
“iya. gapapa”
“faa..”
“its oke Fal, lu ga boleh bingung sama perasaan lu sendiri”
pembicaraan yang sudah lama tidak berlangsung. setelah sekian bulan saling menyibukkan diri. kini emosi itu satu persatu terucap.
“lu nganggap perasaan gw ke elu dua tahun lebih masih membingungkan?”
“itu masih angka dua, fal”
“sampe kapan faa?”
“...”
“sampe kapan? sampe lu nyadar atau sampe gw nyerah?”
wht? falak gila ih
BalasHapus