tanabata : ku perkenalkan padamu.
Dahulu, Orihime adalah seorang penenun bintang yang rajin. Ayahnya, Raja Langit, memperkenalkannya pada Hikoboshi, seorang penggembala bintang. Mereka jatuh cinta dan menikah, tapi setelah itu, mereka jadi terlalu sibuk mencintai dan melupakan tugas mereka.
Karena itu, Raja Langit memisahkan mereka, menempatkan mereka di sisi yang berbeda dari sungai langit (yang diibaratkan sebagai Galaksi Bima Sakti).
Namun, karena kasihan, Raja Langit mengizinkan mereka bertemu sekali dalam setahun, yaitu pada tanggal 7 bulan 7 — inilah yang jadi hari perayaan Tanabata.
Di Jepang, saat Tanabata, orang-orang menulis harapan mereka di kertas warna-warni dan menggantungnya di bambu — seperti doa-doa yang ingin dikabulkan, sama seperti harapan dua kekasih yang ingin bertemu.
sebab manusia selalu ingkar janji, tentang semua frasa yang disebut dengan sengaja.
ini bukan cerita romansa anak SMA yang penuh suka cita. ini hanya sekelebat kisah tak kasat mata yang membebani manusia hopeless romantic sepertiku. pada beberapa titik melelahkan ketika bumi ini berputar pada porosnya. entah mulai kapan aku tidak menyukainya. aku lupa detailnya. yang jelas, sudah lama sekali. bahkan sebelum orang lain memperkenalkannya sebagai manusia baik yang luar biasa.
aih, andai kau tau. namanya adalah temu dari sebuah perkenalan yang tidak pernah ku nantikan. tidak pernah suka, bahkan sejak awal aku tau siapa namanya. sore itu, di ujung senja yang oranye dengan semua kisah cantik dibaliknya, ada sebuah pertemuan lama. dia duduk dengan kemeja lengan pendek motif pohon kelapa pinggir pantai. menyibak rambut keriting yang menyentuh dahinya.
"faa? betul"
aku mengangguk. manusia yang ku kira pelaku kriminal ini, ternyata terlihat jauh lebih baik jika ditatap dengan jarak dekat.
"aku Raga"
sudah kenal, aku sudah kenal. namamu ramai sekali sejak dulu.
ku jabat tangan besar itu. mengayun pelan, sebentar. lalu ku lepas.
dia adalah salah satu manusia yang cukup terkenal. tebak saja berapa banyak pengagumnya. melelahkan. aku tidak pernah suka dengan style dan imagenya yang terlalu dibesar-besarkan itu. berlebihan. tidak sesuai branding yang ada di akun official. seperti membohongi publik.
"aku banyak tau kamu dari Danu, kamu keren sekali"
sebanyak apa? tidak usah terlalu percaya diri.
"kapan kapan, ayo ikut aku forum"
ah tidak dulu.
aku benci manusia sok akrab. menjalin hubungan seperti semua orang suka padanya. menyebalkan.
"boleh, kabari saja kak. tapi jangan tiba-tiba, ya. tidak suka"
"baik"
dia tersenyum. bibirnya menungging besar sekali.
sore yang singkat itu, tidak berakhir secara sederhana dimana pertemuan lama yang katanya hanya reuni dan perkenalan diri. laki-laki itu tidak langsung mengemasi barangnya, ia menggeser kursinya lebih dekat dengan meja. oh Tuhan, sebenarnya aku tidak suka mengingat namanya.
"kamu canggung sekali ya"
eh?
"panggil namaku saja, Raga. kalau memang tidak akrab dengan sapaan mas dan mbak"
"iya"
ku jawab singkat. manusia itu tersenyum simpul.
kenapa dia hobi tersenyum? menjijikan.
"kamu tidak pulang?"
kok tau?
aku sudah berdiri dengan beberapa buku di tanganku. leptop ku tutup dan beranjak pergi. tapi dia tau aku tidak berniat pulang. mungkin dia sadar, aku mengemasi barangku secara asal, bukan memasukkannya kembali ke dalam tas.
"pindah kemana?"
betul. aku ingin pindah. jauh jauh dari manusia sepertimu.
"mau cari colokan, kak. leptopnya low"
aku meninggalkan meja itu. beralih pada posisi yang membelakanginya. aku duduk di meja paling kanan dekat jendela. ada colokan dan tidak banyak manusia lalu lalang disana. menyenangkan. aku sibuk dengan leptopku, hingga satu waktu. laki-laki bernama Raga itu mendatangiku. americano gelas kedua sudah ditangannya.
"kamu pulang jam berapa?"
kenapa?
"belum tau, kenapa kak?"
"baik. jangan kemalaman"
tau. tidak perlu sok peduli.
"aku duluan, ya"
aku mengangguk. punggungnya sudah hilang dibalik pintu. manusia itu pergi.
aku tidak suka membenci orang lain. bahkan ketika mereka berbuat tidak nyaman padaku, aku memilih untuk tidak peduli. karena bagiku, membenci juga bentuk dari kepedulian, hanya perbedaan dalam penyebutan.
ku beritahu padamu, mengapa aku begitu tidak menyukainya. ku ceritakan padamu, mengapa aku begitu membencinya. entah itu kebetulan atau apapun itu kau menyebutnya, aku membencinya.
ya. akan ku ceritakan padamu satu-persatu. bagaimana bisa aku membencinya sebegitu.
-
waktu itu. masa pengenalan mahasiswa baru.
aku datang dengan gupuh. rok hitam ku kebesaran. kemeja putih ku juga, sudah tidak lagi rapi. sepatu pantofel ku yang juga tidak kalah jumbonya itu membuatku susah berjalan. berbunyi pletak pletuk menyentuh lantai. aku berjalan peyot-peyot sesekali membenarkan posisi kaki agar tidak tersandung.
sebuah drama pagi hari yang merusak mood ku.
kau bayangkan sendiri.
mereka sedang tidak akur. pikir ku. tapi tidak perlu menunjukkan itu semua disini, kan?
"kamu maunya apa?"
kata laki-laki itu membujuk.
"terserah"
oh mungkin semua manusia di muka bumi ini bisa segera di black list saja jika mengucapkan kata terserah. itu adalah frasa putus asa. jahat sekali kedengarannya.
perempuan itu berjalan cepat. menyenggol ku dengan keras. gedebrakkk!!!
pantat ku tersentak keras dilantai keramik. jelas itu sakit.
dia tidak menolong ku. mereka berdua tidak menolong ku. oh bahkan mengucap maaf pun tidak.
dasar tidak punya hati.
Komentar
Posting Komentar
hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!