terbang ke saturnus : semangkuk perasaan salah tempat
Hampir tengah malam. Saya dengar suara dia batuk beberapa kali. Serak dan terdengar sakit.
Iya, dia memang mengaku sedang tidak enak badan. Pulang rapat osis dan pramuka jam delapan, setelah isya baru sampai rumah. Diguyur hujan agak lebat plus dingin malam. Ditambah amarah dari ibunya.
Itu tidak menyenangkan.
Saya hanya bisa kesal.
Memendam sedikit rasa tak suka dihati.
“makanya agak lama. Maaf ya”
Dia berkata pelan.
Suaranya mungkin saja sudah lelah dari siang tadi. Ketua osis sefamous dia memang terlalu aktif di organisasi. Bicara sana sini.
Apalagi dia anggota utama untuk ekskul pramuka dan satu lagi, persatuan khusus kimia sekolahnya.
“kenapa bisa pake acara mampir dulu kalo udah tau bakal lama?”
Dia tidak menjawab.
Mungkin menimbang kalimat apa yang pas agar saya bisa percaya. Dia bilang, sebenarnya pulang sekolah jam enam sore. Tapi ada pertemuan tambahan, diadakan di kos teman perempuannya yang waktu itu.
Iya.
Di kos.
Tentu mereka nggak berdua.
Tapi bukan itu point utamanya.
Kulitnya gatal gatal sepulang dari sana. Matanya sayu. Bibirnya pucat. Wajahnya merah. Badannya sudah pasti lemas. Itulah hal besar yang jadi pusat masalah kenapa ibunya marah padanya.
Jadi, saat pertemuan tambahan itu diadakan. Mereka kompromi untuk membuat hidangan cepat saji agar perut mereka setidaknya sedikit terisi. Sekedar bikin cacing diperut diam.
Mereka pikir, makan makanan berkuah bakal sedap sekali, karena suasana dingin dan hari akan hujan. Mie instan rebus dengan segala topping dimasukkan. Ada sosis dan bakso baksoan, sawi dan kol jadi sayuran. Terakhir, teman perempuannya merekomendasikan menambah taburan udang.
Wah mantap sekali, kan?
Kemudian, runding dimulai sambil santap makanan. Apa yang ingin dibicarakan menjadi bahan rapat yang di musyawarahkan. Seperti itu hingga azan maghrib selesai. Oh bahkan orang yang sholat di masjid pun sudah akan pulang menuju rumah masing masing. Mereka juga selesai, mangkuk berkuah itu tandas.
Mereka pulang. Kendaraan dibawa pribadi, kecuali dia yang masih harus menggunakan angkutan umum kota. Empat puluh menit baru sampai di depan rumah. Seragam coklatnya lembab sedikit kena gerimis. Tidak ada jaket yang dia bawa. Maka pucuk kepalanya berembun basah.
“untung lu ga mati”
“ya ga bakal mati lah faa, orang cuma makan udang, mana bisa mati”
Dia membela. Bisa bisanya dia telan habis makanan itu tanpa ingat resikonya apa.
Dasar bodoh.
Tidak tau. Saya kesal sekali malam itu.
Dia bicara di ujung nafasnya. Selesai minum obat, efek sampingnya adalah mengantuk.
Jadi saya rasa, dia menahannya saat itu.
“gw menghargai masakan Aca, salah emang?”
“menghargai menghargai bacot, gabisa nolak apa, kan seharusnya dia tau lu gabisa makan begituan”
“dia tau tapi lupa kayaknya”
Lalu dengan santai dia tertawa.
“Fal, kalo dia naro racun terus dia lupa, lu mau makan dengan alasan menghargai masakan dia juga?”
Dia diam.
Cukup lama. Ada mungkin sekitar dua atau tiga menit.
“lu ga suka gw dekat sama Aca?”
Saya menjawab cepat.
