Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2021

l i m a

Mungkin saja, jika ku putuskan malam itu untuk tidak pernah menjawab pesan mu, kita tidak akan pernah secanggung ini saat berjumpa. Hm lebih tepatnya saling lirik saja. Meskipun aku masih menyimpan banyak keraguan soal kamu nyata atau tidak. Bagaimana aku bisa percaya bahwa manusia aneh sepertimu itu benar-benar nyata, jika semua yang kamu lakukan selalu saja berhasil mengagetkan. Semua ulah mu, apa saja yang kamu perbuat pasti akan berujung dengan kalimat “Mars.. Kamu beneran?”  Aku masih tidak bisa percaya, tuan. Bahkan sekeras apapun kamu berusaha untuk meyakinkan. Kejutan kejutan yang sudah kau susun rapi, terlalu mulus masuk di imajinasi ku yang sudah kacau balau memikirkan tentang mu. Bisa-bisanya empat hari setelah pensi itu, kamu menunjukkan wajahmu. Tersenyum. Boleh ku katakan kamu seorang penjahat sekarang? Mencuri semua isi kepala ku. Membawanya lari ke suatu tempat tanpa memberi tau dimana kau letakkan semua rencana gila mu. Memperkenalkan diri sebagai Mars yang pendiam...

terbang ke saturnus : singgah engga sungguh

Kadang, kita butuh waktu buat bisa nenangin diri. Entah itu self reward dengan cara tersendiri, atau justru malah pergi dengan cara melarikan diri. Engga semua orang punya cara yang sama, ya karena mereka punya masalah yang beda.  Suatu hari, pernah waktu itu saya dan dia membicarakan masalah apa serunya kabur.  Melarikan diri dari rumah yang orang selalu ngira bakal susah untuk balik lagi. Padahal, kabur adalah kegiatan sehat kalau dilakukan dengan batasan tertentu. Asal kita ngerti waktu, dan tau kapan bakal kembali.  Kabur adalah kegiatan menyelamatkan diri sendiri, dari masalah yang terlalu berat buat dihadapi. Jadi kabur dulu, meski kabur ga selalu menyelesaikan masalah, paling ngga. Kabur ngajak diri sendiri buat istirahat dulu.  “lu pernah kabur?” Telepon ke sekian kalinya di minggu ini. Jika sempat, dia akan menagih utang untuk membacakan puisi saya padanya sebagai pengantar tidur. Tidak seperti manusia itu, dia bahkan tidak tau saya membuat banyak puisi untu...

terbang ke saturnus : terlanjur terlalu bergantung

“sebentar faa, cuma sebentar” Panas terik membuat keringat mengucur dari jidat. Tengah hari yang begitu menggosongkan kulit. Ini magang hari ke dua. Di tengah saya mengerjakan tugas saya, nomor itu masuk menjadi deretan angka tak bernama. Angka yang cukup saya tau siapa pemiliknya. Sembilan satu ujungnya.  Ketika saya terima panggilan telepon itu, maka suaranya menjadi pembicara di ujung sana. “lima menit saja” Dia hanya mencoba memperbaiki apa yang salah kemarin, faa.   “apa kabar fal?” Pertama kali mendengar suaranya setelah sekian lama, mungkin dia kira saya akan menolak teleponnya. Tapi, situasi dimana kami udah ngga kayak dulu lagi, emang kayaknya lebih baik saya dengar cerita dia kali ini. “baik faa, gw sehat. Lu gimana?” Masih saja. Masih seperti itu. Sebutan Lu-gua ga bisa lepas dari kebiasaannya. Gapapa. “agak cape dikit. Lu ada perlu apa, ngapain nelpon?” Dia diam.  Saya berteduh. Nungguin dia diam ngga cukup lima menit. Saya menghembuskan nafas agak keras, biar...