terbang ke saturnus : empty space.


 (bagian terakhir yang dipublikasikan)

 

 

kau bisa saja kembali ke masa lalu dan memohon kepadanya untuk tidak pergi, tetapi kenyataan tidak akan berubah.
- funiculi funicula hal 16.


.


Bulan mei sudah hampir menyentuh seluruh bagiannya.
Ada beberapa agenda penting yang harus ku tuntaskan di ibukota. Sebenarnya urusan seperti ini sudah lewat waktu tanggung jawabnya. Cuma aku terlalu kebanyakan menunda. Jadilah sekarang waktunya.

Kereta cepat bawah tanah kamis sore menjadi awal dari pertemuan yang lagi-lagi terjadi dengan sangat tidak sengaja. Aku berdiri di sisi kanan gerbong kereta dengan harapan tidak ada satu makhluk bumi pun yang akan mengusikku. Hiruk-pikuk dan macetnya Jakarta ku cicipi sedikit hari ini. Wah, energi sosial ku sudah habis tidak tersisa. Benar-benar berat menjadi manusia serba bisa dan ramah pada semua. Aku mencobanya hari ini. Dan aku menyerah.

"faa?”

entah datang darimana, seorang lelaki menyentuh bahuku. wajahnya tersenyum, dia terlihat senang. wajah yang hampir aku lupa siapa namanya.

"wah wah, kebetulan macam apa ini”

dia tertawa di ujung kalimatnya.

"Ku kira salah orang"

Satu-satunya keramaian yang ku suka adalah, ketika tidak seorangpun mengenal ku. Tapi kali ini, tidak apa. ku maafkan kesalahan semesta yang memberi kesempatan tidak sengaja sebaik ini.

"sendiri? turun dimana?"

        time flies so fast.
        its been four years.
        since 2019.


Empat tahun lalu.
terakhir kali aku bertemu dengannya, adalah pertama kalinya kami saling melihat dengan tidak sengaja.
yep, semesta memang hobi bercanda.

"nggak, nanti ada yang jemput. aku turun di Cipete"

"baguslah, ku kira sendiri"

dia merapikan tas sandangnya yang sedikit miring. Terlihat cukup berisi,jadi ku kira itu mungkin saja sedikit berat.

"sudah lama di Jakarta?"
"em, baru sekitar seminggu yang lalu. baru coba naik MRT. wish list sebenernya"

Dia hanya mengangguk, menimbang sesuatu yang ingin diucapkan. dia menatap ku pelan.

"kenapa tidak berkabar sejak awal? supaya bisa membantu sedikit"
"tidak perlulah, nanti ngerepotin"
"Its okey faa, gapapa ngerepotin sesekali"

Awalnya ku kira perjalanan hari ini akan berakhir dengan aku yang hanya berdiam diri, ternyata malah dipertemukan lagi dengan manusia ini.
Aku memberanikan diri untuk memulai topik. Setidaknya,aku juga harus sedikit bertanya.

"Ini balik kampus atau..."
"Iya, balik kampus"
"aaa bener"

Aku ingin bertanya padanya soal seseorang. Ya, seseorang yang pertemuan tidak sengaja nya lebih aku harapkan. Seseorang yang mungkin saja sedang berada di kereta yang sama namun gerbong yang berbeda. Seseorang yang justru empat tahun lalu menjadi titik berat ketidak sengajaan semesta memberikan pertemuan pertama dan terakhir kali itu.

"em, kabar yang lain gimana?"
"halah, sok sok nanyain yang lain padahal niatnya cuma pengen tau yang satu itu kan? haha"

dia tertawa sedikit. aku malu. Jadi hanya diam saja, yang dia katakan benar adanya. Ya, semesta membuat aku tidak sengaja bertemu dengan lelaki teman baik si manusia itu.
Oji namanya. Teman satu sekolahnya dulu.
 
"insya Allah baik faa, dia bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya"

Entah apa makna dari kalimat itu, yang jelas aku tidak berharap kalimat itu benar berarti dia baik sejauh dimana kami terasingkan selama ini.

"oh ya? titipkan salam ku, untuk yang lain juga ya"
"pasti"

Stasiun berikutnya adalah tempat pemberhentian ku. Aku harus turun di sana, sebab sudah buat janji dan harus bersedia dijemput tepat pada waktunya.

"mau ku telfonkan dia sebentar?"
"untuk apa, tidak perlu"
"biar seru loh, yaa..."

Dia mengeluarkan ponselnya. Mencari nama sebuah kontak telepon di aplikasi watsap nya. Mengetik beberapa huruf. Lalu...

ttuutt...ttuutt...
berdering.
tapi tidak diangkat.

Beberapa waktu berikutnya sebuah pesan singkat dari nomor yang sama masuk.

"lg kerja, knp?"

Tidak perlu dilanjutkan. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan mengapa ia tidak mengangkat telponnya.

"sudah dibilang tidak perlu"
"ini karena dia tidak tau kalau kamu di jakarta, kita coba lagi ya, aku akan bilang kamu di sini. Pasti langsung diangkat. Sebab dia tidak akan percaya"

"Tidak perlu. Kamu mengganggunya. dia sedang sibuk."

"dia selalu sibuk, kalau tidak diganggu sedikit nan-..."
"Biarin aja"

ttutt...ttuttt...
Teleponnya berdering lagi.
Tapi jangan berharap untuk diangkat. tidak akan.

