l i m a
Mungkin saja, jika ku putuskan malam itu untuk tidak pernah menjawab pesan mu, kita tidak akan pernah secanggung ini saat berjumpa. Hm lebih tepatnya saling lirik saja. Meskipun aku masih menyimpan banyak keraguan soal kamu nyata atau tidak. Bagaimana aku bisa percaya bahwa manusia aneh sepertimu itu benar-benar nyata, jika semua yang kamu lakukan selalu saja berhasil mengagetkan. Semua ulah mu, apa saja yang kamu perbuat pasti akan berujung dengan kalimat “Mars.. Kamu beneran?”
Aku masih tidak bisa percaya, tuan.
Bahkan sekeras apapun kamu berusaha untuk meyakinkan. Kejutan kejutan yang sudah kau susun rapi, terlalu mulus masuk di imajinasi ku yang sudah kacau balau memikirkan tentang mu. Bisa-bisanya empat hari setelah pensi itu, kamu menunjukkan wajahmu. Tersenyum.
Boleh ku katakan kamu seorang penjahat sekarang?
Mencuri semua isi kepala ku. Membawanya lari ke suatu tempat tanpa memberi tau dimana kau letakkan semua rencana gila mu. Memperkenalkan diri sebagai Mars yang pendiam. Berlagak seperti Mars yang pemalu. Bersikap seperti Mars yang polos. Bahkan bergaya seolah Mars sang manusia paling tenang.
Tuan, tidak tau kah kau ada ginjal yang bergejolak disini?
Duduk mu sore itu hanya berselisih satu tubuh manusia besar di sisi kiri ku. Pembina ekskul drama sekolah sedang memberi wejangan. Aih, tapi kenapa semua perhatian ku tertuju padamu.
Harusnya aku ingat, kamu adalah orang baru yang masuk ekskul setelah pensi kamis hari itu yang berhasil membuat pecah gelak tawa satu sekolah. Pensi tidak masuk akal. Tapi kamu jauh lebih tidak masuk akal.
“iya, itu aku”
Notifikasi darimu lagi lagi menjadi jadwal harian. Serasa ada yang kurang saja kalau kamu tidak ada. Seperti ada kepingan kecil yang tertinggal, tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus ada kamu sebagai pengisinya. Tuh kan, aku sudah menaruh harapan di waktu secepat itu. Padahal aku tau, masih ada hati yang sedang kau jaga dengan baik. Salah siapa sekarang?
“untuk pertama kalinya, aku melihat wajahmu secara nyata”
“tidak, Faa. Itu yang kesekian kalinya”
“sejak kapan?”
“sejak lama. Lama sekali”
Aku tidak pernah merasa melihat mu, tuan.
Sedang pikiran ku saja masih mengira kamu bukan manusia nyata. Bagaimana bisa aku percaya melihat mu bahkan dengan mata kepala ku sendiri. Jika kamu bertanya soal apa yang aku pikirkan sekarang. Maka jawabannya adalah, soal kepala ku yang terus berusaha membaca tipe manusia apa kamu ini. Sejak ku terima notifikasi pertama malam itu, tak satupun jawaban darimu yang berhasil ku tebak.
“iya?”
“Bahkan setiap hari, Faa”
Aakkk gak tahan, akhirnya part Mars di Up lagi huhhuu:' miss bgt sm manusia iniii
BalasHapusplis full eps nya dong kaaa, duh rindu bgt sama Faa si sadgirl wkwk
BalasHapusah kalian gk bakal tau sbrp greget waktu faa ktemu sm dafdann woiii panas pokoknya hwaha...
BalasHapusyg di toko buku itukan :') hikds plz ku kira dia tokoh utamanya anjim, asksksk :'))
Hapus