terbang ke saturnus : aku yang jahat

Kita seringkali mengganggu cerita orang lain pada kisah asik yang mereka buat sendiri. Kita sering lupa, kalau saja kehadiran kita di hidup mereka nggak selalu bawa kabar gembira. 

Waktu itu, saya bilang padanya
“Fal, gw berenti ya, gw gabisa jadi orang ketiga”

Yang saya lupa dari kalimat saya sendiri adalah ; saya memang akan selalu jadi orang ketiga di balik kisah hidup orang lain.

Saya hanya mengganggu.
Tidak untuk ditiru.

Nyatanya, di setiap sajak dan paragraf cerita semesta. Kita emang suka disuru buat sekedar ngasih luka. Ketika saya yakin saya  adalah orang ketiga dibalik cerita seru miliknya, saya ingat kalau saja justru saya sendiri juga sudah memaksa dia untuk jadi orang ketiga dibalik cerita versi saya. 

Dia yang dengan tegas bilang “gila, sejak kapan lu jadi orang ketiga?” 

“faa, dengerin gw. Lu gak pernah sekalipun bergeser dari peringkat pertama menurut gw” 

“lu selalu jadi yang pertama” 

“s e l a l u” 

Ada penekanan nada yang beda ketika kata itu disebutkan. 

Kata yang sebenarnya engga harus diucapkan ketika seseorang berusaha untuk meyakinkan sebuah hubungan yang sebenarnya dari awal sudah penuh dengan kebohongan dan keraguan. 

Karena kadang, rasa takut ada baiknya untuk selalu dibawa. Apalagi dalam menentukan pilihan. Setidaknya, malam itu. Saya tau, saya menemukan dia dalam ambang gelisah rasa takut. 

Ya, saya tau. Ketakutan nya mungkin saja bertambah satu ; kehilangan saya. 

Tapi, sayangnya. Kita ga pernah bisa maksa buat milih hal apa saja yang boleh bertahan lama dan hal apa saja yang boleh segera ditelan masa.
Cepat atau lambat. Kami akan sama sama kehilangan. Kapanpun waktunya, hal itu pasti terjadi. Ketakutan nya menjadi nyata bahkan lebih cepat dari yang pernah saya bayangkan.

Perpisahan yang ngga pernah pake kata pamit. Seolah pergi dari sebuah rumah singgah sebagai tempat sekedar berteduh. Lalu beranjak, demi melanjutkan perjalanan tanpa mengucap terimakasih.

Saya seperti seseorang yang langsung pergi berlari menuju pelangi, padahal dia sudah baik memayungi saya ketika hujan. 

Ya.

Saya meninggalkan nya.

Sendiri.

Meski dia sudah berulang kali bilang bahwa tidak akan ada yang pergi satupun diantara kami. Meski dia sudah berulang kali bilang bahwa tidak akan ada perpisahan apapun dalam skenario kisah ini. Dia salah. 

Dengan begitu tidak tau dirinya saya pergi tanpa pernah berbalik arah lagi. Padahal sejak awal, saya adalah orang yang sangat egois menahannya agar dia tidak pernah bisa kemana mana.

Saya meninggalkan nya dengan cerita menggantung di udara dan segenap pertanyaan yang cuma bisa muter muter dikepala. saya pergi tiba-tiba dan tanpa penjelasan apapun bahkan sekedar satu kata. 

Saya tau, saya berhasil melukainya.
Sebegitu jahatnya saya. 


Komentar

Posting Komentar

hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!