e m p a t p u l u h

(BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS!) 
Bab Terakhir : Bagian yang tak pernah ku tuliskan.
.
Ada beberapa hal yang terjadi sebenarnya, tapi ngga lebih baik untuk ditulis kisahnya.

Mars, ku rasa kamu salah satu diantaranya, tapi aku memilih untuk melanjutkan paragraf yang sudah ku mulai dulu dengan mu waktu itu. Aku memilih untuk melanjutkan deretan kalimat tentang mu yang sudah ku mulai dengan baik masa itu. 

Kamu tau, deretan manusia yang sudah lewat menjadi pemeran pembantu di kisah ini justru sebenarnya bukan ada apa apanya. Karena cuma  kamu inti ceritanya. Kamu tokoh utamanya, mau sejahat atau seburuk apapun kamu. Kamu akan tetap jadi yang paling pertama.

Tapi sebelum itu, mari ku bagikan padamu. Hal yang belum pernah kau tau seperti apa bagian cerita itu awalnya jika seandainya kamu tidak ada. Cerita yang bermula dimana aku tidak pernah berhasil mengingat wajahnya.

Tenang Mars, ini masih soal kamu. Soal bagaimana awal mula cerita ini ku tuliskan untuk menggambarkan manusia seperti apa kamu. Soal pilihan paling mengecewakan dibalik semua paragraf yang pernah ku tulis. Karena dari awal, semua cerita itu hanya luka saja isinya.

Lalu sekarang, harus darimana aku memulainya?

Senin, sekitar akhir bulan juli 2018. 

“ndeh, upacara lak haa” 

Keluh kesah pagi hari yang pasti akan terdengar dari bibir bibir manusia malas sepertiku. Duh sebenarnya aku bukan pemalas, hanya saja sedikit tidak bersemangat untuk itu. Masalahnya, upacara pagi ini masih harus memakai seragam SMP yang sudah lusuh dan kusut itu warnanya.

Yang lebih tidak ku suka, guru piket yang bulu matanya tebal itu memaksa terus terusan aku untuk memakai dasi. Wah, masalah ini cukup serius bagiku. 3 tahun sekolah di madrasah Tsanawiyah tidak pernah sekalipun upacara pakai dasi.

Kerudung menutupi bagian dada, sehingga atribut itu tidak pernah diperiksa. Oi bahkan kerah bajuku saja tidak ada. 

“kamu sudah dua kali ya kena, lagi lagi tidak pakai dasi. MANA DASINYA?!”

“saya alumni Mts bu, ndak pakai dasi”

“harusnya kamu pakai seragam yang ada dasi nya”

Oi? Bukankah harusnya sekolah ini justru memberikan seragam lebih cepat agar siswanya bisa pakai dasi sesuai yang diperintahkan. Kalau aturan mainnya begitu, bukankah sekolah ini yang harus menjalankannya lebih dulu. 

Aku diam, karena guru itu membentak dengan suara cempreng, aku jadi diliatin banyak orang. Malu.

Pagi ku rusak. Sarapan ku tidak habis, potongan roti dengan keju slice di tangan ku buang begitu saja. Mendadak rasanya hambar. Ku catat baik baik wajah ibu ini.
Aku tidak suka padanya. Bahkan hanya karena sebuah dasi.

Ya, mungkin karena pagi itu aku memilih untuk mencatat wajah si guru berbulu mata tebal itu, aku jadi lupa mencatat wajahnya.

“nah, pakek la”

Dengan cengiran wajah yang entah apa maksudnya, dia menyodorkan dasi SMP nya yang sudah tercoret pena padaku. Bagai menahan tawa, belum sempat ku jawab dia sudah melenggang pergi.

Cepat sekali karena dia berlari. Tubuhnya hilang dibalik ramai gerbang utama. Dasi di tangannya tidak benar-benar ia pinjamkan kepadaku. 

Karena sebelum sempat aku meraih nya, dia sudah menarik kembali lalu membawanya pergi. Dia sedang bercanda padaku. 

Mars, harusnya kamu tau. Aku pernah berharap itu kamu.

Aku pernah melayangkan sebuah doa bahwa aku berharap orang itu kamu. Tapi, kayaknya aku lupa soal doa yang ku ucapkan sendiri.

Karena ternyata, ada harapan lain yang dengan sialnya, kamu jauh lebih tepat seperti jelma doa yang paling kuinginkan.

Pesan pertama darimu malam itu yang membalikkan cerita dimana semesta maunya memang aku suka sama kamu aja. 

Sejauh aku berusaha menuliskan semua cerita tentang mu, maka bagian dari dirinya tak pernah ku bagikan. Itu alasan mengapa pada bab pertama kisah ini  tidak pernah ku gambarkan orang itu. 

Tapi, tuan. Untuk kali ini, seenggaknya kamu tau. Kalau seharusnya, dan ku kira sebaiknya aku lebih  dulu memilih untuk mengenalnya.
Biar kamu ngerti, meski akhir dari sekian banyak bagian cerita kita, aku memilih untuk menuliskannya.

Bahkan setelah ku putuskan kalau saja kata “kita“ memang lebih baik ngga ada, aku ga pernah nyesal meski pernah begitu kecewa. 

Dan ketika aku tau, ternyata selama ini bukan karena aku tidak ingat wajahnya.
Melainkan karena memang itu skenarionya, aku bertemu dengan orang yang sama cuma aku saja yang tidak tau dia siapa. 

Bener bener ya, dunia sesempit itu.
 
Musim hujan,  desember 2020

“nah, pakek lah” 

Tangan kanannya memberiku sebuah payung warna hitam. Tangannya yang satu lagi nyangkut di kantong hoodie putih yang dia pakai. Hoodie oversize yang ia gunakan penutup kepalanya. 

“pakek la, serius” 

Dia melangkah kearah ku. Menyodorkan lebih dekat payungnya padaku. Aku memang sengaja ga bawa payung, karena ku kira hujan dua hari sudah cukup, jadi yang ku tau cuma bakal gerimis saja.
Tapi ternyata kurang dari lima belas menit aku masuk ke indomaret itu, eh hujan malah deras lagi. Bakal basah banget kalo aku nekat lari. 

“eh ndausa, gapapa” 

Aku geleng kepala. Gugup seketika. 
Orang itu, orang yang sama menemuiku di gedung bengkel motor waktu itu. Dia teman yang kamu bilang kamu tunggu waktu pulang sekolah dulu. 

“kali ini beneran” 

“hah?” 

Tebakan ku mungkin benar Mars. Dia manusia yang ngajak bercanda pagi pagi dengan pura-pura menawarkan dasi padaku dua tahun lalu. Selama ini sebenarnya aku gak perlu cari tau, karena ternyata orang itu adalah salah satu orang terdekat mu. 



Makin kesini, semesta makin keterlaluan becandanya

Komentar

Posting Komentar

hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!