s e p u l u h

”kenapa ilang, Faa?” 

“siapa yang ilang?” 

”kamu..” 

“nggak” 

“iyaa” 

“nggak Mars” 

”iya Faa, kamu mana ngerasain. Kan aku yg nyariin” 

“beneran ngerasa kehilangan?” 

“kalo nggak beneran kehilangan kan, gak bakalan beneran nyariin Faa, kamu gimanasih” 

“....” 

“kapan pulangnya?” 

“tadi malam sampe” 

“aku nanya kapan kamu pulang, bukan kapan kamu sampe” 

“ya semalam pulangnya” 

”pulang kesini lagi Faa, aku rindu” 

“Mars...” 

“iya, cepetan pulang” 

“tapi, disini tempatnya aku pulang” 

“rumah ga selalu jadi alasan tempat untuk pulang” 

“iya tapi...” 

“ada yang nungguin kamu disini. Yakin mau lama-lama?” 

Mars. Aku gak tau apa yang ada dipikiran mu malam itu. Yang jelas setiap kata yang ku dapat adalah kalimat yang dengan mulusnya bikin jantungku tiung tiung. Kamu kenapa? Semakin lama aku mengenal mu, bukan semakin tau aku tentang mu. Malah bingung, tipe manusia seperti apa sih kamu ini? Apa kamu memang seaneh namamu? MARS? 

Aku harus bagaimana kalau sudah begini. Rasanya melepaskan diri dari apa yang terjadi sejauh ini bukan perihal mudah. Akan ada yang sakit lebih dulu. Karena pada akhirnya, yang meminta untuk pergi biasanya adalah orang yang paling merasa terluka. Tapi, ya mau bagaimana? Apa harus kisah diam-diam ini dilanjutkan? Sepertinya dengan ataupun tanpa sengaja kamu sudah mengajari ku untuk menjadi jahat. Salahnya, aku tidak bisa lepas pada hal mengagumkan seperti mu. 
Hingga, aku nyaman pada rasa nyaman milik orang lain 

“Faa...” 

“iya, kenapa?” 

“apa di tempat mu masih ada langit?” 

“aku masih di bumi, jadi tentu saja masih ada. Pertanyaan mu kok aneh sih” 

“coba lihat sekarang” 

“udah. kenapa?” 

“nanya kenapa mulu” 

“iya terus?” 

“udah diliat langit nya?” 

“udah, daritadi” 

“enak banget langit nya kamu liatin gitu,jadi pengen” 

“pengen jadi langit?” 

“pengen kamu liatin”

“terus ini ngapain kamu nyuruh aku liatin langit?” 

“karena di langit yang kamu tatap. Ada rindu yang aku titip” 

Mars. Gak perlu jadi langit supaya aku liatin. Jadi dirimu sendiri aja. Aku juga udah suka liatnya. Jadi dirimu sendiri aja. Karena aku sukanya kamu yang kamu, bukan yang lain. 

”cielah sosoan puitis, belajar dimana?” 

“dimana aja” 

“ajarin juga” 

“gausa. Gak perlu” 

“kenapa?” 

“karna kamu udah cukup bikin aku senang” 

”ga ada hubungannya Mars” 

”ada” 

“apa?” 

“aku mau bikin kamu senang”

”mengenalmu, sudah lebih dari senang”

“belum. Belum cukup”

”.... ”

“nanti ya Faa, tunggu aku menjadi satu-satunya orang yang tau cara menyenangkan mu”

”itu janji?”

”enggak”

”berarti aku boleh memilih untuk tidak menunggu mu, kan?”

Dan memang sudah begitu, nggak semua pertanyaan punya jawabannya masing-masing. Kadang, kita harus siap di hadapkan pada kenyataan kalau saja pertanyaan soal kepastian seperti itu lebih baik dijawab tidak tau. 

Komentar

Posting Komentar

hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!