terbang ke saturnus : jurus tanya tanya

Lampu jalan di ujung lorong sudah redup. Berkali-kali mati kemudian hidup lagi dengan sendirinya. Dua tiga kali cahayanya mendadak terang sekali. Tapi setelah itu, kembali menggelap.

Orang yang sudah biasa lewat mungkin tidak asing dengan lampu penerang jalan yang nyawanya nyaris tidak ada ini. Tapi buat sebagian orang yang jarang lewat jalan ini, mungkin agak sedikit menyeramkan.

“masih jauh?”

Suaranya mengalihkan ketakutan saya. Telepon itu sengaja saya sambungkan agar tidak begitu merasa sedang sendirian.

“bentar lagi nyampe”
Saya baru pulang sekolah. Ini adalah pertama kalinya pulang sekolah lewat jam tujuh malam sendirian. Jalan kaki pula. Semuanya berawal dari perkara kunci toilet di labor jurusan. Toilet itu harus selalu di kunci setiap selesai digunakan. Saya di tunjuk sebagai pemegang kunci.

Harusnya, tanggung jawab kunci itu di pegang bersama. Tapi sekelas dengan manusia manusia egois nyatanya tidak memberi kesempatan baik untuk bekerja sama. Saya mencari kesana kemari, ke ujung ujungnya. Dari atas hingga bawah, sendirian. Benar benar sendirian. Mereka hanya membantu setengah jam saja, selebihnya mereka menyerah dan pulang dengan alasan takut ke sorean.

Saya sudah hampir putus asa tadi, untung sholat maghrib menjadi jeda dan akhirnya ada kabar baik. Ah kalau tidak, saya bisa saja bermalam di sekolah dan tidak pulang. Menangis tersedu karena takut dan sangat panik akan kehilangan. Kalo ga ketemu gimana, kalo kena marah gimana. Duh nasib saya memang agak buruk hari ini.

Dua jam mencari, akhirnya satpam sekolah membantu dan kunci itu ditemukan basah kena air comberan dekat selokan sebuah gudang. Mainan kunci yang terbuat dari kain flanel berbentuk dinosaurus warna hijau sudah lusuh dan bau. Kotor kena bercak tanah, dan lendir menyelimuti. Jorok sekali.

Kemudian, saya ditawarkan untuk diantar pulang karena sudah malam, tapi saya menolak. Memilih untuk pulang sendiri. Jalan kaki. Dengan lutut yang sudah lemas, dan hati yang masih kesal. Saya berjalan menyusuri jalan pulang yang lewat gerbang belakang. Tidak memilih lewat depan yang ada jalan besar. Malu dilihat orang bahwa saya sedang menangis.

Maka untuk mengusir ketakutan jalan gelap yang saya lewati itu sendiri, saya menelepon seseorang yang aktif ponselnya. Setidaknya sedikit cerita agar lepas kecewa yang sempat bikin sesak di dada. Ternyata, orang baik itu banyak. Tapi orang yang benar-benar baik dan mau nolongin kita waktu susah, ya ga sebanyak itu. Bisa di hitung satu satu.

“masih nangis?”

Sebenarnya, dia juga baru sampai rumah. Aktivitas di sekolah dan jarak pulang ke rumah yang cukup jauh emang selalu bikin dia pulang telat.

“udah ngga”

“sampe rumah gausa mandi, udah malam. Ga baik mandi malam malam” 
“tapi gerah, keringetan”

“gapapa, di tahan dulu hari ini”

Saya tiba di rumah saat azan isya terdengar. Telepon tidak di matikan, melainkan hanya di bisukan saja mic-nya. Dia yang minta untuk begitu. Dia bilang, biar kelihatan lama telponannya. Saya membersihkan badan dan mengganti baju. Tidak mandi seperti yang ia katakan. Kemudian sholat isya, dan pembicaraan itu kami lanjutkan.

“faa, gw boleh nanya?”

