what we were : bagian dua

barangkali, pembicaraan kita pada malam-malam sebelumnya adalah hal yang tidak kamu suka. kalimat ku berlebihan. semua sajak puisi yang ku bacakan terdengar membosankan. bahkan topik soal buku yang baru saja ku selesaikan membuatmu pusing berantakan.

apa aku benar mengganggumu, tuan?

sebab respon mu memberiku jalan, bahwa kamu menerima semua cerita ku.

tapi apa yang mengubahmu pagi itu?



barangkali, pembicaraan kita pada malam-malam sebelumnya adalah hal yang tidak kamu suka. kalimat ku memuakkan. semua sajak puisi yang ku coba tuliskan tidak berhasil mengesankan. bahkan kisah al-chemist dan fatima tidak berhasil menggetarkan perasaan.


apa aku benar mengganggumu, tuan?

sebab respon mu memberiku kesempatan, seolah malam itu, senyuman mu memang membalas perasaan.

tapi apa yang mengubahmu pagi itu?



ada banyak pertanyaan dikepala ku ketika aku membuka pesan panjang mu.
tidak ku temukan salah ku, sebab kamu hanya menyebut permintaan maaf dan beralih dariku.

apa yang perlu ku perbaiki, tuan?

jika salah ku kau diamkan, lalu aku harus seperti apa agar semua bisa kau benarkan?
balasan ku hanya kau baca, lalu perasaanku kau buang begitu saja?



. . .


ekpektasiku barangkali sudah terlalu jauh.
kamu tidak menginginkan ku meski aku memohon dengan sebegitu.


Komentar