“bodoamat, gw ga bahas Aca. Gw bahas lu yg bego makan makanan yg seharusnya lu ga makan. Bagus deh kalo emak lu ngomel ngomel, bagus. Baaguuuussss”
“oke lu ga suka kalo gw deket sama Aca, fix”
Tidak.
Saya tidak setuju kalimat itu. Ya saya tau, mau bagaimana pun dia dan teman perempuannya itu memang akan selalu bertemu. Satu kelas, satu organisasi, satu tim terbaik yang selalu dibawa sekolah.
Saya pikir, yang saya lakukan adalah hanya mengucapkan kalimat bahwa saya tidak suka dia selalu menerima apapun itu dari orang lain. Bahkan yang ga seharusnya diterima.
Itu kebiasaannya. Dia tidak bisa menolak tawaran orang lain. Itu yang sebenarnya sikap ngga bagus.
“gak woi, lu bego, gw bahas soal alergi bukan masalah lu deket sama Aca”
Setelah kalimat yang sebenarnya saya ucapkan agak sedikit kesal itu, telepon tidak lagi berfungsi baik. Dia bicara dan suaranya terhalang jaringan yang putus putus. Saya tidak dengar dengan jelas apa yang dia katakan pada saya
.
Setidaknya, adalah sekitar lima menit kemudian saya baru mendengar dia kembali bicara dengan lancar. Kalimat yang penuh dengan rasa yakin. Kalimat percaya diri yang seharusnya jangan diucapkan karena jawaban yang saya berikan takutnya lagi lagi mengecewakan.
Dia sudah hendak tidur, tapi bibirnya masih bergerak mengucap kata.
“gw rela deh makan udang gpp alergi yang penting lu peduli. Gpp kena marah mama, harus minum obat juga gpp, yang penting kayaknya lu udah mulai suka sama gw. Haha iyakan?”
Saya kira, hanya perempuan saja yang bisa dengan mudah menyimpulkan kasus kepedulian sebagai arti dari sebuah perasaan.
Ternyata engga, dia spesies laki-laki yang mengartikan kesal nya saya menjadi definisi peduli seolah saya benar sudah lepas dari orang yang saya kagumi sebelumnya.
Sulit rasanya, semesta terlalu jago bawa cerita. Sampai kadang, saya bingung apa gunanya saya didekatkan dengan orang seperti dia. Padahal saat ini bisa jadi hati saya masih terikat dengan orang yang ngga seharusnya.
Dia tau soal itu.
Sialnya, dia tidak peduli. Bahkan dia berusaha untuk menandingi.
Karena menurutnya, berdasarkan kisah yang saya bagikan padanya, seharusnya saya bisa dengan mudah lepas dari masalah perasaan yang lama.
Tapi ya mana bisa dipaksa begitu dengan mudahnya. Nama seseorang yang saya simpan itu masih begitu sulit untuk saya cari penggantinya.
“lu lupa? Atau lu emang bego? Gw dah bilang, hati gw dibawa lari sama orang. Gimana gw bisa suka sama lu, ge er nya mas mohon di kondisikan. Haha”
Sebuah tamparan keras, ketika kini saya sadar waktu itu semuanya sedang bekerja pada garis yang sudah ditulis semesta.
Penyesalan dan sebuah rasa ingin menarik kembali kalimat menyakitkan itu dari ingatannya.
Yang kemudian dengan santai dan yakin seperti yang dia punya. Jawaban kalimat itu kembali menukik.
Untuk yang kesekian kalinya saya bilang padanya bahwa hati dan pikiran saya sedang tidak bersamanya.
“dibawa lari kemana? Biar gw jemput”
“jauh. Ke planet Mars”
duh Falakk gak tau apa ya, udah cape2 dia bikin tu cewek move on, eh ternyata ujungnya balikan sama mantannya kan ajg wkwk
BalasHapussuka sama Mars banyak sakitnya, udah disini aja
BalasHapus