terbang ke saturnus : rencana sejak april
Saya meninggalkan nya dengan cerita menggantung di udara dan segenap pertanyaan yang cuma bisa muter muter dikepala.
Saya pernah begitu menyesal telah memilih jalan untuk berakhir dengan berpisah arah darinya.
Ya. waktu ngga bisa balik lagi. semua itu sudah terjadi, dan sekarang kami—Saya dan manusia yang ingin menjadi planet saturnus itu hanyalah dua orang asing yang tak lagi bisa berada diantara kata saling.
pada malam setelah gerimis di pertengahan bulan desember, musim hujan yang dingin. penghujung tahun penuh harapan, semesta mempertemukan saya dengannya. arah angin dengan keseriusan nya berhasil membawanya bertemu dengan saya.
Dia datang entah dari mana, membawa kabar yang ngga baik buat pikiran saya setelahnya.
hampir setahun semesta menyembunyikan kabarnya dari saya. dimana ia, bagaimana harinya, sesibuk apa tugasnya, saya tidak pernah diberi tahu.
tapi, malam itu dia datang dengan sendirinya. menyusuri kota kecil tempat saya berada. sejauh itu jalan yang ia tempuh hanya untuk penyampaikan pesan perpisahan.
sebuah kalimat selamat tinggal, tanpa ada kalimat sampai ketemu lagi :(
September lalu, saya memang sempat dikabari oleh teman perempuannya yang waktu itu —Aca, bahwa ia sudah punya rencana akan pergi, rencana yang telah ia susun jauh jauh hari.
dan, benar.
Dia memilih untuk terbang jauh mengejar impian nya. meninggalkan saya, luka terberatnya.
“pesawatnya jam sebelas, faa”
Saya sudah tidak bicara sejak pertama kali saya melihatnya tadi. setelah sekian lama, saya kembali menatap mata coklatnya.
sekian jam perjalanan, badannya sudah lemas, wajahnya sudah pucat kelelahan. tapi, dia tetap berdiri dengan baik di hadapan saya dengan senyum pahit yang amat sangat terpaksa.
“maaf ya kalo mendadak banget”
Dia menunduk. saturnus si planet pelarian, yang menawarkan singgah agar saya merasa cukup. saturnus, si planet yang selalu ada. seperti seikat janji yang melingkar di cincin besarnya. yaa, dialah yang ingin menjadi saturnus untuk saya. kini tampak lemah dan pasrah.
“faa,”
Suaranya parau.
“capek capek kesini cuma buat itu?”
Dia mengangguk.
dada saya sesak. saya tidak terima jawaban itu.
“faa”
Dia memanggil lagi. suaranya seperti sudah sangat ingin menyerah. saya belum lama melihatnya, apakah dia sudah akan beranjak?
Malam itu, saya melayangkan kalimat kepada langit agar tidak usah repot-repot menjauhkan saya darinya sejauh itu. Tidak perlu terlalu jauh.
Tuhan, adakah manusia baik lainnya yang seperti dia?
ah atau kalau bisa, boleh minta saja hatinya? sebab, mendengarnya akan pergi sejauh itu seperti meneguk secangkir kopi terpahit yang pernah saya minum.
Saya menyesal telah membiarkan kopi itu dingin.
tiket pesawat yang akan menerbangkan dia jauh dari saya menyiratkan gelisah yang tidak sedikit di kepala.
“jaga kesehatan ya, aku pamit. makasih”
tubuhnya beralih. saya ingin menahannya. tapi tidak bisa. Tidak punya hak. saya menangis diam. saya lihat koper besar di tangannya itu. sudah siap membawanya pergi untuk tidak lagi kembali.
Ya. saturnus itu pergi.
“kita.. masih bisa ketemu lagi kan, ya?”
Dia tidak menjawab. matanya tidak lagi menyiratkan perasaan yang pernah dia punya untuk saya. semua gelisah selama ini hilang dibalik punggungnya yang kian menjauh.
“assalamualaikum, faa”
see u soon, f
BalasHapusy, see u soon!
BalasHapus