"Sudah. Dia lagi sibuk loh, jangan di ganggu"
"Haha iya deh iya"

Beberapa menit ke depan, kami tidak bicara. Karena beberapa penumpang mulai mendekat dan posisinya sudah sedikit lebih sempit dari sebelumnya.

Aku berharap semesta memberikan kesempatan untuk tidak sengaja ku berikutnya adalah bertemu dengannya. Bahkan untuk sekedar tukar pandang tanpa kata saja aku ikhlas. Aku terbang melintas pulau sejauh ini, tidak lengkap rasanya jika belum melihat wajah manusia itu. Salah satu tujuan aku di sini juga sebenarnya ingin melihatnya bahkan untuk sekali saja.

Memang tidak bisa banyak berharap pada hal yang sulit seperti itu, tapi barangkali semesta ingin berubah pikiran.
Maka aku benar-benar menunggunya di sisa menit menit terakhir sebelum aku turun dari gerbong ini.

Tapi, ya kalian sudah tahu bahwa semesta tidak suka mengabulkan doa yang tiba-tiba, kan? Maka harapan kecil itu hanya angan dan doa tak berharga yang kini terbang di langit langit gerbong. Berhimpitan dengan harapan manusia lainnya yang bahkan mungkin punya mereka jauh lebih berharga.

Gerbong dengan puluhan orang yang masing-masing punya doa dan harapan jauh lebih serius ketimbang sekedar bertemu seseorang sepertiku, jelas punyaku akan disingkirkan, sebab hal yang kadang dirasa tidak perlu justru sering kali menusuk lebih pilu.
Tidak apa. Mungkin bisa lain kali. Tidak hari ini.

Dan, sebelum turun.
Aku menoleh pada Oji sebenar.

"kalau dia tidak percaya, tolong bilang sama dia, sekarang aku mulai suka baca novel yang author nya orang Jepang"

Dia tersenyum. Mengangguk lalu memberiku jempol kanannya.

"bye toodles"

Dia tertawa. Dan belum berhenti sampai pintu gerbong tertutup kembali.

Aku melihat kanan kiri berharap jemputan ku sudah menunggu. Dan ya, orang itu sudah siap sedia bahkan mungkin dari setengah jam yang lalu.
Beberapa barang di tangan kirinya. Termasuk paper bag Gramedia. Dan seporsi rujak tanpa kuah kacangnya.
Dia melambai.
Aku tersenyum.

"lama ya?"
"Enggak"

Sepatu sneaker putihnya berjalan di sisiku. Tanda bahwa kini, aku tidak lagi sendiri. Berjalan melangkah beriringan. Sebab ternyata, menerima hal baru tidak seburuk itu. Langkah kecil yang dulu selalu ku harap untuk bisa mengejar jarak mu yang jauh didepan sana, kini hanya bergerak pelan karena sekarang, aku hanya perlu melangkah perlahan dan mulai menghargai tiap hal yang berusaha untuk menemani ku agar tidak ada lagi kesendirian setelah ini.

Aku tidak lagi mencari dan mengejar langkah seseorang yang bisa menyamakannya dengan langkahku. Aku hanya perlu terus berjalan perlahan, hingga sepatu lain memilih untuk berjalan berpasangan, berdampingan, dan beriringan yang bersedia menemani sepatu milikku.

Sepatu lusuh yang mungkin punya luka dan tak gampang dimengerti sebab bahasa tidak selalu mendefinisikan sebuah cerita dan rasa. Sepatu lusuh yang selalu berusaha terlihat baik agar bisa diterima oleh pasangan sepatu lainnya.

Ya, mungkin jadinya seperti itu.
Bukan lagi seperti saturnus yang punya cincin setia si paling selalu ada dan tidak pernah kemana-mana.
Tapi seperti sepasang sepatu, kanan dan kiri agar saling bisa mengisi, meski mereka berbeda sudut pandang, tapi orang orang akan selalu melihatnya sebagai sepasang.


Tuan, setelah sekian tahun.
Aku berhenti mengagumi planet Saturnus mu itu.
Aku akan berhenti mengaguminya.
Mulai saat ini, saturnus hanya akan jadi planet biasa dalam tata surya seperti sebelum sebelumnya.
Sebab, akhirnya aku sadar.
Semua berhak untuk dapat yang lebih baik, tapi tidak bisa dapat yang sempurna.

semua selalu berhak untuk menentukan pilihan mereka. termasuk opsi melupakan atau terus termakan sakit hati. aku akan menjalani hidupku kembali, seperti saat dimana semuanya baru akan dimulai. seperti masa dimana belum ada pertemuan itu, dan tidak banyak kecewa yang menggantung di udara.

semua akan baik-baik saja selama aku masih punya aku. ya, aku hanya butuh diriku sendiri. bukan kamu, dan bukan siapapun. tidak akan berubah dan akan terus seperti itu.



.




 

 

 

 

aku punya cara sendiri untuk berduka.
dan setiap orang berhak punya cara masing-masing untuk melakukannya.

- funiculi funicula hal 140.

Komentar

  1. curiga gw ini mereka beneran meet up, soalnya komen di postingan sebelah blg begitu

    BalasHapus
  2. 2020 mengawali semuanya, terimakasih palakk!1!1!1!!

    BalasHapus
  3. Aku dapet spoiler gara gara lewat di TL twitterr HaHa

    BalasHapus

Posting Komentar

hai, kamu tetap bisa komentar tanpa harus punya akun loh. ayo tinggalkan jejak dengan mengirim pesan sebagai anonim sekarang!!