terbang ke saturnus : terlanjur terlalu bergantung

“sebentar faa, cuma sebentar”

Panas terik membuat keringat mengucur dari jidat. Tengah hari yang begitu menggosongkan kulit.
Ini magang hari ke dua. Di tengah saya mengerjakan tugas saya, nomor itu masuk menjadi deretan angka tak bernama. Angka yang cukup saya tau siapa pemiliknya. Sembilan satu ujungnya. 


Ketika saya terima panggilan telepon itu, maka suaranya menjadi pembicara di ujung sana.

“lima menit saja”

Dia hanya mencoba memperbaiki apa yang salah kemarin, faa. 

“apa kabar fal?”

Pertama kali mendengar suaranya setelah sekian lama, mungkin dia kira saya akan menolak teleponnya.

Tapi, situasi dimana kami udah ngga kayak dulu lagi, emang kayaknya lebih baik saya dengar cerita dia kali ini.

“baik faa, gw sehat. Lu gimana?”

Masih saja. Masih seperti itu. Sebutan Lu-gua ga bisa lepas dari kebiasaannya. Gapapa.

“agak cape dikit. Lu ada perlu apa, ngapain nelpon?”

Dia diam. 

Saya berteduh. Nungguin dia diam ngga cukup lima menit. Saya menghembuskan nafas agak keras, biar dia bisa dengar kalau saya lagi nungguin dia ngomong sebenarnya. 

“faa..” 

“hm?”

“faa, gw...” 

Ah lama. 

Saya tau dia menyiapkan momen ini untuk bicara sesuatu yang sudah dia susun kalimatnya. Saya tau dia menelepon saya untuk hal yang lebih penting mungkin baginya.
Saya tau itu.
tapi...

“fal, maap, gw udah coba. Sebanyak apapun tetap gabisa. Sejauh apapun gw pergi kayaknya bakal tetap pulang ke dia karena... ya karena rasanya rumah gw cuma ada di dia.”

“faa...”

Ya karena, sebenarnya. Dari awal saya nggak pernah benar benar punya rumah. Karena mereka yang datang ya cuma buat singgah.


Saya meninggalkan nya, karena yang saya mau adalah berhenti dari kehidupan keduanya. Baik dia maupun orang itu, yang saya mau mereka bahagia dengan hidupnya.

Karena ternyata, mengenal mereka membawa luka juga akhirnya. 

“lu nelpon cuma buat manggil nama gw?”

“eh.. enggak”

“terus? Lu mau nagih utang pulsa 10rb waktu itu?”

“astagfirullah, enggak faa”

“terus apa Fal? Apa?”

“tadi gw mau ngomong lu malah ngomong duluan” 

“oh yaudah, lu mau ngomong apaan. Gw masih jadi orang sibuk ya, susah diganggu, jadi buruan” 

Matahari yang senyumnya kayak senyum pepsodent itu langsung meneduh. Entah langit mendengar kalimatnya atau hanya kebetulan saja.

Saya merasa akan ada bagian yang hilang setelah ini. 

“bismillah, fa..”

“eh apaan bismillah bismillah?” 

Suaranya parau. Dia menahan sakit, atau mungkin sesak selama ini. 

Saya kehilangan dia, kehilangan yang benar benar entah kapan akan kembali saya temukan. 

“gw coba buat... ikhlas, gw berhenti berdoa sama Tuhan soal lu. gw berhenti minta sama Tuhan hal yang ngga pernah bisa gw dapet dari lu...” 

Awan di langit siang bergerak, menyusuri tiap jengkal hamparan sutera putih diatasnya. 

Saya diam. Merekam jejak kalimatnya. Kalau saja nanti sewaktu saya mencarinya kembali, tidak akan ada penolakan karena yang dia ucapkan hanya soal melepas perasaan. 

“wkwk maap agak lebay, tapi ya gitu. Tujuan gw nelpon ya buat.. ngucapin selamat tinggal wkwk” 

“harusnya sampai jumpa Fal, bukan selamat tinggal” 

Karena disetiap sebuah pilihan mengakhiri, sebenarnya kita selalu ingin untuk memulainya kembali. Termasuk memperbaiki apa yang lebih baik untuk ngga di ulang karena takutnya terlalu banyak menyakiti. 

“nanti kita ketemu di lain waktu. Sehat terus ya kamu, karena itu segalanya buatku.” 

Dan...

Telepon itu mati. Suaranya berhenti terdengar.

Ya, dia memutuskan untuk pergi. 














Cukup sampai disini. 


Komentar

  1. Falakk bakal nyesel berenti suka sama Fa, dan Fa juga bakal lebih nyesel gaperna nerima perasaan itu

    BalasHapus
  2. jahatnya, semesta ketawa liat mereka berdua yg sama sama egois mikirin isi kepala padahal sebenarnya cerita mereka salahnya cuma di orang ketiga, haha :')

    BalasHapus
  3. mars bahagia melihat ini ��

    BalasHapus
  4. cuma mau bilang, faa kalau nanti falakk balik lagi, plis kali ini pilih dia yaa, aku tim kamu sama Falakk soalnya wkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!