terbang ke saturnus : dia dan perasaannya

☹️

Pertemuan pertama sejak lomba yang membawa kami menjadi teman bertukar cerita.
Hampir setiap malam, pengantar tidur alasannya. 
Berjam jam lamanya. 
Sampai panas ponsel saya dan habis kuotanya. 

Dia memberikan kisah terbaiknya untuk dibagikan kepada saya. 
Pengalaman konyol dan lucunya mungkin sudah tidak ada habisnya. 
Saya tau semua. 

Dia ceria seperti yang orang lain tau biasanya. 
Dia pernah berjanji, bila nanti ada kesempatan bertatap muka. 

Maka akan ada dua mangkuk bakso di meja yang sama dengan teh botol sosro minumnya. Dia pernah bilang begitu. Ya, waktu itu. 
Berencana akan melahap martabak manis ekstra keju pilihan favorit saya. 
Berdua, pada kursi kosong tengah kota.
 
Ya, dia orang yang ceria. Yang hanya membagikan kebahagiaan pada yang lainnya. 
Tapi, saya pernah mendengar ia menangis malam itu karena cerita saya. Tangisan yang tidak seperti sedang baik-baik saja. 

Ya, dua kali saya mendengarnya. 
Dua kali yang sangat langka. Dimana seorang lelaki akan menangis pada seorang perempuan seperti saya? 

Dimana ada? 

Malam itu, saya tau. 

Dia bukan manusia sekuat yang saya duga. Saya tau, dia tidak sebahagia yang saya kira. 
Dia rapuh, cukup rapuh untuk seorang pendengar yang baik bahkan sekaligus pembicara yang baik. 

Setiap kali saya memberinya kabar, akan saya temui balasan berikutnya pada detik yang tak lama. 

Dia sangat tidak ingin saya menunggu dan kecewa. 
Yang dia mau, saya mendapatkan apa yang saya minta. Maka, pada waktu sholat dan jeda di sujudnya. Dia menyebut nama saya diantara doanya. Diselipkan di sisa waktu tidurnya. 
Dia memohon pada Tuhan untuk kebaikan saya. 

Dia juga mengatur notifikasi berbeda hanya untuk semua akun sosial media saya. 
Selalu ada di 24/7 waktu saya. 
Dia begitu ada, benar-benar tidak pernah saya kira sebelumnya. 

Sampai pada waktu, saya tau yang seharusnya. 
Jika terus dilanjutkan, mungkin kami akan sama terluka. 

Saya tidak tau perasaannya, tapi yang jelas, yang saya lakukan adalah meninggalkan dia dan semua yang saya tau tentangnya. 
Dan berusaha tidak jatuh pada semua kisah soal dia. 

Saya takut, cukup takut untuk itu. 
Dan saya, memutuskan berhenti menghubunginya. Meski saya tidak pernah tau yang sebenarnya. 

Akhirnya, kami berhenti. Tanpa, penjelasan apapun lagi. Begitu tiba-tiba karena saya blokir semua sosial medianya. 

Menyesalkah saya telah meninggalkan dia tanpa bertanya? 

Ya, saya menyesal karena tidak bertanya bagaimana perasaannya pada saya masa itu. Cukup menyesal sudah mengartikan perhatiannya begitu berlebihan. 
Saya takut dia menganggap dirinya sebagai seseorang yang lebih di hidup saya. Padahal tidak begitu keadaannya. 

Padahal, saat itu saya sedang menceritakan kisah saya dengan orang lain padanya. Dan dia, benar hanya teman biasa bagi saya. 
Jadi, saat ini, ketika kami hidup tanpa saling mengenal lagi. 

Saya hanya ingin satu hal. 
Dia baik. Bahkan sangat baik. Dia sedang berusaha untuk jadi yang lebih baik.
Maka dari itu, saya mendoakan nya. 

Ya, semoga dia bahagia. 




☹️



Komentar

Posting Komentar

hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!