t i g a p u l u h t u j u h

Karena suka sama kamu, banyak sakitnya.

Semesta terlanjur bilang ga suka sama hubungan kita. 
Iya Mars, suka sama kamu terlalu banyak kecewanya.

Ku kira kita akan segera baik-baik saja. Tapi, ternyata kamu milih buat nyerah aja.

Padahal seharusnya, kita punya banyak kesempatan buat ngadepin masalah sama sama. Kalau saja, hari itu kamu ga nyoba buat ngelepasin hal yang susah didapetin.

Seharusnya, kita punya banyak cerita untuk dilanjutkan, kalau aja waktu itu kamu ga milih buat berakhir dengan sebuah perpisahan yang aku harap, kita bisa jauh lebih baik dari itu.

Setelah pesan menyakitkan darimu malam itu, ku pilih untuk mengubur baik perasaan ku padamu. Nomor kontak mu sudah benar ku blokir sekarang. Tidak disimpan dengan nama apapun, melainkan hanya deretan angka yang meski aku hafal semua nomornya.

Gak apa, mungkin emang gitu cara semesta nunjukin seberapa keras kepalanya aku memilih untuk tetap sama kamu.

Gapapa Mars, mungkin emang dari awal kita sama-sama egois. Terlalu memaksakan.
Untuk kesekian kalinya, aku tetap bilang gapapa. Mungkin begini cara semesta memperlakukan hambanya yang tidak mau mendengarkan. 

Sudah berulang kali aku diingatkan untuk berhenti mencintaimu. Tapi aku tidak bisa. Aku memilih untuk melanjutkannya. Meski terlihat paragraf cantik itu akan segera terbit sebagai cetakan pertama perasaan ku yang kau hancurkan.

Tak apa. Aku merelakannya.

Bahkan sejak buket bunga tulip waktu itu ketahuan siapa pengirimnya, semua bakal tetap berjalan seperti cerita yang membosankan. 

Tidak ada pemain tambahan karena disini, ceritanya cuma kamu yang punya. Tokoh yang lain ngga boleh ada meski mereka punya peran berharga. Buatku, buat kamu, dan buat cerita ini yang bikin jadi punya bahan dasarnya.

Kamu yang milih buat ga dengarin penjelasan aku waktu mau cerita ke kamu. Kamu yang milih buat ga peduli soal cerita cerita manusia itu,karena yang kamu mau aku ceritanya cuma tentang kamu. Kamu yang bilang kalau sejauh apapun aku berusaha buat pulang, ya tempat pulang aku bukan ke kamu. Kamu yang bilang waktu itu kalau lebih baik kisah ini isinya cuma kita berdua aja, tapi kamu juga yang bawa bawa orang lain buat masuk ikut campur urusannya. 
Iya Mars, di cerita ini kamu yang jadi tolak ukurnya. Bahkan, tingkat bahagianya aku udah ada di tangan kamu. Tapi dengan begitu egois nya kamu ga pernah dengar cerita versi aku.

Dan sekarang, ketika tahun tahun berlalu. Rasa sakit itu mengingatkan kita pada waktu dimana seharusnya ga ada yang memulai cerita ini awalnya.

Ya, kalau saja langkah yang ku ambil untuk menjawab pesan mu malam itu adalah cukup dengan tertawa, bukan jatuh cinta.

Kalau saja hari itu tidak ku teruskan bertemu denganmu, ya memang lebih baik begitu, waktu itu harusnya ku hentikan langkahku yang meski begitu bersemangat sekali.

Dan bila terus menerus disayati satu persatu, maka yang ku punya hanyalah kekecewaan dan penyesalan.

(👥) “seenggaknya sejauh ini kamu sudah cukup tau dia orang yang seperti apa”

Engga Mars. Aku ga pernah tau kamu orang yang seperti apa. Bagaimana kamu, dan apapun itu rasanya aku masih terlalu terasa baru dengan mu. Setahun lebih mengenal mu, ternyata masih se asing ini rasanya.

Karena setiap pertanyaan yang ku lemparkan, engga pernah kamu jawab dengan pernyataan pasti. Seolah kamu memang sengaja bikin aku harus cari tau sendiri.

“faa, kita udah sama-sama gede. Ga seharusnya di kekang”

Maka, pada malam dimana kunyatakan perasaan ku padamu waktu itu, ku dapati kamu menjawab dengan bilang kamu juga menyukai ku.

Tapi kenyataan yang tergambar pada lintas pikiran dan apa yang terlihat, kamu ngga kayak gitu Mars.

Ngga sama sekali.

Malam itu, aku hanya ingin kamu mengabariku. Tapi sepertinya, hal kecil yang ku anggap sepele itu nampak sulit kamu lakukan di waktu luang mu.

Ternyata, menjadi sibuk adalah kamu yang sebenarnya. Menjadi cuek dan tidak peduli adalah sikap mu selama ini. Aku benar-benar salah sudah mengenal mu secara virtual waktu itu. Yang ku rasa, jadinya kamu seperti manusia yang berbeda.

Maka maaf, jika nanti kamu temukan paragraf penerimaan. Atau bahkan kalimat kebahagiaan bahwa aku masih mengharapkan kamu untuk kembali, setidaknya kamu ngga boleh ambil semua seutuhnya.

Karena aku masih punya rasa takut, kalau saja bisa jadi—kamu mungkin bakal ngilang lagi.








———————!!!!!!! 



Karena untuk percaya lagi sama kamu, aku butuh hati yang lebih kuat lagi. 
Karena untuk yakin lagi sama kamu, aku butuh sayang yang lebih besar lagi.

.

Komentar

  1. seegois itu aku mencintaimu~~ eak mana nih revisi kebanyakan cut scenenyaa njirrr

    BalasHapus
  2. sadarkah kalyan klw ni cwk sdg merindukan si Falakk ��

    BalasHapus

Posting Komentar

hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!