terbang ke saturnus : dia tambah tua
Sekitar sebulan yang lalu, dia berulang tahun. Ya, tepat tanggal enam bulan lalu. Dia marayakan ulang tahunnya tanpa saya. Sama seperti tahun sebelumnya. Dia melewati semuanya tanpa saya. Dia terbiasa begitu. Karena mau atau tidak, setuju atau tidak setuju, dengan atau tanpa saya, waktu akan terus berjalan dan memang akan selalu begitu.
Saya ingat, tahun lalu kami masih baik-baik saja dengan semua kekonyolan dan omong kosong yang kami punya di setiap obrolan telepon. Beberapa minggu sebelum ia berulang tahun, dia sempat bilang bahwa saat itu tidak ada yang lebih ia inginkan dari sekedar ucapan dan doa selamat dari saya. Menurutnya begitu saja cukup.
Aih, tapi semesta bahkan tidak membuat harapan sederhana itu menjadi nyata. Sebab sebelum semua hari di lalui bahkan mendekati hari jadi kelahirannya itu, hubungan pertemanan kami sudah kandas bahkan tanpa kalimat perpisahan yang baik untuk di kenang.
Perpisahan yang ga bisa dibawa santai. Karena menurut saya, hari itu masing-masing dari kami punya emosi yang ingin sama-sama di dengar. Rasa peduli dan semua sakit hati sudah berada di ujung bibir. Saya tau, hari itu dia sudah benar-benar ingin membuat saya berhenti mengejar harapan yang sebetulnya sejak awal itu semua bukanlah milik saya.
Waktu itu, mungkin akan jadi salah satu hari yang tidak dia suka, dan dia akan menyesal bila mengingatnya. Sebab kalimat yang keluar dari mulutnya benar-benar mulai menyakiti hati saya.
Dia sudah beberapa kali mengucapkan kalimat jahat yang sedikit kasar, dan itu saya anggap biasa. Tapi, waktu itu dia sudah berada pada puncak kebenciannya terhadap orang itu.
Jadilah, emosi mudah nguasai pikirannya. Dia melontarkan kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Kata yang seolah menurunkan kehormatan seorang manusia. Dimana letak keramahan seorang lelaki kalau bukan dari cara bicaranya?
Sebenarnya, saya tau bahwa dari awal ini akan menjadi rentetan kalimat yang ga baik untuk di ingat. Karena sebelum sempat hari itu terjadi, dia sudah pernah bilang bahwa dia membenci keadaan dimana dirinya dalam keadaan emosi.
Ya pada saat itu, dia mengaku tidak akan bisa mengontrol dirinya sendiri. Satu yang saya ingat, dia baru saja menyadari bahwa cerita yang dimasuki oleh tokoh utama yang bukan dia pemainnya itu adalah kisah klasik tanpa peran hati didalam nya.
“dari awal lu terlalu egois. Sampe lu berlaku jahat cuma ke gw doang, bangs..”
“...”
“lu ga punya hati faa”
“iya, memang”
“pembahasan soal perasaan lu ke dia itu cuma omong kosong, bullshit anjing”
“ngga gitu”
Untuk sebuah akhir yang tidak baik. Maka saya memilih untuk tidak lebih jauh menuliskannya. Saya memilih untuk tidak lebih panjang menggambarkan semenyeramkan apa dia malam itu. Saya memilih untuk tidak menjadikannya tokoh yang banyak dibenci hanya karena dia berlaku tidak baik. Saya memilih untuk tetap menjadikan dia manusia yang layak untuk dikenal sebagai salah satu bagian dari perjalanan ini.
Sudah lebih baik jadinya sekarang. Di waktu yang kami habiskan masing masing itu, ia memulai semuanya kembali. Saat bertambahnya usia dan saat orang orang di sekitarnya mulai peka akan seberapa menyenangkan nya dia.
Sebab, semesta mulai baik. Dia sembuh dengan sendirinya. Lukanya hilang perlahan.
Selamat ulang tahun.
Selamat ulang tahun, Fal.
Selamat ulang tahun manusia baik.
Terima kasih sudah jadi tempat perjalanan planet menyenangkan.
Terima kasih untuk sudah menjadi teman. Terima kasih untuk pernah memberi ruang singgah.
Tetap kuat, tetap bahagia.
Ketemu lagi pada waktu pilihan semesta.
selamat menua manusia baik, dariku pengagum rahasia mu :)
BalasHapusHBD FALAK
BalasHapus