d e l a p a n b e l a s

(BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS!) 


Yang ku pikir sore itu aku benar sudah berjalan sendirian dengan tangan memegang handphone di telinga, suara temanku masih menjelaskan kenapa aku salah dalam cerita ini, tapi juga tidak lupa bilang bahwa Mars juga seorang yang salah.
Dan kemudian suara itu mati. Menghilang ditelan koneksi. Ada laki-laki yang berdiri dengan tegap di belakang ku. Berbicara dengan nada datar. Sedatar datarnya. Ya ampun, bahkan ekspresi nya seram sekali. Ya meskipun masih ada tersisa kelembutan dari wajah dan suaranya tadi.

“Faa, kamu suka sama akan komputer ya?”

“eh?!”

Ponsel yang daritadi masih terdengar suara laki-laki menjelaskan sesuatu kini mati tiba-tiba. Menyisakan suara tuutt-tuttt-tuttt bergantian. Mati karena jaringan.

Aku menoleh ke belakang.

Tuhan, kaki ku lemas. Ingin rasanya terduduk di tempat. Serasa tidak punya lutut. Tulang ku hilang dan pergi begitu saja.

Dia disana Mars, teman sekelas mu. Seperombongan mu. Sepermainan mu. Se-se dan semanalah pokoknya. Dia—sangat akrab dengan mu. Mars, aku panik. Sangat. Dan, dia berjalan pelan. Mendekat.

Tersenyum ramah. Sisa sisa kedataran nada suara dan wajah seramnya hilang di hembus angin. Dia berdiri di depan ku, dengan jarak kurang dari satu setengah meter. Aku bisa mencium aroma sisa parfum nya hari ini. Lebih wangi darimu. Lebih menenangkan. Dan, apaya, rasanya aku ingin bertanya jenis aroma apa yang ia pakai sebagai pengharum tubuhnya.

“kalian sudah dekat ya?”

“....”

“secepat itu? oh, oke”

“....”

“mau ku antar pulang?”

“....”

Aku masih pucat. Muka ku pias. Sontak dengan nggak sengaja aku menggeleng pelan. Mau diletak dimana lagi muka ku, hubungan dengan Mars yang nggak jelas saja sudah jadi gosip anak kelas. Apalagi tiba-tiba nanti aku pulang dengan teman mu, bisa bisa mati bisu aku besok hari. Mars, kenapa teman mu sama anehnya denganmu? Eh atau kalian semua memang aneh? Kan wajar sekelas. Ah entahlah. Mungkin, ya—hanya kebetulan saja.

“tidak mau ya, hm oke. Hati hati ya. Langsung pulang, jangan kemana-mana”

“....”

“oiya Faa, makasih ya, maaf mengagetkan, dan emm...”

“apa?”

“tidak jadi, lain kali saja”

Dia. Berbalik arah. Sempat tersenyum sedikit. Mengangguk pelan. Dan, ya lelaki itu beralih. Meninggalkan ku. Hanya begitu ya? Wajahnya tidak begitu ku hapal, tapi aku cukup kenal.
Aku mempercepat langkah. Aku mau cepat sampai saja dirumah. Sebelum dengan bodohnya aku sadar tidak bertanya siapa namanya. Atau paling tidak melihat name tag seragamnya.
Ah, sudah. Pulang dulu. Hari ini tidak ada yang menyenangkan.

Ya maksudnya, sesaat setelah aku menerima notifikasi darimu. Semua berubah, ya kan kamu harus ku buat sebagai pengecualian untuk beberapa hal dalam hidup ku.

“sudah pulang kah?”

“iya sudah, kamu?”

“masih didepan, nunggu kawan”

Aku diam. Beberapa menit mengingat kejadian tadi. Aduh ini gimana ceritanya? Apa kamu menunggu teman mu yang ku temui tadi, Mars? Hah, apa iya? Siapa namanya? Kenapa aneh? Dia sebenarnya ingin bicara apa tadi?

“nanti kalau sudah sampai rumah, bilang ya”

Belasan menit yang tidak ku tunggu berlalu. Jendela layar ku memunculkan nomor mu.