Dia sedang mengunyah menu makan malamnya. Pokoknya, kalau telponan jam segini, dia emang biasanya ngunyah. Udah hobi dia, ngomong sama saya sambil makan.

“ngga”

“kenapa lu nelpon gw?”

“gw bilang kan ga boleh nanya”

“kenapa gw, bukan dia?”

Saya diam. Menghela nafas pelan. Mencari alasan.

“takut ganggu”

“jadi nelpon gw ga takut?”

“bukan gitu”

Dia mengunyah lagi makanannya. Memberi sedikit jarak dari semua omong kosong ini.

“dia tau lu baru pulang? Dia tau lu tadi nangis? Dia tau...”

“ngga Fal, dia ga tau”

“terus dia taunya apa?”

“dia ga tau apa-apa”

Orang aneh itu memang tidak pernah tau persis seperti apa keadaan saya. Lebih tepatnya, dia tidak pernah tau sedikit pun apa apa soal saya.

“terus kenapa lu bisa suka sama dia?”

“ga ada hubungannya sama itu Fal”

“ada. Kenapa bisa lu suka sama orang yang bahkan ga pernah ada buat lu, anjirr”

Yang kita cari, emang sering kali ngga ada.
Kalimat yang sebenarnya punya arti sangat luas. Salah satunya, seperti saat ini. Ketika saya mencari alasan untuk tetap menyukai orang itu. Alasan itu tidak ada. Saya tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan itu.

“gausa dijawab deh. Gw tau jawabannya cuma satu”

“apa?”

“karena lu bego”

“iya emang”

“sangking bego nya, lu lupa kalo udah bawa gw sama dia masuk ke dalam semesta yang sama”

Saya tidak menjawab kalimat itu. Saya diam menunggu dia melanjutkan bicaranya. Tapi nampaknya, dia juga sedang menunggu saya untuk bicara.

“lu pernah minta maaf sama dia?”

Beberapa detik berikutnya, dia bertanya lagi. Dia memang punya banyak sekali pertanyaan untuk hal hal yang sebenarnya dari awal tidak perlu dicari tau jawabannya.

“pernah”

“untuk apa?”

“dimana mana orang minta maap ya karena bikin kesalahan”

“iya tau, maksudnya kesalahan apa?”

“banyak”

Saya pernah meminta maaf atas kesalahan yang sama. Orang itu menerimanya. Kesalahan yang diulang terus, berkali-kali. Mungkin itu yang membuatnya pergi. Saya pernah meminta maaf atas hal yang tidak saya lakukan. Orang itu menerimanya. Kesalahan yang bahkan hingga kini saya tidak tau kapan saya melakukannya. Mungkin itu yang memberikannya pilihan untuk mengakhiri.

Saya pernah, meminta maaf hanya sebagai bentuk alasan yang cukup klise. Dimana perasaan saya padanya adalah sebuah kesalahan terbesar yang tidak bisa di selesaikan dengan dua kata itu.

“lu kalo ngasi jawaban emang ga pernah spesifik ya”

“udah ah, bahas yang lain aja kek”

“ada lagi faa, gw masih punya pertanyaan”

“tapi dari awal, gw bilang lu ga boleh nanya”

Dia ketawa. Tapi tetap melanjutkan pertanyaan yang ingin ia katakan.

“kenapa lu kayak gini ke gw?”

“kayak gini gimana maksudnya?”

“lu berani ganggu gw tapi ga berani ganggu cowok lu sendiri”

Kata ganggu disitu mungkin maksudnya adalah saya yang selalu mengabarinya lebih dulu, memberi taunya ini dan itu, serta seluruh hal yang saya sampaikan padanya tapi tidak pada orang itu.

“dia sibuk sama urusannya”

“urusannya yang mana?” katanya. Nada suaranya menantang.

“lu ga perlu tau, yg perlu lu tau adalah lu orang yang banyak tanya, Fal”

“udah tau. Tapi kalo ini lu tau?”













“apa?”





















“gw suka lu ganggu, hehe”

Komentar

Posting Komentar

hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!