“sudah pulang, Faa. Hujan”

“basah?”

“hujannya basah, kan air”

“kamunya?” 

“ngga”

“hm”

“mau bicara”

“boleh, skuy”

Dan suaramu ku terima di ujung sore ku. Suaramu menjadi denyut frekuensi yang ku nikmati di akhir matahari terbenam. Langit gelap entah karena mendung atau memang sudah ingin malam. Temaram cahayanya malu malu ingin keluar. Sebenarnya aku kurang suka jingga di langit sore, tapi ya mungkin kali ini beda alasannya.

“tidak melihat mu hari ini, kata temanmu memang tidak ke kantin, kenapa?”

“dikelas seharian”

“kenapa? Diet? Puasa? Lagi irit?”

“ngga”

“kenapa?”

“ada kabar ngga enak dari anak kelas, takutnya malah nyebar ke jurusan lain. Malu mau keluar”

“kabar apa? Soal apa?”

“kamu ngga tau?”

“tidak”

“berarti kamu bukan lagi Mars serba tau, sok tau, yang beneran tau”

“eh, bukan gitu”

“lah terus?”

“yauda nanti aku cari tau, jangan kaget kalo aku udah tau”

“tapi aku lebih suka kamu ngga tau sih”

“eh kenapa?”

“gapapa”

“yauda aku jadi gak tau aja. Biar kamu suka”

“aku udah suka”

“bagus, aku berhasil”

“tapi aku tidak mau... ”

“kenapa?”

Aku menimang ucapan yang akan aku keluarkan. Menerka, apa respon mu setelahnya. Tapi, ya daripada aku lelah menebak. Dan memang tidak jago menebak. Apalagi tebakan ku sering salah. Lebih baik aku katakan saja. Biar ku dengar langsung jawabannya.

Jawaban dari manusia aneh yang belum bisa ku baca otak dan pikirannya.

“teman ku bilang, nggak sebaiknya kita kayak gini”

“teman mu jahat”

“kamu lebih jahat”

“Faa, maksudku...”

“Nggak Mars, maksudmu memang sudah beda dari awal. Aku merasakannya. Maksudmu udah ngga seperti yang seharusnya. Lebih baik hilangkan saja”

“Faa....”

“selesaikan urusan mu dengan kakak itu, selesaikan apa yang belum berakhir diantara kalian. Sudahi semua apa yang sudah kamu mulai sebelumnya”

“....”

“pergilah, tapi jika ingin kembali, maka aku menerima mu. Aku tidak memaksa Mars, itu pilihan mu. Aku hanya tidak ingin terlalu jauh. Cukup disini. Dan beri aku jawaban pasti”

“tapi Faa, aku tidak bisa memilih”

“sekarang, atau kamu mau aku menunggu?”
 
“tidak begitu, aku hanya ingin kita... Tanpa...”

“iya, Mars. Aku tau maksud mu. Kamu tidak akan meninggalkannya hanya demi aku kan? Iya aku tau. Pilihan mu hanya akan tetap dia. Kakak itu sempurna kok, kamu berhak mendapatkannya”

“....”

“aku mengerti”

“....”

“kamu tau, selesai diantara kita lebih baik. Daripada melanjutkan semuanya dengan ilegal. Sakit hati bukan perkara mudah disembuhkan, Mars”

“...”

“apa aku hanya pelarian? Aku tau, aku juga perempuan, jadi sedikit banyak aku mengerti perasaan pacar mu. Apalagi kalau nanti sampai dia tau. Aku tidak ingin mencari masalah. Kamu yang selesaikan. Pilih”





Kamu tidak menjawab apapun. Suaramu tidak lagi ku dengar. Ini pilihan berat. Tapi aku tidak tau harus apa selain ini. Sore hampir menyentuh 
seluruhnya. Senja diujung sana tau. Ada hati yang sedang engga baik baik saja sekarang.
Kan benar.

Ketika senja pergi, tidak akan terjadi apa-apa setelahnya.

Tapi, jika sudah kamu yang pergi. Maka akan ada hati yang terluka setelahnya.

Komentar

Posting Komentar

hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!